Archive | Recommended RSS feed for this section

Cream-Me: Andalkan Produk Makanan Kreatif

Banyak orang yang tinggal di kota besar seperti di Jakarta memang sudah cukup familiar dengan jenis makanan dan minuman yang memiliki citarasa yang creamy. Hal ini tentu tidak lepas dari kemajuan industri makanan dan minuman yang kemudian banyak mengenalkan jenis-jenis makanan dan minuman bercitarasa creamy tersebut. Jennifer Octavia yang akrab disapa Jennifer ini rupanya turut melihat hal tersebut sebagai peluang yang dapat diproses kembali menjadi sebuah bisnis.
Jennifer sendiri mengakui bahwa ia menggemari makanan yang bercitarasa creamy. “Saya juga hobi masak, pengaruh dari Ibu saya yang sangat piawai dalam memasak dan membuat kue. Ibu saya juga pernah memiliki toko kue, sebelum akhirnya ditutup karena memutuskan untuk fokus di pelayanan Gereja,” buka Jennifer. Bakat memasak memang rupanya menurun dari sang Ibu.

Saat mencoba berbagai makanan di berbagai restoran, Jennifer beberapa kali menemukan citarasa makanannya masih kurang creamy. Jadi, ia memutuskan mencoba untuk belajar membuatnya di rumah dengan citarasa yang ia inginkan. “Saat menawarkan kepada teman-teman saya, rupanya mereka menyukainya dan memberi saran supaya saya menjadikannya ini bisnis. Tanggapan keluarga juga positif,” jelas Jennifer.

September 2011 menjadi awal peruntungan Jennifer berbisnis makanan dengan cara penjualan online. “Saya ingin brand image building dulu serta melihat tanggapan pasar akan bisnis yang saya buat. Penjualan lewat online, saya nilai cukup baik untuk memasarkan produk bagi pengusaha baru seperti saya karena dapat menjangkau pembeli yang lebih luas serta minim biaya sehingga tidak terlalu beresiko ketika baru memulai bisnis,” kata lulusan Food Technology – Universitas Pelita Harapan, Jakarta ini.

Konsep Makanan yang Creamy
Produk yang dijual Jennifer memang belum banyak. “Sampai saat ini masih fokus menjual 3 produk saja, seperti Lasagna, MacCheese atau macaroni & cheese serta Coconut Pudding atau puding kelapa. Karena permintaan beberapa teman dan pelanggan setia untuk menjual dessert yang creamy, crème brulee akhirnya saya pilih sebagai menu baru yang ada di Cream-Me,” papar Jennifer.

Melihat nama-nama produk yang ada di Cream-Me, pada awalnya tentu berpikir, tidak ada yang terlalu spesial atau kreatif. Tapi, ketika mengetahui kesinambungan konsep awal maupun berani mengambil konsep yang berbeda serta mencicipinya baru terlihat kreatifitas Jennifer dalam olahan produk-produk yang ia buat. Macaroni cheese yang ditawarkan oleh Jennifer berbeda dengan macaroni cheese kebanyakan. “MacCheese yang saya buat tidak bisa rapih jika dipotong, karena konsepnya adalah creamy MacCheese jadi cara makannya adalah disendoki, mengingat teksturnya yang creamy dan tidak padat,” jelas Jennifer. Memang, beberapa macaroni panggang yang banyak dijual dapat dipotong rapih dengan pisau, menunjukkan teksturnya yang lebih padat.

Jennifer mengakui tanggapan para pelanggannya cukup positif, dilihat dari omzet yang menurutnya dapat naik saat mendekati momen-momen khusus seperti Lebaran, Natal dan Tahun Baru serta Imlek. “Produk-produk yang saya jual ternyata diminati oleh beragam kalangan dan usia. Padahal awalnya fokus target market saya adalah usia 19-30 an, tapi setelah berjalan justru pelanggan setia datang juga dari usia remaja maupun yang lebih dewasa. Bahkan banyak Ibu muda yang sengaja membeli karena permintaan anak-anaknya yang masih kecil,” ungkap Jennifer.

Coconut Pudding yang Jadi Favorit
Meskipun konsep keseluruhan adalah citarasa makanan yang creamy, namun Jennifer mengakui ia tidak akan menutup kemungkinan hadirnya konsep produk berbeda jika hal itu diminati oleh pangsa pasar yang ada. “Contohnya produk Coconut Pudding ini yang bukan olahan dengan rasa dan tekstur creamy, namun rasanya cenderung segar dan teksturnya lembut,” kata Jennifer.

Coconut Pudding yang ada di Cream-Me memang berbeda dari puding kelapa yang banyak dijual di pasaran. “Coconut Pudding dalam batok kelapa memang masih sedikit yang menjualnya di Jakarta. Saya melihat ini sebagai peluang pasar, karena itulah saya mencoba kembali berkreasi menciptakan resep yang tepat untuk puding kelapa yang disajikan dalam batoknya. Dan ketika mengeluarkan produk ini, saya kerap memberikan sample untuk pelanggan setia dan kembali mendapat tanggapan yang positif. Karena tampilannya yang unik serta citarasanya yang segar, coconut pudding ini menjadi salah satu produk favorit yang ada di Cream-Me,” kata Jennifer.

Jennifer mengakui ia memakai jenis kelapa bakar dari Thailand, karena ia menginginkan air kelapa di dalamnya yang rasanya lebih manis untuk kemudian diolah menjadi puding. “Baru selanjutnya saya masukkan kembali dalam batoknya hingga puding mengeras,” jelas Jennifer. Coconut Puddingnya sendiri hadir dalam varian original dan nata de coco dengan pengemasan yang dilakukan dengan cara melapisi keseluruhan batok kelapa mempergunakan plastic wrap lalu dibungkus plastik kemasan berlogo Cream-Me sehingga aman ketika didelivery. Pembelian 2 buah disebut Jennifer sebagai pembelian minimal Coconut Pudding tersebut yang dilabeli dengan harga satuan Rp.30.000,-. “Saya tidak ingin memberati pelanggan yang mungkin tidak ingin membeli terlalu banyak atau hanya ingin sekedar mencoba dulu,” pungkas Jennifer.

twitter.com/CreamMe_Enough

Comments { 0 }

Red Tomato Express Bintaro: Italian Pizza Resto yang Berfokus Pada Pelayanan Pesan Antar

Satu lagi restoran Pizza yang mengusung konsep delivery atau jasa pesan antar hadir di Jakarta. Red Tomato sebenarnya sudah dikenal cukup lama lewat konsep restorannya yang terlebih dulu hadir di Plaza Indonesia. “Khusus Red Tomato Express, kami memang mengutamakan pelayanan pesan antar bagi para pembeli, meskipun tidak tertutup untuk pelanggan yang ingin santap di tempat. Saat ini cabang Red Tomato Express ada di Tanah Abang dan Boulevard Raya Kelapa Gading serta yang terbaru hadir di sektor 9 Bintaro sejak 9 November 2012 lalu,” buka Iskandar, Area Manager Red Tomato Express.

Menurut Iskandar, masing-masing cabang melayani pembeli dari daerah yang sama ataupun berdekatan. “Target market kami khusus cabang Bintaro adalah warga di perumahan sekitar Bintaro, kantor dan sekolah-sekolah yang ada di area ini, Dan, karena jenis makanan yang kami tawarkan adalah pizza, pasta dan menu nasi yang sudah cukup disukai masyarakat Indonesia, jadi selama ini pelanggan kami datang dari berbagai usia seperti remaja, dewasa maupun keluarga,” kata Iskandar.
Red Tomato Express cabang Bintaro punya 2 lantai yang dikhususkan bagi pelanggan yang ingin bersantap di tempat. Ada kid’s area di lantai 2 yang memberi ragam permainan serupa mini playground. Ruangan smooking pun terletak di lantai 2 tetapi ada di luar ruangan sehingga tidak menganggu pelanggan lainnya yang berada di area non smooking.

Konsep Pizza ala Italia yang Segar
Pizza ala Italia yang dibuat mendadak dengan hasil kulit yang tipis (crusty) ala Italia memang menjadi pilihan Red Tomato Express. “Kelebihan dari pizza kami adalah kami menggunakan adonan kulit pizza segar, jadi bukan produk yang dibekukan. Ini menjamin kesegaran citarasa pizza kami. Selain tentunya pilihan ragam isian atau topping yang juga bervariasi,” papar Iskandar.

Bicara tentang konsep pizza ala Italia, Iskandar mengakui bahwa hal itu menjadi visi dari Red Tomato termasuk Red Tomato Express. “Memang konsep resto yang menawarkan pizza ala Italia bukan konsep baru. Tapi, kami ingin membuat jenis pizza ini lebih familiar lagi di kalangan masyarakat kota Jakarta. Dan dengan pelayanan pesan antar agar lebih memudahkan para pelanggan dalam menikmati sajian dari Red Tomato,” ungkap Iskandar.

Cream Funghi yang Jadi Favorit
Membuat pizza yang lezat karena pilihan isian yang tepat bukan pekerjaan mudah. Setiap restoran pizza tentunya punya ciri khas masing-masing yang diwakilkan melalui kreasi pizzanya. Begitu juga dengan Red Tomato Express yang berani membuat kreasi untuk kepuasan pelanggannya. “Kami punya Dynamite Pizza Series, seperti Meat Monster yang memakai campuran isian habanero chilli segar yang diiris. Habanero chilli ini adalah cabai terpedas di dunia, lebih pedas dari cabai jalapeno. Alasan kami membuatnya karena menurut kami masyarakat Indonesia termasuk di Jakarta cenderung menyukai citarasa pedas. Tentunya, sajian yang memakai potongan habanero chilli hanya cocok dikonsumsi bagi pembeli yang menyukai citarasa pedas,” papar Iskandar.

Jangan khawatir jika anda bukan penyuka pedas, karena Red Tomato Express punya variasi pilihan topping lainnya. “Cream Funghi Pizza adalah sajian pizza favorit di Red Tomato Express. Ada juga pilihan lainnya seperti speciality pizza maupun meet the meat yang memakai unsur daging-dagingan seperti pepperoni dan sebagainya,” kata Iskandar. Cream Funghi Pizza yang memakai isian sederhana berupa potongan jamur segar, cream dan keju mozzarella memang mudah dinikmati oleh banyak kalangan.
“Kami juga memakai pizza oven khusus sesuai standar pemanggangan pizza yang benar untuk menjamin keseluruhan citarasa pizzanya sehingga sesuai dengan citarasa dan tekstur pizza ala Italia,” jelas Iskandar. Pizza yang tersedia di Red Tomato Express hanya pizza regular berukuran sekitar 10 inchi yang pas disantap untuk 2-3 orang. “Saat ini pizza kami yang berukuran lebih besar dari regular atau family hanya tersedia untuk dine –in di Red Tomato Plaza Indonesia saja,” kata Iskandar.

Menu Pasta dan Nasi
“Selain menu pizza, kami juga menghadirkan ragam pasta dan nasi serta appetizer yang kami sebut side kicks. Keputusan kami menghadirkan menu pasta karena sajian ala Italia ini juga sudah populer dan disukai masyarakat kita. Untuk menu nasi dari mulai chicken teriyaki, five spice bbq chicken hingga salmon teriyaki kami hadirkan karena masyarakat Indonesia sudah dikenal sebagai penyuka sajian yang memakai nasi. Yang istimewa untuk hidangan yang menggunakan ayam, kami menggunakan probio chicken sehingga sisi kesehatannya lebih terjamin,” papar Iskandar.

Untuk pastanya, Iskandar menjelaskan bahwa para pelanggan Red Tomato Express sangat menggemari Spaghetti Marinara, Fussili Chicken Mushroom dan Basil Pesto Chicken Fussili racikan tim dapur Red Tomato Express. Sajian pasta di Red Tomato Express terbilang istimewa, karena citarasa pastanya gurih alami dengan paduan isi serta bumbu yang tepat. Menurut Iskandar, pastanya sendiri direbus dalam kuah kaldu ayam sampai al dente sehingga rasa gurihnya alami.

Selain menu makanan, Red Tomato Express juga menyajikan menu minuman yang cukup beragam mulai dari aneka teh, soft drinks hingga minuman kopi seperti Coffee Mocha, Affogato hingga varian Ice Blended. Red Tomato Express buka setiap hari dengan jam buka mulai pukul 10 pagi hingga jam 10 malam berlaku juga di akhir pekan. “Last order kami untuk pelayanan pesan antar adalah jam 21.30,” tutup Iskandar.

Ruko Elite Bintaro 1 kav.13 Sektor 9 Jl. Jombang – Tangerang

Comments { 0 }

Pad @28 Bar: Bistro and Coffee Corner, One Stop Service Untuk Makanan dan Hiburan

Memadukan kenyamanan, menu yang beragam dan juga berfungsi sebagai sarana mencari pusat hiburan dalam satu konsep bukan perkara mudah. Namun ketiga unsur tersebut dapat diwujudkan dengan baik oleh Pad @28, sebuah bar, bistro dan coffee corner yang berlokasi di kawasan Tulodong, dekat dengan pusat bisnis Sudirman Central Business District (SCBD). Pad @28 terdiri dari 3 lantai dibuat dengan tata ruang yang berbeda di tiap lantainya sehingga menciptakan suasana yang berbeda-beda memanjakan keinginan pelanggannya. Menu yang dihadirkan pun lebih bervariatif mulai dari western hingga menu khas Indonesia dapat dipilih oleh pelanggan yang datang.

Sekilas bila dilihat bentuk bangunan @Pad 28 tidak mencerminkan bahwa tempat ini merupakan sebuah tempat makan. Bahkan Miza Widodo, Operational Manager Pad 28 mengakui bahwa banyak pelanggan mengira bahwa Pad @28 adalah sebuah rumah. Bagi Miza ini tidak menjadi suatu masalah, karena memang suasana yang ingin dibangun oleh @Pad 28 adalah kenyamanan layaknya sedang ada di rumah. “Pemilik @Pad 28 sepulang dari Amerika ingin sekali membuat sebuah tempat makan dengan suasana rumah. Pad sendiri artinya rumah, jadi @Pad 28 seakan mengajak pelanggan yang datang untuk main ke sebuah rumah bukan sebuah tempat makan,” ujar Miza.

Berbagai Konsep di Tiap Lantai
Kenyaman merupakan kesan pertama yang ingin disampaikan @Pad 28 kepada pelanggannya. Terbukti dengan lantai 1 yang dibuat dengan konsep living room dimana ada sebuah bar utama, taman dan juga coffee corner. Semakin diperkuat lagi dengan penataan interior yang rapi dan beberapa sudut pun menawarkan sebuah suasana yang lebih pribadi bagi pelanggannya. “Jadi ketika pelanggan baru datang dan buka pintu, langsung disambut dengan suasana layaknya sebuah tempat tinggal,” ujar Miza.

Aksesoris di interiornya pun dibuat sesantai mungkin, seperti terlihat di tangga menuju lantai 2, foto-foto keluarga pemilik @Pad 28 mengisi dinding berwarna coklat. Berbeda dengan di lantai 1, di lantai 2 tempatnya lebih ke arah dining area. Di lantai 2 ini memang dikhususkan bagi pelanggan yang benar-benar ingin menikmati suasana makan yang santai baik itu bersama keluarga ataupun dengan kerabat.

Suasana yang jauh berbeda pun didapatkan saat pelanggan berada di lantai 3. Di lantai ini memang dikhususkan untuk pelanggan yang ingin menikmati hiburan-hiburan yang disajikan @Pad 28. Mengusung tema Nook & Cranny, lantai 3 merupakan sebuah lounge yang penuh dengan entertainment dan hanya dibuka setiap rabu hingga sabtu saja. “Setiap Rabu dan Kamis selalu ada live music, sedangkan saat hari Jumat dan Sabtu @Pad 28 menghadirkan Disc Jockey (DJ),” jelas Miza.
Ketiga lantai ini ingin memberikan pilihan ke pelanggan yang datang bahwa di tempat ini tidak hanya bisa sebagai sebuah tempat untuk makan, tetapi juga sebagai tempat mendapatkan hiburan di Jakarta. Ketiga lantai ini pun merupakan buah dari hasil pemikiran pemilik yang digabung menjadi satu. ““Ketiga lantai restoran ini memang dibuat dengan nuansa berbeda. Karena kami ingin sekali menyatukan pendapat dan usulan dari beberapa pemilik kami. Hingga akhirnya suasana nyaman seperti ini kami dapatkan.” jelas Miza.

Menu Western dan Tradisional Indonesia
Konsep ruangan yang kuat pun semakin lengkap dengan sajian aneka menu dari Eropa maupun Amerika. Tidak lupa pula dihadirkan menu khas Indonesia seperti Garang Asam, Soto Ayam dan Sop Buntut. Adapula menu khas Indonesia yang digabung dengan Nasi Goreng Jojo Steak yang merupakan perpaduan antara nasi goreng khas Indonesia dengan daging steak yang diimpor langsung dari Amerika.

Sebagai pilihan untuk menu penutupnya, @Pad 28 pun memiliki ragam menu yang cukup unik. Apple Crumble to Share, Espresso and Vanilla crème Brulle juga Deconstructed Tiramisu merupakan menu penutup yang menjadi andalan di @Pad 28. Deconstructed Tiramisu menjadi menu yang kerap menyita perhatian dari para pelanggannya. Bentuknya berbeda dibanding tiramisu lainnya, dimana tiap bagian tiramisu seperti kopi, keju mascarphone dan sponge cake diletakan terpisah. Sponge cake sebagai dasar kemudian ditengahnya diisi Coffee Jelly dan Mascarphone diletakan di pinggir hingga menyerupai sebuah candi
Sebagai salah satu bentuk pelayanan kepada pelanggannya, berbagai menu ini pun harus melalui pengawasan standar kualitas yang ketat. Sehingga nantinya kenyamanan pelanggan terhadap suasana, bersinergi dengan kenyamanan pelanggan dalam menikmati kualitas rasa yang baik. “Semua menu makanan di @Pad 28 ini memiliki standar recipe jadi lebih konsisten dan tidak akan berubah dari waktu ke waktu. Kami sangat menjaga standarisasi kami karena kaitannya juga terhadap kenyamanan pelanggan yang datang” pungkas Miza.

Jl. Tulodong Atas 28 Jakarta

Comments { 0 }

Chocomory: Cokelat Asli Indonesia, Kualitas Eropa

Indonesia merupakan negara penghasil biji cokelat nomor 3 terbesar di dunia. Namun, banyak orang yang salah kaprah dan beranggapan bahwa biji cokelat yang berkualitas berasal dari negara Belgia, Swiss, atau Belanda. “Perlu dijelaskan di sini bahwa Belgia bukanlah negara penghasil biji cokelat melainkan mereka hanya negara pengolah cokelat. Mengingat tanaman cokelat hanya bisa tumbuh di negara beriklim tropis bukan di negara 4 musim,” ujar Heni Purwati, Head of Production Chocomory.
Atas dasar itulah, Axel Sutantio membuat Chocomory, sebuah toko cokelat yang berada di Restoran Cimory Riverside, Puncak Bogor untuk mengedukasi masyarakat mengenai cokelat, mulai dari asal usul hingga produk jadinya. “Di Indonesia sendiri, tanaman cokelat yang berkualitas tumbuh di daerah Sulawesi. Oleh karena itu, cokelat yang digunakan oleh Chocomory berasal dari biji cokelat Indonesia yang dikirim ke Belgia untuk diolah lebih lanjut,” ujar Heni.
Bagi para penikmat cokelat, Chocomory merupakan tempat yang pas untuk berburu cokelat khas Belgia. Di sini pengunjung yang datang tak hanya dimanjakan dengan produk yang berkualitas namun juga dapat melihat langsung proses pembuatan cokelat.

Pengetahuan Dasar Mengenai Cokelat
Secara umum, satu biji cokelat/kakao dapat menghasilkan 3 produk yaitu cocoa butter, cocoa liquor, dan cocoa powder. Dari ketiga hasil olahan biji cokelat tersebut, yang paling mahal harganya adalah cocoa butter. Di negara berkembang seperti Indonesia, mereka biasanya mengganti cocoa butter dengan cocoa butter substitute (CBS) atau cocoa butter replacer (CBR) yang bisa didapatkan dari biji bunga matahari, kacang kedelai, atau minyak kelapa sawit tergantung dari sebarapa rendah biaya yang diharapkan.

Oleh sebab itu, cokelat dapat dibagi menjadi 2 yaitu real chocolate atau disebut dengan couverture yang mengandung 32-39% cocoa butter dan compound yang terbuat dari CBS atau CBR. Cara membedakannya mudah, ketika cokelat menempel di lidah dan meleleh di mulut itu dinamakan couverture karena cokelat ini akan meleleh di atas suhu 27oC – 32oC. Sedangkan compound baru akan meleleh di suhu 34.oC sehingga compound lebih tahan di iklim tropis.

Untuk menghasilkan produk cokelat yang bagus, biji cokelat juga harus melalui proses fermentasi. Cara fermentasinya mudah, biji cokelat cukup ditutup dengan daun pisang. “Daun pisang memiliki aroma yang khas dan saat ditutup dengan daun pisang akan berdatangan serangga kecil berterbangan di atasnya yang juga akan membantu proses fermentasi,” jelas Heni.

Chocomory Factory
Cokelat yang biasa digunakan adalah cokelat koin agar lebih mudah dilelehkan dan mengefisienkan waktu produksi. Mula-mula cokelat koin dimasukkan ke dalam mesin melting chocolate untuk dilelehkan. “Mesin melting chocolate berisi air dengan suhu 40oC – 50oC dan memiliki double jacket, sehingga panas yang dihasilkan tidak langsung mengenai cokelat. Setelah meleleh suhu cokelat akan menjadi 40oC, sedangkan suhu ideal untuk mengolah cokelat adalah 27oC – 32oC (tempering temperature) sehingga suhu harus diturunkan. Jika terlalu panas saat dimasukkan ke dalam cetakan akan timbul bintik-bintik pada cokelat karena lemak pada cokelat masih panas sehingga akan menimbulkan fat bloom. Namun juga tidak boleh terlalu dingin karena akan undertemper,” jelas Heni.

Keberadaan pabrik cokelat ini juga menjelaskan bahwa cokelat yang dijual oleh Chocomory merupakan cokelat fresh yang bisa ditemukan di Indonesia. “Mengingat cokelat-cokelat di sini dibuat langsung dan ‘made to order’, artinya cokelat dibuat sesuai dengan permintaan harian dari toko,” jelas Heni.

Jenis-Jenis Cokelat di Chocomory
Chocomory menjual aneka macam cokelat, mulai dari Chocolate Bar, Chocolate Covered, Praline, dan juga Countline atau yang dikenal sebagai Chocolate Snack. “Produk yang menjadi andalan kami adalah Chocolate Covered Almond Crunchies yaitu butter toffee almond yang dicoating dengan milk chocolate. Di dalamnya juga terdapat Almond Crunchies yang terbuat dari resep rahasia serta terinspirasi dari sebuah tipe cokelat dari Swedia. Resep ini memiliki kelezatan almond serta kerenyahan cokelat yang cocok dengan lidah orang Indonesia,” jelas Heni.

Sebagian besar cokelat yang diproduksi Chocomory berbahan dasar milk chocolate. “Namun setelah kami melakukan survey ke beberapa pengunjung, milk chocolate lebih digemari oleh anak – anak, sedangkan untuk orang dewasa lebih memilih dark chocolate,” ujar Heni. Iapun menuturkan penjualan produk Chocomory eksklusif tersedia di Chocomory Shop sehingga tidak dapat ditemukan di tempat lain.

Fun University
Sebagai sarana edukasi, Chocomory juga berencana membuat konsep yang dinamakan Fun University untuk mengajarkan kepada masyarakat mengenai pengolahan cokelat. “Biasanya orang membeli cokelat hanya mengenal produk jadinya saja, tanpa tahu cara membuatnya seperti apa. Di sini masyarakat diajak untuk mengenal lebih dekat dengan proses pembuatan cokelat dari awal hingga akhir.” ungkap Heni.

Diharapkan pertengahan tahun ini, proyek Fun University dapat segera terealisasikan. “Produk Indonesia itu sebenarnya banyak yang berkualitas namun cara pengolahannya saja yang masih kurang. Di sini kami lebih menitikberatkan untuk pengunjung anak-anak, karena apabila sedini mungkin mereka sudah mendapat penjelasan, maka mereka akan cepat mengerti sehingga ke depannya akan lebih menghargai produk dari Indonesia,” pungkas Heni.

Cimory Riverside, Jl Raya Puncak 415 Cisarua-Bogor, Jawa Barat

Comments { 0 }

Cream-Me: Relying on Creative Food Products

People who live in big cities like Jakarta presumably are already familiar with the types of foods and beverages that have creamy taste. It is certainly cannot be separated from the advancement of foods and beverages industry, which then introduces many kinds of creamy foods and beverages. Jennifer Octavia, familiarly called Jennifer, saw that fact as a great opportunity to initiate a new business.

Jennifer herself admitted that she is fond of foods that have creamy taste. “I like cooking as a good influence of my mother who is very good at cooking and baking. My mother once had a cake shop before she decided to close the shop and focus on church services,” Jennifer opened. Cooking and baking talent is apparently derived from her mother.

When trying a variety of foods at various restaurants, Jennifer mostly found the food less creamy. So, she decided to learn to make it at home with a flavor she wanted. “When I offered my friends the food I made, they liked it and suggested me to make it a business, and family’s response also positive,” said Jennifer.

September 2011 was the beginning of Jennifer’s fortune in food business by way of online selling. “I want to build a brand image first, and see how markets respond to my product. I think, selling the products online is a pretty good way to market the product, especially for the new entrepreneur like me because it can reach a broader market, as well as to minimize the cost, so that it is not too risky for a new business,” said Jennifer, who is a Food Technology graduate of Pelita Harapan University (UPH), Jakarta.

The Concept of Creamy Food
The amount of Jennifer’s product is still limited. “Up until now, the focus is still on selling three products, such as Lasagna, Mac Cheese, and Coconut Pudding. Due to the demand from some friends and loyal customers to sell a creamy dessert, Crème Brulee is finally chosen as a new menu at Cream-Me,” explained Jennifer.

Seeing the names of Cream-Me’s products, we may first think that nothing too special or creative. But, after knowing the sustainability of the initial concept and the courage to take different concept, and of course the taste of the products, we would see Jennifer’s creativity in the product she offers. The macaroni cheese of Cream-Me is different with most of macaroni cheese found in the market. “The Mac Cheese I make cannot be cut neatly, because the concept is creamy Mac Cheese, so we need to use spoon to eat them considering the texture of the product that is very creamy, not dense,” said Jennifer. Indeed, some macaroni cheese sold in the market can be cut neatly indicating a more dense texture.

Jennifer admitted that her costumers give positive responses, seen from the omzet Rp.15.000.000-Rp.20.000.000 per month which could rise when approaching the special moments such as Eid, Christmas, and New Year and Lunar New year. “The products I sell are apparently enthused by various circles and ages, though my initial focus was aged from 19 to 30. After a while, loyal customers also come from teenagers and/or older. Even many young mothers buy the product as the request from their children,” said Jennifer.

Coconut Pudding is a New Favorite
Although the overall concept of Cream-Me is the creamy flavor of the food, but Jennifer admitted that she would not preclude the possibility of the presence of a new different concept if it is the market demand. “For example, this Coconut Pudding doesn’t have creamy flavor and texture because it is made of 100% coconut water without any mixture of milk, it tastes fresh and soft in the texture,” said Jennifer.

Coconut Pudding in Cream-Me is different with coconut pudding sold in the market. “Coconut Pudding in coconut shells has not been found yet quite easily in Jakarta. I see this as a market opportunity, that’s why I tried to re-create the right recipe for coconut pudding served in coconut shell. And when I first issued this product, I often gave samples for loyal customers, and again, I received positive responses. Because it looks unique and has a fresh flavor, coconut pudding has become one of the favorite products in the Cream-Me, “Jennifer said.

Jennifer said that she uses Thai roasted coconut, because she wants the coconut water in it that tastes sweeter, processed into pudding. “I put it (processed coconut water) back in the shell until it hardens,” explained Jennifer. Jennifer’s Coconut Pudding comes in two variants, namely Original and Nata De Coco. For packaging, the product is packed by coating the whole coconut shell using plastic wrap, then wrapped in plastic with the Cream-Me logo in it so the product is delivered safely. The minimum purchase product for Coconut Pudding is 2 (two), which is labeled Rp.30.000,- for each. “I don’t want to overwhelm the costumers who may not want to buy too much or who just want to try it first,” closed Jennifer.

twitter.com/CreamMe_Enough

Comments { 0 }

Bakerzin: ‘Fine Dining Cafe’ in Indonesia

Indonesian people are certainly familiar with Bakerzin. Bakerzin is a café with dessert café casual dining concept that now has 12 outlets across Indonesia. This restaurant under the Boga Group is a franchise from Singapore. “Ten years ago, it was very difficult to find a café with dessert/high quality dessert. That was the basis for Daniel Tay, owner of Bakerzin to expand his business in Indonesia,” said Yap Chern Chee, General Manager and Executive Chef of Bakerzin.

In accordance with his conjecture, Daniel saw Indonesian market’s potential, Bakerzin is currently growing rapidly and along the way Indonesian people are able to appreciate dessert more. “We have been aggressively introducing Bakerzin in Indonesia for 10 years and the Indonesian people are seemingly appreciating the dessert as their lifestyle. It is proven by the courage of our customers to pay more for a dessert although the price is equivalent to the main course,” said Chern Chee.

Dessert Cafe Casual Dining Concept
In order to indulge their customers, Bakerzin uses new concept named dessert café casual dining. “When we opened Bakerzin for the first time, we focused only on café without selling main course. Seeing the growing of competitors, we finally decided to bring a new trend in café by providing a variety of menu that used to exist in the fine dining restaurants such as pasta, salads, pizza, and some rice menus, “said Chee Chern.

This becomes an added value for Bakerzin compared to other cafes that currently mushrooming in Indonesia. “The cafe basically just provides the coffee menu without any additional menus like provided in the restaurants. However, we are here to fulfill the community needs for all of it. The customers who come here can enjoy the layers of the menu, ranging from appetizers, main course, to dessert. This is called lifestyle, “said Chern Chee.

Chern Chee also explained the differences between Bakerzin in Indonesia and Singapore. “In Indonesia, we don’t provide a menu with pork because the majority of Indonesian people are Muslim. But for signature dessert in Indonesia and Singapore are approximately the same,” said Chern Chee.

Best Seller Menu at Bakerzin
With the concept of cafe as well as fine dining, Bakerzin certainly has an assortment of flagship menu. Fois Gras Crème Brulee is one of the appetizer menus at the Bakerzin pride. “There is no cafe in Indonesia that provides goose liver menu like this except for the fine-dining restaurant. For café only Bakerzin,” said Chern Chee. Fois Gras Crème Brulee served with brioche and onion marmalade and at the top of it sprinkled special salt from France to get more tasty taste.
Bakerzin also has several variant menus of soup and salad, such as Corn Soup, Mushroom Soup, Caesar Salad, Pear Salad, Salmon Salad; pasta variants, namely Seafood Pasta, Penne In Smoked Beef & Beef Bacon, Spaghetti with Meatballs, Aglio Olio Spaghetti, Arrabiata Spaghetti; and also variant of Sandwiches Bruschetta, Pizza, and Small Bites.

For the main course, the most requested by customers in Indonesia is Nasi Goreng Buntut (Oxtail Fried Rice). “I don’t know why Nasi Goreng Buntut becomes the favorite in Bakerzin. But the most popular menu in Bakerzin, yes, indeed, Nasi Goreng Buntut,” he said with a laugh. Personally, Chern Chee said that his most preferred menu in Bakerzin is Duck Confit Pasta, the pasta menu that uses meat and duck fat which has soft texture.

For the dessert, Bakerzin provides a variety of cake menu such as Classic Chocolate Cake, Strawberry Short Cake, Red Velvet, Chocolate Fruity, and for the best selling item, there is Warm Chocolate Cake. This menu was initially popularized by Bakerzin, which later then became a trend and now commonly called Chocolate Lava Cake,” said Chern Chee.

One of the Best Selling: Macaroon
Before macaroon widely known by Indonesian people, Bakerzin has already been providing this cake which is made of meringue. “Now, macaroon is very popular in Indonesia, of which Bakerzin was the first bakery which popularized macaroon in Indonesia,” said Chern Chee. Until now, macaroon of Bakerzin is still high in demand, and considered as one of the best selling products. There are 16 variants of macaroon available in Bakerzin, such as chocolate, blueberry, mango, pistachio, green tea, hazelnut, lemon cheese cake, chocolate orange, and some other flavors.

According to Chern Chee, the best companion to eat macaroon are tea and hot coffee. “Macaroon is made of dairy products so that consuming hot beverages could help to burn fat in the body. To be noted, you should not consume macaroon along with soft drinks because both of them have strong taste that equally dominant,” explained Chern Chee.

When the customers enter the Bakerzin’s outlets, they can see showcase showing ‘beautiful’ dessert menus. “This is our identity demonstrated through the menu and appearance of Bakerzin formed in such a way with the complete concept. In Singapore, if I’m not mistaken, there is no café like this,” Chern Chee closed.

Comments { 0 }

Dapuraya: Gabungkan Warisan Budaya Kuliner Indonesia Dalam Satu Konsep

Kiprah Pasaraya sebagai salah satu pusat perbelanjaan yang mengedepankan budaya Indonesia semakin diperkuat dengan usahanya melestarikan warisan kuliner Nusantara. Melalui Dapuraya, karakter budaya Indonesia semakin lekat dengan Pasaraya. Dapuraya menggabungkan aneka kuliner Indonesia dalam satu konsep layaknya food court. Di tempat yang terdiri dari 55 outlet ini, berbagai menu khas Indonesia mulai dari menu utama hingga menu penutup disajikan lebih elegan dan menarik.

Kehadiran Dapuraya tidak terlepas dari idealisme Pasaraya yang tidak hanya ingin melestarikan budaya Indonesia, tetapi juga sebagai usaha dalam memajukan industri dan Usaha Kecil Menengah di Indonesia. “Pasaraya sendiri merupakan pelopor untuk food court khas Indonesia sejak 38 tahun yang lalu,” ujar Medina L. Harjani, President Director Pasaraya. Seiring berkembangnya zaman dan perubahan gaya hidup masyarakat, membuat Dapuraya turut menyesuaikan konsepnya dengan menambah sisi hiburan didalamnya.

Bagi sebagian besar masyarakat, makanan merupakan bagian dari gaya hidup mereka saat ini. Sehingga sisi hiburan jelas dibutuhkan sebagai penambah daya tarik Dapuraya. Menurut Medina, konsep yang dipegang oleh Dapuraya saat ini dengan menggabungkan rasa, variasi makanan, dan suasana yang nyaman. Dari sisi rasa, Dapuraya menjaga cita rasa menunya dengan rutin melakukan uji makanan dan juga terbuka dengan masukan pelanggannya. “Team Dapuraya rutin melakukan tester sebelum makan siang dan sebelum makan malam,” ujar Medina.

Sedangkan dalam sisi variasi menu yang ditampilkan, Dapuraya bekerjasama dengan pelaku usaha kuliner baik itu kalangan industri dan juga Usaha Kecil Menengah (UKM) untuk mengisi tenant di Dapuraya. “Dapuraya ingin memajukan UKM kecil. Kami juga menghadirkan makanan yang sehat, bersih apalagi makanan sudah menjadi passion bagi masyarakat,” ujar Medina. Demi mengangkat citra menu tradisional Indonesia ke jenjang yang lebih tinggi, Dapuraya mengesampingkan sisi komersil dengan mengedepankan idealisme dalam melestarikan kuliner Nusantara ini.

Kerjasama Dengan Para UKM
Beragam kuliner nusantara dihadirkan Dapuraya dengan didominasi menu jajanan yang sudah terkenal di kalangan pecinta kuliner. Menu seperti Laksa dan Es Mangga Pala khas Bogor, Kupat Tahu dan Ronde Jahe dari Bandung, tahu petis dan Loenpia Semarang dapat dinikmati dalam suasana yang lebih nyaman. Arie Parikesit, Pendiri Kelanarasa yang dipercaya oleh Pasaraya sebagai konsultan dalam mengembangkan Dapuraya mengungkapkan, bentuk kerjasama antara Dapuraya dengan pengusaha UKM untuk menyajikan menunya berdasarkan pada kepercayaan.

“Modalnya hanya kepercayaan, kalau sudah percaya akan muncul komitmen antara kami dan pengusaha-pengusaha kuliner,” ujar Arie. Menurutnya bila kepercayaan sudah tertanam, tidak akan muncul kekhawatiran pengusaha kuliner terhadap keberlangsungan bisnisnya. Medina pun menambahkan bahwa bentuk kerjasama dengan pengusaha yang mengisi tenant di Dapuraya yakni bagi komisi. “Kalau pengusaha kuliner kami bebankan sewa, jatuhnya lebih mahal dan takutnya malah memberatkan mereka. Tentu hal ini tidak kami inginkan karena kami ingin mereka maju juga,” ujar Medina.

Hadirkan Aneka Pastry dan Dessert Nusantara
Tidak hanya pengusaha kuliner dengan menu makanan utama, menu penutup dan bahkan pastry khas Indonesia pun turut dihadirkan di Dapuraya.´”Kami ingin memperkenalkan kembali menu khas Nusantara dan suasana-suasana yang sempat hilang jadi ketika menyebutkan menu tradisional Indonesia masyarakat langsung identik dengan Dapuraya,” ungkap Arie. Aneka pastry khas Indonesia seperti kue putu, klepon dan juga aneka kue basah dapat dinikmati di Dapuraya.

Arie menuturkan Indonesia sebenarnya memiliki banyak macam menu penutup dan juga pastry khas daerah. Pastry dan juga menu penutup Indonesia pun jauh berbeda bila dibandingkan pastry dari Eropa Asia ataupun Amerika. “Pastry Indonesia itu jarang yang memakai tepung terigu, lebih banyak menggunakan tepung beras, tepung kanji. Pemanisnya pun sangat lokal sekali seperti menggunakan gula merah dan ada banyak umbi-umbian seperti ubi, pisang dan kelapa,” ujar Arie.

Agar semakin meningkatkan minat masyarakat terhadap pastry dan kue khas Indonesia, Dapuraya membuat demo tentang pembuatan kue khas Indonesia terhadap anak-anak. Anak-anak sejak dini diperkenalkan dengan cara pembuatan pastry dan kue khas Indonesia, sehingga nantinya paham mulai dari proses hingga pengetahuan tentang kue-kue khas Indonesia. Setelah itu baru diharapkan mereka semakin mencintai pastry dan kue tradisional Indonesia sebagai bagian dari budaya kuliner Nusantara.

Pasaraya Grande Blok M, Lantai LG

Comments { 0 }