Archive | Recommended RSS feed for this section

Herb and Spice Sajian Makanan dengan Aneka Bumbu

Rempah-rempah adalah salah satu harta Indonesia yang paling berharga. Tidak mengherankan jika ada restoran yang mengusung rempah-rempah sebagai tema utama dan Herb and Spice adalah salah satunya. Restoran ini masih merupakan sister company dari Prima Rasa Bakery. “Herb and Spice dibuat untuk melengkapi Prima Rasa yang ada di lantai satu. Berbeda dengan Prima Rasa, Herb and Spice lebih mengusung konsep sebagai tempat nongkrong. Hal ini dikarenakan kami ingin menonjolkan sesuatu yang baru selain produk bakery,” ujar Alvin Theardy, pemilik dari Herb and Spice.

Pemberian nama Herb and Spice diangkat dari basic makanan itu sendiri. “Pada awalnya saya hanya ingin bermain dengan bumbu, dari sanalah timbul ide pemberian nama Herb and Spice dengan banyak menonjolkan makanan yang menggunakan bumbu dan rempah-rempah. Selain itu, kami juga memajang berbagai bumbu dan rempah-rempah sebagai penunjang dekorasi Herb and Spice,” ujar Alvin.

Ratusan Bumbu di Herb and Spice
Bumbu yang digunakan di restoran ini rata-rata berasal dari Indonesia. Hampir semua menu di Herb and Spice menggunakan bumbu sebagai campurannya. Untuk menu western penggunaan garlic, onion, rosemary, tarragon, dan oregano sangat dominan digunakan. Sedangkan untuk masakan Indonesia bawang sudah pasti tak terlewatkan,” ujar Muchlis Ahmad, selaku Operational Manager Herb and Spice. Bumbu dan rempah-rempah tersebut dapat memberikan rasa yang unik. Terdapat pula pasangan bumbu yang identik dengan satu bahan. “Misalnya salmon yang identik dengan penggunaan tarragon atau rosemary yang identik dengan olahan ayam dan steak,” ujar Alvin.

Rempah-rempah dapat dibagi menjadi 2 kategori yaitu dry herb dan fresh herb. “Biasanya dry herb itu lebih tahan lama meskipun aromanya tidak sekuat fresh herb. Dari segi rasa, fresh tetap memiliki rasa yang alami karena pada proses pengeringan rempah-rempah akan membuat rasa dan aroma rempah-rempah memudar,” ujar Alvin. Ia juga mengaku menanam sendiri beberapa jenis rempah-rempah seperti basil, parsley, tarragon, rosemary agar tetap fresh dan setelah dimasak aromanya jauh lebih kuat.

Pizza termasuk salah satu menu favorit di Herb and Spice. “Adonan pizza di Herb and Spice berbeda dengan adonan pizza di tempat lain. Tekstur luar adonan pizza kami kering, tetapi pada bagian dalam masih ada tekstur yang lembut. Jika saat ini ada 2 kategori adonan pizza yaitu adonan tebal dan tipis, kami berusaha untuk berada di tengah-tengah,” ujar Alvin.

Pollo Pesto merupakan menu baru yang langsung digemari oleh pengunjung Herb and Spice. Pizza ini terbuat dari pesto sauce, jamur, grill chicken, dan keju mozzarella yang menggunakan campuran basil, oregano, dan parsley. Ada pula Meat Lover yang terbuat dari tomato sauce, beef bacon, grill chicken, beef barbeque, dan keju mozzarella, yang menggunakan campuran oregano dan parsley.

Selain pizza, ada pula Brioche Salmon Grill yang merupakan menu unik dari Herb and Spice. “Brioche merupakan roti lembut yang dipanggang sehingga bagian luarnya kering dan di dalam teksturnya lembut. Roti tersebut kemudian ditambahkan dengan grill salmon yang dipadukan dengan mix pepper corn, lemon butter sauce, parsley, dan French fries sehingga ketika dimakan ada rasa asam yang berasal dari lemon butter sauce tersebut,” ujar Muklis.

Menurut Alvin, masyarakat Bandung dapat menerima segala jenis makanan. “Di Bandung hampir semua makanan disukai, hanya waktunya yang membedakan. Biasanya di siang hari, pengunjung lebih memilih Indonesian food, seperti Sop Buntut, Rawon, dan Soto Betawi. Sedangkan pada malam hari makanan western banyak dipesan,” ujar Alvin.

Beralih ke minuman, beberapa menu seperti Virgin Mojito dan Bleu Macadamia banyak diincar oleh para pengunjung. “Mojito terbuat dari ada lime, mint, dan soda sebagai pengganti alkohol. Sedangkan Bleu Macadamia, sesuai dengan namanya, terdapat rasa kacang macadamia serta campuran buah-buahan yang membuat rasanya semakin unik,” ujar Alvin.

Strategi Marketing Herb and Spice
Harga makanan yang ditawarkan oleh Herb and Spice disesuaikan dengan daya beli warga Bandung. “Harga yang kami patok di sini tidak bisa terlalu mahal. Berbeda dengan pelanggan Jakarta yang memiliki daya beli lebih tinggi dan keberanian untuk menghabiskan yang lebih banyak demi mendapatkan kualitas. Di Bandung sendiri, hal tersebut tidak dapat kami lakukan sehingga harga harus benar-benar kami sesuaikan dengan kebutuhan pasar. Kami tidak ingin pengunjung hanya sekedar datang untuk mencicipi tanpa kembali lagi ke sini. Oleh karena itu, kami terus berinovasi untuk memberikan sesuatu yang berkualitas tapi dengan harga terjangkau. Itu juga salah satu strategi marketing kami, jadi cukup hanya dengan mengandalkan promosi dari mulut ke mulut.,” jelas Alvin.

Alvin akan terus mengembangkan sayapnya dengan membuka cabang di tempat lain. “Herb and Spice dan Primarasa sebenarnya tidak saling terikat. Itulah yang menjadi alasan kami membedakan nama Herb and Spice dan Prima Rasa. Saya berharap Herb and Spice dapat diterima di masyarakat dan kami dapat membuka cabang terbarunya di Bandung maupun di luar kota Bandung seperti Jakarta,” kata Alvin.

Jl. Pasirkaliki 163, Bandung 40173

Written by Marisa Aryani
Photo by Edwin Pangestu

Comments { 0 }

Nessa Bakery Kaya Akan Kreasi dan Inovasi Cookies

 

Kehadiran cookies di Indonesia tidak hanya sekedar sebagai camilan, tetapi sudah menjadi bagian dari budaya masyarakat Indonesia. Di setiap Hari Raya, cookies merupakan salah satu menu wajib untuk mengisi momen tersebut. Di luar momen tersebut, cookies pun menjadi pilihan untuk menikmati waktu santai baik saat sendiri maupun bersama keluarga. Hingga saat ini, semakin banyak produsen cookies yang melakukan inovasi yang beragam, dan Nessa Bakery adalah salah satunya.

Tidak hanya sebatas rasa, tampilan cookies pun kini menjadi perhatian bagi para konsumennya. “Sudah banyak sekali jenis cookies yang kami produksi. Akhir-akhir ini yang sedang menjadi tren adalah Rainbow Cookies,” ujar Lenny Limiyati, pemilik Nessa Bakery. Walaupun begitu, perkembangan trend cookies hanya sebatas menyambut momen besar agama, sedangkan untuk hari-hari biasa, cookies tradisional tetap menjadi primadona. “Cookies old fashion seperti nastar dan kastengel merupakan produk setiap hari,” ujar baker yang pernah menimba ilmu di Perancis ini.

Nessa Bakery merupakan bakery yang didirikan Lenny pada tahun 1998. Sebagai orang di balik kesuksesan produk cookies Nessa Bakery, Lenny sangat menekankan penampilan pada cookiesnya. “Membuat cookies tidaklah sulit, yang penting kita harus telaten dan rapi karena cookies harus cantik. Salah satu cookies yang paling sulit untuk dibuat cantik adalah American Cookies. Banyaknya bahan baku di dalamnya seperti kacang, cokelat sehingga sulit untuk membentuk cookies tersebut agar cantik,” ungkap Lenny.

Komposisi Butter yang Tepat di Produk Kastengel
Inovasi dan kreasi bentuk boleh berkembang, tetapi untuk resep adonan cookies bagi Lenny tidaklah banyak berubah. “Adonan cookies dari dulu hanya itu-itu saja,” ujar Lenny. Apalagi untuk produk yang sudah banyak dikenal masyarakat, seperti Kastengel, Nastar dan Lidah Kucing. Bagi Lenny, yang terpenting dalam produk cookies tersebut hanya di penggunaan butter. “Butter bagus, cookies sudah pasti rasanya enak. Apalagi untuk beberapa produk seperti Lidah Kucing,” ungkap baker juga memperdalam ilmu bakery di China, Jepang, Taiwan dan Philipina.

Terlebih untuk produk yang mengandalkan keju sebagai cita rasa cookiesnya. “Khusus untuk produk kastengel, peran butter dan keju lebih penting lagi. Penggunaan butter membuat cookies memiliki rasa keju yang dominan dan tesktur yang renyah. Tetapi dalam membuat kastengel, penggunaan butter juga harus dikombinasikan dengan margarin. Apabila Kastengel menggunakan 100% butter dan tanpa dicampur margarin, maka tekstur cookies akan menjadi lebih rapuh dan mudah patah,” jelas Lenny.

Setiap bakery shop memiliki komposisi yang berbeda dalam penggunaan butter untuk Kastengel. Untuk Kastengel, Nessa Bakery menggunakan butter dan margarin dengan perbandingan 4:1 pada resepnya. “Di Nessa Bakery, peran butter tidak pernah digantikan karena pelanggan kami kalangan menengah ke atas yang mengutamakan kualitas,” ungkap Lenny.

Jl. Cicendo no.11, Bandung

Written by Dody Wiraseto
Photo by Willys L.

Comments { 0 }

Red Tulip Bakery Pertahankan Eksistensi Dengan Roti Tradisional

Berkembangnya tren bakery yang ada saat ini, membuat bakery semakin dilirik sebagai sebuah peluang bisnis potensial. Tidak terkecuali di Bandung, kota yang dikenal kaya akan wisata kulinernya. Bisnis bakery di Bandung kini tidak hanya didominasi oleh skala pabrik, tetapi home industry pun mulai menggeliat. Persaingan yang ketat antara skala pabrik dengan home industry ini pun diakui oleh Liem Jo Ping, pemilik Red Tulip Bakery, yang merupakan salah satu bakery berskala pabrik di Bandung. “Bicara market saat ini saingan kami adalah langsung dengan home industry yang langsung menjual barang setelah proses produksi. Di sisi lain, kami harus menunggu masuk toko untuk kemudian menjual produk,” ujar Jo Ping.

Red Tulip Bakery sendiri merupakan bakery yang sudah cukup lama berdiri, tetapi baru pada tahun 2005-2006, Jo Ping mengambil alih Red Tulip Bakery. “Saya pribadi suka membuat roti, dan sebelum take over Red Tulip, kami juga sudah menjual roti dalam skala home industry. Membuat roti itu banyak tantangannya,” kenang Jo Ping. Diakui Jo Ping, ada sebuah tanggung jawab besar ketika beralih dari bisnis home industry ke skala yang lebih besar. “Pada skala home industry, pasokan ke toko tidak terlalu banyak, sedangkan sekarang tanggung jawab kami lebih berat karena produk yang kita pasok ke toko lebih banyak,” kata Jo Ping.

Tanggung jawab yang besar terhadap konsumen ini pun dijawab Jo Ping dengan berusaha memberikan produk yang berkualitas.“Kami tetap menjaga dengan apa yang sudah kita jalani dan terus berusaha memenuhi selera konsumen,” ujar Jo Ping. Karena itulah hingga kini Jo Ping tetap berpegang teguh dengan konsep roti tradisional. Terlebih lagi sebagian besar pelanggan Red Tulip merupakan pelanggan yang fanatik, sehingga mereka sudah mengetahui secara detail rasa dan tekstur produk Red Tulip.

Roti-roti tradisional seperti roti tawar, roti tawar gandum, roti tawar pandan, roti manis cokelat dan keju tetap menjadi favorit pelanggannya. Padahal Red Tulip sendiri saat ini sudah memiliki 60 varian produk roti. “Walaupun kami membuat produk yang bermacam-macam tetapi pelanggan akhirnya kembali lagi ke produk-produk tersebut,” ungkap Jo Ping. Pelanggan Red Tulip pun kini tersebar di daerah Cianjur, Sukabumi dan Bandung.

Distribusi Dengan Sistem Konsinyasi
Saat ini Red Tulip Bakery memiliki bakery shop di daerah Kebon Kawung, tetapi untuk distribusinya Red Tulip Bakery lebih banyak dengan sistem konsinyasi.“Kami lebih banyak memasok ke toko-toko lain daripada toko sendiri,” ujar Jo Ping. Menggunakan sistem konsinyasi ini dibutuhkan sebuah kepercayaan besar terhadap mitra kosinyasinya. “Kerjasama kami jalin sudah cukup lama. Meskipun saya memberikan kepercayaan kepada mereka, namun kami tetap memantau jalur distribusi mereka,” ujar Jo Ping.

Jl. Kebon Kawung No. 2, Bandung

Written by Dody Wiraseto
Photo by Willis L.

Comments { 0 }

Devine Patisserie Jakarta Mayestik Plaza Jakarta-City Walk Area Merintis Usaha Kue dengan Mengandalkan Citarasa Klasik

 Pada awalnya Devine Patisserie Jakarta merupakan konsep toko kue dengan open kitchen sederhana yang dibangun oleh Etty sebagai founder dan owner di tahun 1999 bersama sang suami. Bagi Etty, ibu dari 5 orang anak ini, memasak dan membuat kue merupakan ilmu yang dipelajari secara otodidak sejak ia menikah dan mulai memiliki anak.

“Setelah beberapa lama, justru memasak dan membuat kue menjadi hobi bagi saya. Saat ada pertemuan keluarga maupun acara bersama tetangga, saya seringkali didaulat untuk memasak makanan dan membuat hidangan penutup seperti kue-kuenya. Akhirnya justru pesanan kue-kue pun mulai berdatangan,” kenang Etty.

“Sebelum saya membuka toko kue pertama kali, saya memang hanya menerima pesanan kue di rumah dan semua pesanan ada karena promosi dari mulut ke mulut saja,” ungkap Etty. Setelah mendapat dukungan penuh dari sang suami dan merencanakan usaha dengan matang akhirnya Etty membuka toko kuenya pertama kali di daerah Bendi Raya Jakarta Selatan di tahun 1999.

Namun karena beberapa faktor akhirnya toko kue tersebut terpaksa ditutup. Ternyata banyak pelanggan setia yang merasa kecewa dengan penutupan usaha tersebut. Etty yang saat itu tengah berkonsentrasi menjaga suaminya yang tengah sakit memang memutuskan rehat sejenak dari usaha yang pernah ia rintis itu. Setelah sang suami wafat di tahun 2007, Etty memutuskan untuk mulai merintis kembali usaha kuenya dengan mulai menerima pesanan kue kembali. Di mulai dengan menjadi pemasok kue untuk dua Rumah Sakit besar, salah satunya di daerah Pondok Indah Jakarta Selatan. “Bagi saya, tidak pernah ada kata terlambat untuk kembali merintis usaha ini. Menjalin kontak kembali dengan para pelanggan lama toko kue saya dulupun menjadi salah satu upaya untuk memulainya,” kata Etty yang membuat nama Devine dari singkatan namanya dan nama depan ketiga puterinya.

Konsep Counter Kue
Lima tahun kemudian rupanya menjadi titik balik bagi Etty setelah berusaha untuk kembali merintis usaha kuenya. “Di pertengahan tahun 2012 ini, saya memutuskan untuk menyewa tempat di Mayestik Plaza untuk membuka counter kue. Memang tidak besar, tetapi cukup untuk mulai merintis kembali usaha ini,” jelas Etty.

Konsep counter memang dipilih Etty untuk kembali memperkenalkan brand usahanya. Etty yang piawai dalam mengolah hidangan kue tradisional Indonesia menjadikan jajanan pasar sebagai highlight dari counter kuenya. Selain aneka jajanan pasar, Etty juga menjual aneka kue klasik favorit serta beragam rasa kue kering.

Untuk harga yang ditawarkan bagi produk-produk karya Etty memang cukup terjangkau. Karena ceruk pasar yang menjadi target marketnya memang lebih ke arah menengah. Diakui Etty, ia juga menerima pemesanan whole cakes atau kue utuh berukuran besar mulai dari yang regular maupun premium, tetapi hanya melalui pemesanan terlebih dahulu. “Untuk kue-kue premium seperti Tiramisu, Cheesecake, Opera Cake, Chocolate Mousse atau pun aneka Birthday Cake, semuanya harus memesan terlebih dahulu. Untuk saat ini karena keterbatasan area counter, kami memang belum bisa menjual kue-kue ukuran besar yang ready stock,” kata Etty.

Produk Paling Laku
Ragam jajan pasar yang berjumlah hampir 20 jenis memang sangat mendominasi rak-rak yang ada di counter Devine Patisserie Jakarta. Mulai dari Risoles, AmRis, Semar Mendem, Lemper isi Ikan Tuna, Arem-Arem hingga Klepon dan Getuk Nangka tersedia fresh setiap harinya. “Getuk Nangka termasuk jajan pasar yang seasonal. Saya hanya menjualnya jika nangka yang tersedia di pasaran memiliki kualitas baik,” kata Etty. Menurut Etty, saat jam tutup toko, produk jajan pasarnya seringkali habis dan meskipun jika bersisa hanya ada sedikit saja.

Di jajaran kue-kue , Etty memang masih menawarkan kue-kue klasik favorit dengan harga cukup terjangkau. Bolu Tape merupakan salah satu dari aneka varian kue tersebut. “Saya menggunakan tape yang manis alami sebagai bahan campurannya,” kata Etty. Diakui Etty, sebagai bahan campuran dalam proses pembuatan kuenya, Etty menggunakan margarin yang dilelehkan untuk memberi citarasa gurih dan melembutkan hasil jadi kuenya tersebut.

Selain itu masih ada aneka Brownies dengan beragam topping regular seperti keju, almond dan sebagainya. Citarasanya cukup legit dengan aroma cokelat yang intens dan rasa manis yang pas. Etty juga membuat Roll Tart klasik yang lembut seperti isi selai strawberry, isi butter cream dan keju serta cokelat. “Butter creamnya saya buat dari penggunaan shortening atau mentega putih dan simple syrup yang dikocok hingga lembut,” jelas Etty.

Selama bulan Ramadhan lalu Etty mengakui omzet yang diterimanya cukup besar. Hal ini tentu menjadikan rasa syukur bagi Etty yang telah banyak mengalami pasang surut dalam usaha yang ia rintis. “Ke depannya saya ingin membuka toko yang lebih besar agar dapat memajang ragam kue yang lebih banyak. Tentunya memerlukan waktu yang tidak sebentar. Jangan pantang menyerah, berdoa dan terus berinovasi adalah kunci saya merintis usaha ini sejak dulu,” tutup Etty.

Mayestik Plaza Jakarta-City Walk Area

Written by Dewi Sri Rahayu
Photo by Zachrie Ruzandy

Comments { 0 }

J.Co Donuts and Coffee Local Brand Dengan Reputasi Internasional

 Membangun sebuah brand lokal baru di tengah kepungan brand luar negeri bukan hal yang mudah. Dibutuhkan strategi pemasaran yang tepat agar mampu bersaing dengan brand dari luar tersebut. Apalagi bila melihat selama ini pasar yang dikuasai brand luar negeri tersebut sudah cukup luas dan dikenal masyarakat banyak. Jika didasarkan pada situasi tersebut, keberhasilan J.Co Donuts and Coffee mengembangkan bisnisnya hingga kini memiliki 128 cabang yang tersebar di berbagai negara di Asia patut diacungi jempol.

J.Co Donut and Coffee merupakan brand asli Indonesia yang didirikan oleh Johnny Andrean yang sebelumnya sudah dikenal sebagai pengusaha salon sukses. Di tahun 2005, J.Co Donuts and Coffee memulai bisnisnya dengan membuka gerai pertama di Supermall Karawaci. Kini setelah memasuki tahunnya yang ketujuh, J.Co Donuts and 82Coffee tidak hanya tersebar di hampir seluruh kota besar di Indonesia, tetapi juga di luar negeri, seperti di Singapura, Malaysia, Shanghai dan yang terbaru adalah Filipina.“Untuk di Filipina saat ini kami sudah membuka 3 gerai dan dalam beberapa bulan ke depan kami akan membuka 1 gerai lagi,” bangga Mellyana Dewi, Media Relations J.Co Donuts and Coffee.

Semua itu tentu didasari oleh sambutan positif dari masyarakat di Indonesia terhadap J.Co Donuts and Coffee ini. Antusiasme yang tinggi terhadap produknya, membuat J.Co Donuts and Coffee meresponnya dengan membawa sedekat mungkin J.Co Donuts and Coffee ke masyarakat. “J.Co Donuts and Coffee ingin pula bisa hadir ke semua penggemarnya dan berada di semua tempat di Indonesia dan juga bisa untuk go international juga,” ujar Mellyana. Untuk menarik minat dan menjaga antusiasme masyarakat terhadap produknya, strategi J.Co Donuts and Coffee pun hingga kini tidak berubah, yakni memberikan kualitas produk dan service yang terjamin.

Konsep Yang Dinamis
Sekilas kini J.Co Donuts and Coffee merupakan tempat favorit bagi kalangan remaja hingga dewasa. Tetapi pada dasarnya, J.Co Donuts and Coffee memiliki segmentasi yang lebih luas. “Sebenarnya kita ingin ke semua kalangan dari mulai anak-anak pun bisa, dari orang tua pun bisa,” ujar Mellyana. Karena itu, untuk mengakomodir semakin dinamisnya pelanggan, J.Co Donuts and Coffee memberikan produk yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan. “Kami terus mengembangkan dari awal J.Co Donuts and Coffee bukan hanya donat dan kopi, sekarang kami sudah menyediakan frozen yoghurt, sandwich dan juga baby donut juga,” ungkap Mellyana.

Mengembangkan J.Coffee 
Untuk inovasi produk donatnya, setiap 2 bulan sekali J.Co Donut and Coffee selalu mengeluarkan produk baru. Kini J.Co Donut and Coffee pun turut mengembangkan pula produk kopi dengan nama J.Coffee dengan produk andalan terbarunya yaitu Crème Brulee Latte dan Hola Frutta. Hal ini tidak terlepas dari kopi yang telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat Indonesia.

“Karena itu, kami ingin menyediakan kopi kepada pelanggan J.Co Donuts and Coffee, jadi mereka tidak hanya mendapatkan satu produk berkualitas saja, tetapi juga bermacam-macam produk mulai dari donat, kopi ataupun yoghurt,” ujar Mellyana. Sedangkan untuk biji kopinya sendiri J.Co Donuts and Coffee menggunakan biji kopi Arabica pilihan dari beberapa tempat di dunia dan diproses dengan berkiblat pada gaya Italia. Semua biji kopi yang digunakan oleh J.Co Donuts and Coffee merupakan hasil roasting di Italia.

 

Gandaria City, LG Fl Unit L 80 – 82Coffee

Written by Dody Wiraseto
Photo by Albertus Dendy Indra

Comments { 0 }

Guilty Pleasure Sinfully Delicious Cakes from Three Best Friends

Guilty Pleasure memang terwujud dari persahabatan antara para founder dan owner-nya yaitu Fajar Kusumaputera, Rudi Chaniago dan Astrid Anggraini. Tetapi, konsep online cake shop Guilty Pleasure pada awalnya tercipta karena kegemaran Fajar Kusumaputera terhadap Cheesecake.

“Saat saya melanjutkan studi saya di Australia saya gemar sekali menyantap Cheesecake dan dessert lainnya. Kembali ke Indonesia rasa ingin tahu saya terhadap proses pembuatan sebuah cake dan dessert mendorong saya untuk berani membuatnya. Tetapi, karena keterbatasan alat pada saat itu saya hanya membuat Tiramisu dan ternyata gagal. Rudi dan Astrid tetap menyemangati saya. Akhirnya saya membuat lagi dan jadi. Pada saat itu saya hanya memberikannya pada teman, sahabat dan keluarga tanpa berniat menjualnya. Ternyata feedback terhadap kue-kue buatan saya itu cukup positif,” ungkap Fajar yang tidak memiliki dasar studi kuliner sama sekali.

Pada satu kesempatan di awal Januari 2012, ketiga sahabat itu memutuskan untuk mulai berbisnis home industry berbasis online cake shop. “Kami memutuskan untuk bekerja sama dengan sistem profit sharing dengan pengaturan tanggung jawab sesuai skill masing-masing. Fajar sebagai Production Chef, lalu Astrid mengurusi keuangan dan purchasing serta saya sendiri bertanggung jawab sebagai sales dan marketing,” kata Rudi.

Ketiga owner Guilty Pleasure memang masih terikat pada pekerjaan utama mereka masing-masing. Menurut Astrid sendiri pengaturan waktu memang sangat penting mengingat keterbatasan waktu yang mereka punya. “Kami melakukan kegiatan baking setelah pulang kerja. Bahkan di beberapa kesempatan kami bisa memanggang hingga jam 3 pagi karena orderan yang penuh untuk hari yang sama. Sudah banyak weekends yang kami lewatkan karena di waktu weekends justru orderan juga meningkat,” jelas Astrid. Diakui Fajar pesanan cake dari order pertama di bulan Januari hingga saat ini selalu kontinyu masuk ke Guilty Pleasure.

Konsep Guilty Pleasure dan Investasi Alat
Menjadi tagline dari Guilty Pleasure, it’s sinfully delicious memang terbukti benar. Varian cake yang ditawarkan oleh Guilty Pleasure memang memiliki rasa yang istimewa. Dalam konsep ketiga owner Guilty Pleasure, rasa cake yang ingin ditawarkan memang yang memiliki rasa istimewa dan lezat yang menimbulkan rasa bersalah ketika menyantapnya.

“Banyak orang yang menyukai cake dan dessert tetapi takut untuk memakannya. Alasannya mungkin masalah kalori atau lemak dan sebagainya. Konsep kami ini memang ingin mengajak customer untuk menikmati cake dari Guilty Pleasure tanpa rasa takut, meskipun pada akhirnya timbul rasa bersalah tetapi juga mengakui pleasure yang ada saat menyantap cake tersebut. Karena menurut kami, tidak apa-apa menyantap sepotong kue dalam 1 hari tertentu misalnya karena di lain hari kita bisa kembali menjaga pola makan dan bahkan tetap rajin berolahraga,” kata Rudi yang bersama Fajar dan Astrid termasuk aktif dalam kegiatan gym.

Konsep Guilty Pleasure terbukti berhasil. Karena dari hari ke hari semakin banyak yang tertarik untuk memesan kue di Guilty Pleasure. Mengingat pesanan yang kian meningkat ini, Astrid yang memegang urusan keuangan memutuskan saatnya menginvestasi alat dengan lebih serius.

“Memang pada awalnya kami hanya memiliki alat-alat baking yang masih sederhana dengan kapasitas kecil. Karena, kami ingin melihat terlebih dahulu respon terhadap Guilty Pleasure. Dan, memang diluar dugaan jika ternyata dengan berjalannya waktu pesanan cake semakin meningkat. Untuk itu, jelas kami memerlukan alat-alat baking yang memiliki kapasitas besar seperti oven yang dapat memanggang lebih banyak kue ataupun standing mixer berkapasitas sesuai yang kami perlukan,” kata Astrid.

Melihat kemajuan yang dialami oleh Guilty Pleasure membuat beberapa pihak tertarik untuk berinvestasi. Menurut Rudi, sudah ada beberapa teman yang menawarkan investasi untuk membuka store untuk Guilty Pleasure. Permintaan pun datang dari para orang tua. “Kami menghargai dukungan yang diberikan oleh keluarga dan teman, tetapi kami ingin menjalankan Guilty Pleasure dengan team work diantara kami bertiga dulu. Kami memulai Guilty Pleasure dari awal, menjalani proses bagaimana membangun sense of belonging and sense of selling serta berusaha menciptakan demands. Tentu saja suatu saat kami ingin memiliki outlet Guilty Pleasure tetapi pasti harus melalui proses perencanaan yang matang terlebih dahulu,” ungkap Fajar.

The Best Seller Cakes and Cupcakes
Varian produk pastry yang ditawarkan oleh Guilty Pleasure berkisar pada whole cakes dan cupcakes. Ikut terkena trend saat ini di Indonesia, khususnya Jakarta, Rainbow Cake dan Red Velvet Cake buatan Fajar menjadi incaran para pelanggan Guilty Pleasure. “Rainbow Cake ini terdiri dari 6 layer cake berwarna-warni. Untuk filling-nya saya menggunakan vanilla buttercream yang saya buat dari shortening atau mentega putih dengan campuran seperti Merry Whip. Jika komposisinya tepat, buttercream akan memiliki tekstur lembut dan tidak mengendal sehingga tidak mengganggu ketika kue disantap,” kata Fajar yang rajin belajar teknik pembuatan kue melalui beragam kursus kue ini.

Red Velvet Cake dari Guilty Pleasure hadir dalam 4 layer cakes beserta cream cheese filling dan frosting yang diberi dekor menggunakan remahan basic red velvet cake. “Selain Red Velvet Cake di kategori whole cake kami juga memiliki varian lain seperti Black Forest maupun Chocolate Rainbow Cake yang menggunakan non dairy whipped cream. Jika di Black Forest, non dairy whipped cream digunakan sebagai cream filling dan frosting, maka di Chocolate Rainbow cake, non dairy whipped cream digunakan sebagai campuran pembuatan chocolate ganache,” jelas Fajar.

Beragam cupcakes aneka rasa hadir dari inspirasi sang Production Chef. “Oreo cupcakes menggunakan 1 keping oreo utuh yang saya letakkan di bagian bawah cupcakes berisi adonan chocolate cake. Untuk toppingnya menggunakan cream cheese frosting yang diberi crushed oreo,” kata Fajar.

Untuk strawberry dan blueberry cupcakes, Fajar mencampur vanilla buttercream dengan selai strawberry atau bluberry. Varian cupcake yang juga menjadi favorit para customer Guilty Pleasure adalah chocolate cupcake. “Khusus chocolate cupcake ini saya membuatnya menggunakan vegetables oil. Penggunaan vegetables oil membuat tekstur kue menjadi moist tanpa perlu diberi simple syrup. Tetapi, penggunaan 100% vegetables oil dapat membuat cake memiliki rasa oil yang mungkin bagi sebagian orang terasa mengganggu. Untuk itu saya berinovasi dengan membuatnya menggunakan melted butter dan vegetables oil. Hasil jadi kue akan tetap memiliki rasa dan aroma butter yang khas dengan tekstur kue yang moist dari penggunaan vegetables oil tersebut,” jelas Fajar. Varian whole cake lainnya di Guilty Pleasure yang juga menggunakan vegetables oil adalah Devil’s Food Cake.

Selain whole cakes dan cupcakes, Guilty Pleasure juga menerima orderan special projects seperti Birthday cake maupun aneka ragam customized fondant cakes. Saat ini, Guilty Pleasure memakai jasa kurir dengan tambahan ongkos kirim untuk mengirimkan aneka varian cakes dan cupcakesnya ke semua pelanggan Guilty Pleasure.

gpjkt.weebly.com

Written by Dewi Sri Rahayu
Photo by Zachrie Ruzandy

Comments { 0 }

Spice Restaurant Terapkan Standar Quality Control Ketat Terhadap Buah

Untuk industri hospitality seperti restoran, kebutuhan akan buah-buahan sangat dominan. Terlebih jika restoran tersebut merupakan bagian dari sebuah hotel, karena harus melayani pelanggan mulai dari breakfast, lunch hingga dinner. Salah satunya adalah Spice Restoran, yang terletak di lantai 2 Hotel Mercure, Jakarta Kota. Setiap harinya restoran berkonsep South East Asian Cuisine ini membutuhkan hingga 50-60 kg per jenis buah. “Jenis buah-buahan seperti semangka, pepaya dan nanas lebih banyak dipilih sebagai dessert,” ujar Leonardus, Executive Chef, Hotel Mercure, Jakarta Kota.

Tingginya konsumsi buah di Spice Restaurant lebih banyak terserap pada saat breakfast. Menurut Chef Leo, konsumsi buah saat breakfast ini lebih dikarenakan keengganan pelanggan untuk memakan menu lain yang disajikan saat breakfast. “Saat breakfast orang lebih memilih untuk mengkonsumsi buahbuahan dibanding menu-menu yang berat. Ditambah fungsi buah-buahan itu sendiri yang sangat bagus untuk memperlancar pencernaan,” ujar Chef Leo.

Karena itu, untuk memberikan buah-buahan kualitas terbaik untuk pelanggannya, Spice Restaurant pun wajib menerapkan standar quality control yang ketat terhadap buah yang digunakan. Sistem standar quality control yang diterapkan meliputi pengecekan secara random buah-buahan setiap akan masuk ke kitchen. “Jadi kita pilih sendiri secara acak dan setiap hari harus dicek. Jika salah satu buahnya bagus, bukan berarti langsung diterima semua, harus diperiksa terus secara acak apakah tetap bagus atau tidak,” jelas Chef Leo.

Salah satu hal yang menjadi perhatian Spice Restaurant adalah menghindari penyimpanan buah terlalu lama. “Buah selalu dikirim setiap hari, kecuali weekend, sehingga kami tidak menyimpan stock dalam jumlah banyak. 50-60 kg itu habis dalam sehari,” ujar Chef Leo. Hal ini dikarenakan buah tidak boleh terlalu lama diletakan di dalam chiller atau lemari pendingin, karena akan berpengaruh terhadap rasa, tekstur, dan aroma. “Contohnya jika semangka disimpan terlalu lama, maka kadar airnya akan keluar dan menyisakan ampasnya saja.

Sementara pada papaya akan berakibat pada lengketnya daging buah sehingga ketika dipotong teksturnya akan rusak,” jelas Leo. Sebagai bahan untuk menunya, Spice Restaurant tidak dominan terhadap penggunaan buah impor ataupun lokal. Hal itu disebabkan antara buah impor dan lokal memiliki keunggulan masing-masing. “Buah lokal lebih segar karena saat pengiriman tidak membutuhkan waktu yang lama, tetapi dari sisi kualitas, buah impor lebih bagus,” papar Chef Leo. Lebih lanjut dijelaskan olehnya, untuk buah impor biasa digunakan untuk mengejar aroma dan warna. Sementara itu, dari segi rasa, baik buah-buahan lokal dan impor tidak memiliki perbedaan yang mencolok.

Hotel Mercure Jakarta Kota, Jln. Hayam Wuruk No. 123, Jakarta Barat

Written by Doddy Wiraseto
Photo by Murenk

Comments { 0 }