Archive | Recommended RSS feed for this section

Berkania Promosindo Gelar Bacary, Food Industry, Packpro, dan Horeca Makassar Expo 2013

Industri makanan dan minuman yang selalu berkembang, baik dalam usaha kecil, menengah maupun besar mempunyai peranan penting dalam meningkatkan perekonomian masyarakat Indonesia. Pesatnya perkembangan pasar seiring dengan meningkatnya peta persaingan dalam bisnis makanan dan minuman. Karenanya, tak heran jika banyak para pelaku bisnis dalam segala lini berlomba-lomba melakukan berbagai inovasi untuk menciptakan produk maupun jasa bermutu dan kreatif untuk diperkenalkan kepada pasar. Maka, kegiatan promosi seperti pameran menjadi salah satu ajang yang kerap dipilih oleh para pelaku bisnis untuk memperkenalkan produk dan jasa yang mereka tawarkan.

Menggarap Maksimal Peluang Usaha di Indonesia Timur

Adalah Bacary, Food Industry, Packpro, dan Horeca Makassar Expo 2013, sebuah pameran yang diprakarsai oleh PT. Berkania Promosindo yang bertujuan untuk menjembatani para buyers dan sellers dalam menjawab segala kebutuhan para pelaku industri makanan, hotel, bakery, restaurant, dan cafe di kawasan Indonesia Timur.

Acara yang diselenggarakan pada tanggal 16-19 Mei 2013 di Celebes Convention Center, Makassar, Sulawesi Selatan tersebut mendapat tanggapan yang cukup meriah dari masyarakat. Sebanyak lebih dari 50 perusahaan industri makanan dan minuman se-Indonesia ikut menjadi peserta pameran Bacary, Food Industry, Packpro, dan Horeca Makassar Expo 2013 ini.

Pameran ini dibuka dengan penampilan Tarian Exotica Budaya Dayak oleh Group Borneo Khatulistiwa dari Anjungan Daerah Kalimantan Barat, yang dihadiri langsung oleh Richard Pesik, selaku direktur utama PT. Berkania Promosindo, Ir. H. Asri Agung Pananrang, MM selaku Kepala Badan Ketahanan Pangan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan, Drs. H. Shahril Sappile selaku perwakilan Pemerintah Kota Makassar, serta pejabat terkait seperti Asosiasi Pemerintahan Kota Seluruh Indonesia (APEKSI), Kepala Promosi Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, dan tamu undangan lainnya.

Dalam sambutannya Richard Pesik menyebutkan Makassar dipilih sebagai tempat diadakannya pameran mengingat potensi sumber daya yang cukup besar yang dimiliki oleh Propinsi Sulawesi Selatan, yang sekarang banyak dijadikan sebagai pusat perdagangan dan investasi untuk wilayah Indonesia Timur. “Makassar sebagai pintu gerbang Indonesia Timur didukung oleh transportasi yang memadai sangat berpotensi guna mendukung kelancaran kegiatan perdagangan di kawasan Indonesia Timur. Ini adalah kali kedua kami menyelenggarakan pameran untuk bidang Bakery, Industri Makanan dan Minuman, Hotel, Restaurant & Cafe, Pengemasan serta Pengolahan di Makassar. Kami ingin, melalui pameran ini para peserta yang terdiri dari pemasok dan distributor brand makanan dan minuman, termasuk mesin, peralatan dan perlengkapan untuk pengemasan dan pengolahan industri dapat menjangkau pasar Indonesia Timur,” jelas Ricard Pesik.

Richard menambahkan Ia berharap dengan mendatangkan supplier yang bergerak dalam industri makanan dan minuman, mesin, peralatan dan perlengkapan untuk pengemasan dan pengolahan ke depannya dapat memenuhi seluruh kebutuhan pasokan di kawasan Indonesia Timur. “Besar harapan saya agar pameran ini dapat menjadi pameran terlengkap dan terbesar di kawasan Indonesia Timur yang dapat dijadikan referensi bagi para pelaku bisnis untuk dapat terus meningkatkan usahanya. Semoga lewat ajang ini bisa terjadi kerjasama yang berkesinambungan guna kemajuan industri makanan dan minuman di Indonesia khususnya Indonesia Timur,” ujar Richard.

Asri Agung Pananrang dalam sambutannya menyampaikan dukungannya terhadap terselenggaranya pameran food industry ini. “Semoga dengan diselenggarakannya pameran ini maka UKM di Sulawesi Selatan yang juga ikut menampilkan produk-produk unggulannya dapat lebih dikenal oleh masyarakat. Pameran ini saya yakini dapat memajukan usaha kecil dan menengah di wilayah Indonesia Timur,” ungkap Asri.

Selain itu, menurut Asri pameran ini juga dapat menjadi sarana pengenalan produk-produk lokal potensial serta dapat menjadi media pembelajaran bagi UKM untuk terus meningkatkan kreatifitas dan mutu produk serta jasa unggulannya agar dapat bertahan dalam persaingan bisnis yang semakin menggeliat.

Peserta Pameran
Sebanyak lebih dari 50 peserta dari industri makanan dan minuman, mesin dan perlengkapan untuk pengemasan dan pengolahan ikut meramaikan pameran Bacary, Food Industry, Packpro, dan Horeca Makassar Expo 2013 yang diadakan pada pertengahan Mei 2013 lalu. Dari keseluruhan peserta beberapa diantaranya telah mengikuti pameran tersebut untuk kedua kalinya. Ada juga yang tahun kemarin hanya datang melihat pameran, tahun ini ikut berpartisipasi mengingat pasar Indonesia Timur yang cukup potensial untuk industri makanan dan minuman.

“Tahun ini adalah tahun kedua PT. Nirwana Lestari ikut pameran Bacary. Pihak organizer menawarkan konsep yang lebih baik. Mereka mereka menyediakan B2B meeting sebagai wadah yang menjembatani pertemuan antara prospective costumer dengan para supplier,” ungkap Juni Silalahi, Product Manager PT. Nirwana Lestari.

Juni menambahkan, Makassar sebagai gerbang Indonesia Timur memiliki potensi yang cukup besar di segmen bakery, hotel, restaurant, maupun café. Melalui pameran ini Pihaknya berharap produk-produk PT. Nirwana Lestari dengan merek seperti Tulip, Tabasco, dan Guylian, bisa dikenal oleh masyarakat Indonesia Timur. Selain itu, konsumen wilayah Indonesia Timur yang sebelumnya tidak tergarap bisa dijangkau melalui pameran ini.

PT. Wahana Interfood Nusantara dengan brand andalannya, Schoko, juga ikut meramaikan pameran ini. Berpartisipasi untuk pertama kalinya, PT. Wahana Nusantara Interfood ikut merasakan potensi yang cukup besar untuk wilayah Indonesia Timur. Maysuandi selaku General Manager PT. Wahana Interfood Nusantara melihat Makassar sebagai kota besar di Indonesia Timur yang cukup berpotensi untuk produk-produk Schoko.

“Sebagai pemain yang cukup baru di wilayah Indonesia Timur, kami ingin masyarakat di Makassar lebih mengenal produk-produk kami. Bagi kami, Pameran Bacary ini bisa membuka jalan untuk memperkenalkan produk-produk Schoko, seperti compound, coverture, cocoa powder, filling, dan drink, ke masyarakat yange lebih luas di Indonesia timur,” ungkap Maysuandi.

PT. Salim Ivomas pemegang merek dagang Palmia dan Bimoli, lalu PT. Mulia Boga Raya dengan brand Prochiz, PT. Sekawan Karsa Mulia sebagai penyedia bakery ingredients merek Dyna, PT. Rezeki Inthi Artha yang memproduksi makanan dan buah kaleng merek Wilmond, serta PT. Esham Dima Mandiri sebagai distributor biskuit merek Julie’s juga ikut berpartisipasi dalam pameran ini.

Selain peserta dalam bidang makanan dan minuman, peserta dalam bidang mesin dan perlengkapan untuk pengemasan dan pengolahan juga berpartisipasi memperkenalkan produk-produk unggulan mereka, seperti PT. Dwipa Megah Lestari yang berfokus pada pengemasan, PT. Javarabica sebagai penyedia mesin kopi, dan PT. Nutraco yang menyediakan segala macam bakery equipment. Tidak ketinggalan, usaha kecil menengah di Makassar dan sekitarnya juga turut ambil bagian dalam pameran tersebut, seperti CV. Global Sejahtera Bahagia yang merupakan produsen sari markisa Makassar.

Makassar Pastry Competition 2013

Makassar Pastry Competition 2013 merupakan salah satu agenda dalam rangkaian acara pameran Bacary, Food Industry, Packpro, dan Horeca Makassar Expo 2013. Pastry competition yang pertama kali diadakan ini terselenggara berkat kerjasama Makassar Culinary Association dengan PT. Berkania Promosindo sebagai penyelenggara pameran.

Kistan Tama selaku Marketing Communication and Planner Makassar Culinary Association (MCA) menyebutkan Makassar Pastry Competition 2013 bertujuan untuk mempersiapkan Chef-chef muda yang ikut dalam kompetisi untuk maju ke tingkat nasional membawa nama Sulawesi Selatan. Tidak hanya diikuti oleh profesional dibidangnya, Makassar Pastry Competition 2013 ini juga diikuti oleh masyarakat umum, seperti ibu rumah tangga, mahasiswa, dan lain-lain.

“Makassar Culinary Association sebenarnya merupakan wadah untuk menghubungkan Chef, pengusaha, pedagang kaki lima, dan pihak terkait yang berhubungan dengan food industry di Makassar. Kami ingin merangkul semua masyarakat Makassar untuk mendukung peningkatan kuliner di kota Makassar yang sebenarnya berpotensi untuk dikembangkan. Walaupun ini merupakan edisi pertama dari Makassar Pastry Competition, respon masyarakat cukup bagus. Saat ini ada 20 peserta dari kedua kelas yang akan bertanding,” ungkap Chef Tama yang juga merupakan Executive Chef Hotel Aston Makassar ini.

Chef Tama menambahkan bahwa minat masyarakat Makassar terhadap perkembangan kuliner cukup tinggi. Ini terlihat dari jumlah peserta yang terdaftar, yaitu peserta dari kategori umum lebih banyak jika dibandingkan dengan kategori profesional.

“Dengan adanya kompetisi ini kami harap para pecinta kuliner di Makassar bisa lebih percaya diri untuk ikut serta dalam mengembangkan kuliner di Makassar khususnya. Ke depannya Makassar Culinary Association akan selalu mengadakan program-program yang dapat menghubungkan semua praktisi dalam bidang food industry untuk bersama-sama mengembangkan kuliner di Makassar,” ucap Chef Tama.

Chef Tama menjelaskan dari kedua kelas yang diperlombakan, panitia membebaskan para peserta untuk berkreasi. “Kami tidak menetapkan standar tertentu dalam kompetisi ini, termasuk bahan bakunya. Seluruh peserta bebas berkreasi. Yang menjadi penilaian utama kami yaitu penampilan, kebersihan, dan yang tidak kalah penting adalah ketepatan waktu,” ungkap Chef Tama.

Hadir sebagai juri pada Makassar Pastry Competition 2013 ini, Chef Aji Lukman, owner Melati Catering yang merupakan catering terbesar di Makassar, Chef Chok anggota MCA, serta Chef Steven Jong dari Dimarco. Ferry Victor, Pastry Sous Chef Hotel Aston Makassar keluar sebagai pemenang dari kelas profesional, sedangkan untuk kategori umum dimenangkan oleh Ibu Miftah dengan Cheese cake buatannya.

Written by Ahmad Fajar, Photo by Hendri Wijaya

Comments { 0 }

Farel Patisserie Cafe, Ciptakan Tren Baru Croissant

Berada tepat di depan gerbang pintu tol Buah Batu, Bandung, Farel Patisserie hadir meramaikan industri patisserie di kota Kembang. Berdiri sejak November 2012, Farel Patisserie mengusung produk-produk viennoiserie seperti croissant, danish, dan puff pastry. Menurut Aston Adiwijaya, Executive Head Baker sekaligus pengelola Farel Patisserie, belum banyak pemain bakery di Indonesia yang fokus di bidang viennoiserie sehingga ia melihat peluang yang besar dalam kelangsungan bisnis ini.

“Ketika pertama kali merintis Farel Patisserie, saya menggunakan resep asli dari Perancis. Tapi setelah melakukan riset, hasil survey menunjukkan bahwa pasar di Indonesia lebih memilih pastry dengan varian rasa ketimbang yang original,” tutur Aston. Memiliki latar belakang pelatihan sekolah bakery dan pastry di Perancis membuat Aston paham benar mengenai pembuatan pastry dasar. “Di sini saya membuat resep sendiri berdasarkan pengalaman saya menuntut ilmu dan bekerja di Perancis dan Dubai. Tapi tentu resep tersebut sudah saya modifikasi sedemikian rupa agar bisa diterima oleh lidah orang Asia,” jelas Aston.

Lebih detail lagi Aston mengemukakan mengenai perbedaan danish dan croissant. “Danish pastry memiliki kandungan telur dan gula lebih banyak ketimbang croissant dan puff pastry sehingga lebih kaya nutrisi. Sedangkan untuk croissant lebih menitikberatkan pada tekstur yang lembut di bagian dalam dan crispy daripada bagian luar,” jelas Aston.

Fermented Dough
Untuk mengolah produk viennoiserie-nya, Aston menggunakan metode fermented dough atau adonan yang sudah difermentasi. “Orang tua saya, Hardi Sambas, berkecimpung di dunia bahan baku pastry dan bakery sehingga saya menyerahkan formula resep untuk diolah menjadi premix,” ujar Aston. Mengingat ini merupakan resep buatannya, Aston berani menjamin bahwa rasa dan tekstur viennoiserie miliknya pasti berbeda dengan yang ada di tempat lain.

“Sebelum ini saya juga pernah survey di beberapa bakery yang menjual croissant untuk menjadi barometer. Karena menurut saya, untuk apa menjual produk yang sudah ada dengan kualitas yang sama, minimal kualitas produk di Farel Patisserie harus ada di atas rata-rata,” ungkap pria berkacamata ini. Metode fermented dough ini memiliki beberapa kelebihan, salah satunya dari segi daya tahan. “Dengan menggunakan metode ini, croissant mampu bertahan hingga 3 hari di suhu ruang dan satu minggu di lemari pendingin,” ujar Aston.

Produk-Produk Unggulan Farel Patisserie
14 varian rasa ditawarkan di Farel Patisserie baik croissant, danish, dan puff pastry. Beberapa varian rasa yang tersedia seperti Cream Cheese Peach Danish, Choco Ganache Danish, Sausage and Cheese Danish, Beef Wellington, Choco Pandan Danish, Choco Banana Danish, Choco Almond Danish, Almond Croissant, Chocolate Croissant, Cheese Croissant, dan yang pasti Plain Croissant. “Berhubung orang Sunda gemar dengan pisang, saya menghadirkan Banana Au Gratin yaitu danish yang berisi potongan pisang serta disajikan dengan caramel custard cream, caramelized banana, dan topping caramel sauce,” ujar Aston.

Ada juga Potato En Croute yakni mashed potato yang dimasak bersama sayuran dan dibungkus dengan puff pastry serta tambahan topping keju cheddar dan Crème Brulee Fruit Danish yaitu crème brulee yang dibakar di dalam danish. Ada satu hal yang menarik di sini, selain menyediakan produk viennoiserie, Farel Patisserie juga menyelipkan Oyaki yaitu roti tradisional Jepang yang mirip dengan roti manis. “Varian ini hanya sebagai pelengkap bagi pelanggan yang ingin mengkonsumsi produk selain viennoiserie,” tutur Aston.

Untuk memperkaya rasa, Aston mengaku menggunakan 100% butter untuk olahan croissant dan pastry. Selain itu, ia juga mengganti komposisi air di resep dengan telur agar lebih lembut dan lebih bergizi. Ini tentu sebanding dengan harga sebuah croissant yaitu bekisar antara Rp. 10.000 hingga Rp. 15.000.

Kesungguhan Aston dalam menciptakan tren baru patut diacungi jempol. “Jika bakery waralaba asal Singapura bisa sukses dengan roti manis dan aneka fillingnya, maka saya ingin Farel Patisserie terkenal dengan aneka viennoiserie dengan varian aneka rasa” yakin Aston. Ini tentu sesuai dengan misi dari Farel Pastisserie sendiri yaitu bring the sweet art of celebration to everyday life through the inherent integrity of our product.

Jl. Terusan Buah Batu No. 259, Bandung

Written by Marisa Aryani
Photo by Hendri Wijaya

Comments { 0 }

Café de France Bistro, Fokus Pada Kualitas dan Pelayanan yang Cepat

Sebagai salah satu prasarana penunjang layanan Food & Beverage yang disediakan oleh Ambhara Hotel, Café de France Bistro memang menjadi salah satu pilihan untuk bersantap bagi para tamu hotel, baik regular guest maupun pengunjung yang sengaja datang untuk menikmati sajian di Café de France Bistro. “Café de France Bistro memiliki konsep casual dining tapi tetap sesuai dengan standar pelayanan hotel yang berlaku. Di sini, kami menyajikan menu-menu ala Perancis tetapi tidak menutup kemungkinan jika ada tamu yang menginginkan menu continental dari Coffee Shop, bisa kami bantu untuk disajikan,” buka Ida Farida, Assistant Restaurant Manager Café de France Bistro Ambhara Hotel.

Menurut Kartika Viftiyanty, Assistant PR Manager di Ambhara Hotel, ada 7 fasilitas F&B yang tersedia di sana. “Ada Seruni Lounge, Terrace Bakery and Cake Shop, Pelangi Café, Dapua Rampah, Café de France, Barons Pub dan Banquet. Semuanya memiliki konsep masing-masing yang berbeda tapi pada dasarnya konsep Ambhara Hotel adalah hotel bisnis yang memadukan unsur European design dengan sentuhan Indonesia lewat etnik Indonesia seperti hiasan batik dan sebagainya,” jelas Kartika.

Menu Perancis di Café de France
Café de France Bistro memiliki 30 non-smoking seating capacities dengan ragam pilihan menu Perancis yang diolah langsung oleh Executive Sous Chef, Azhari beserta tim dapur Café de France Bistro dan Hotel Ambhara. Onion French Soup termasuk entrées atau menu pembuka yang dapat dipilih jika ingin menyantap sajian sup otentik Perancis.

“Onion French Soup adalah salah satu sajian sup klasik dan paling dasar di gastronomy Perancis. Di sini, kami mengolahnya dari kaldu sayuran dengan cara pengolahan kaldu yang benar-benar diperhatikan sehingga menghasilkan kaldu sayuran yang berkualitas, karena sajian sup termasuk di Perancis dimulai dari kaldu yang berkualitas dari segi citarasanya. Lalu untuk penyajiannya, disajikan dengan potongan baguette atau roti Perancis yang diberi parutan keju dan dipanggang hingga meleleh. Cara penyajian ini merupakan cara penyajian French Onion Soup yang klasik,” papar Azhari.

Salmon En Papillote Citarasa Cuisine ala Perancis
Menu yang jangan sampai Anda lewatkan saat bertandang ke Café de France, salah satunya adalah Salmon En Papillote. Inspirasi metode memasak ala Perancis memang sangat tercermin dalam sajian Salmon En Papillote. “En Papilote sebenarnya adalah teknik memasak dari Perancis yang membungkus makanan beserta bumbu-bumbunya dalam alumunium foil lalu dimasak hingga matang. Saat matang, aroma makanan yang diolah akan terperangkap dalam bungkusan itu sehingga citarasa makanannya akan jauh lebih enak,” jelas Azhari.

Saat ini menu Salmon En Papillote di Café de France disajikan tanpa alumunium foil. “Saat pengolahan, kami tetap memakai teknik En Papillote. Tapi, ketika akan disajikan kami buka pembungkus alumunium foilnya sehingga presentasi makanannya jauh lebih menarik,” kata Azhari.

Olahan Salmon dengan metode memasak ala Perancis yang ditawarkan Café de France memang memiliki citarasa yang istimewa. Tekstur ikan Salmonnya sendiri terbilang cukup lembut dengan paduan citarasa fresh herbs yang digunakan dalam jumlah yang cukup sehingga tidak menutup rasa khas dari ikan Salmon, membuat sajian ini pantas jadi pilihan menu saat bersantap di Café de France.

Ambhara Hotel JL. Iskandarsyah Raya No. 1 Kebayoran Baru Jakarta

Written by Dewi Sri Rahayu
Photo by Hendri Wijaya

Comments { 0 }

Java Bleu French Bistro, Menu Klasik di Bistro Perancis Sederhana

Bisa jadi, kehadiran Java Bleu French Bistro memiliki tempat tersendiri di hati para pecinta kuliner Perancis di Jakarta. Terbukti dengan tetap bertahannya bistro sederhana ini sejak tahun 2001 saat pertama kali Java Bleu French Bistro dibuka untuk umum. “Java Bleu sempat menempati lokasi di daerah Fatmawati Jakarta Selatan sebelum akhirnya pada awal tahun 2009 menempati lokasi di Cikini Jakarta Pusat,” buka Diah Dwi Setiawati, Pastry Chef dari Java Bleu French Bistro.

Kesederhanaan bistro Perancis satu ini terlihat dari ukuran bistro yang tidak terlalu besar tetapi mampu memberikan nuansa Perancis yang cukup kental sehingga tidak menghilangkan identitasnya sebagai rumah makan yang menyajikan menu-menu Perancis klasik. “Untuk konsep desain ruangan, kami memang ingin menghadirkan nuansa nyaman dan hangat seperti di rumah tanpa melupakan ciri khas sebagai sebuah bistro Perancis,” kata Pastry Chef yang akrab disapa Diah ini.

Lebih lanjut, Diah menjelaskan bahwa di Perancis, bistro adalah rumah makan sederhana yang menyajikan masakan Perancis rumahan dengan pelayanan yang cepat. “Jadi, sesuai dengan konsepnya sebagai sebuah bistro, maka sajian menu-menu di sini pun fokus pada masakan Perancis rumahan yang masih klasik dan otentik,” jelas Diah.

Pastry Klasik dari Perancis
Menikmati sajian menu Perancis klasik di sebuah bistro Perancis tentunya tidaklah lengkap tanpa menyantap sajian pastry dan dessert ala Perancis yang juga terbilang menu-menu klasik. Di Java Bleu, deretan beberapa menu pastry dan dessert seperti Crème Caramel, Tarte Tatin, Pear Tart Bordaloe, Profiterole hingga Baba Au Rhum hadir dengan citarasa yang juga tak kalah istimewa.

Tarte Tatin menurut Diah perlu waktu 2 hari untuk mengolahnya. Dimulai dari mengolah buah apel segar yang dikaramelisasi, kemudian dimasukkan ke dalam ramekin atau mangkuk tahan panas yang ditutup alumunium foil lalu dipanggang hingga matang dan kemudian disajikan dengan es krim. “Tarte Tatin merupakan traditional French pastry yang sangat digemari di Perancis,” kata Diah.

Ada juga Pear Tart Bordaloe yang disajikan dengan saus karamel dan es krim. Menurut Diah, Pear Tart Bordaloe dibuat dengan 3 elemen utama, yakni kulit pie yang terbuat dari adonan sugar dough atau adonan yang biasanya digunakan dalam membuat kulit pie manis, isian berupa almond crème atau frangipane dan caramelized pear. “Kami menggunakan buah pir segar yang kami olah dengan dimasak terlebih dahulu dengan mentega, gula pasir, kayu manis dan batang vanila hingga matang tapi tidak hancur. Tekstur buah pir harus masih crunchy tetapi sudah cukup lunak. Potongan buah pir ini menjadi topping atas dari isian almond crème-nya,” jelas Diah.

Almond crème dalam menu ini terbilang berbeda dari kebanyakan almond crème karena citarasanya yang lebih ringan tetapi punya aroma dan rasa almond yang kuat dan natural. Dan, keseluruhan sajian ini memiliki aroma vanilla yang begitu khas. “Kami menggunakan biji vanila asli yang didapat dari batang vanila yang memang terkenal memiliki aroma natural yang khas. Bagi kami, bahan baku berkualitas dan natural sangat penting karena olahan masakan Perancis memang sangat ketat dalam hal pemilihan bahan baku,” tegas Diah.

Baba Au Rhum pun layak menjadi sajian pastry yang sayang untuk dilewatkan. Presentasinya sederhana, tetapi citarasanya lagi-lagi tak biasa. Menurut penjelasan Diah, Baba au Rhum merupakan sejenis brioche yang kemudian direndam dalam rum syrup hingga cairan sirup terserap ke dalam pori-pori baba dan membuat teksturnya melunak dan lembut. “Untuk Baba Au Rhum, kami sajikan dengan Rhum and Raisin Ice Cream dan Strawberry Compote,” tutup Diah.

Jl. Cikini Raya No.15. Jakarta Pusat

Written by Dewi Sri Rahayu
Photo by Arif

Comments { 0 }

Market & Museum 2013: Gathered Indonesia’s Young Entrepreneurs in a Flight

In the mid of May (9-12 May 2103), Market & Museum, a thematic market designed for the young entrepreneur, hit the town. Located at the Exhibition Hall of the Grand Indonesia West Mall 5th floor, Jakarta, Market & Museum 2013 carried the “In-Flight” theme where the set of the Bazaar was curated in accordance with nuance of aviation by Abenk Alter, the SoulVibe’s vocalist.

Once the visitors stepped into the main entrance of the exhibition, they would feel the atmosphere of the airport as there were flight schedule, conveyor belt, world time clocks, and aircraft seats which were deliberately designed in such a way. The event which exhibited 69 start-up brands ranging from women and menswear fashion, accessories, artworks, souvenir, to home decor, as well as 10 entrants of the foods and beverages, was set to be a new platform for the young entrepreneurs to introduce their products in the real market of Jakarta.

Young Entrepreneurs’ Showcase
The visitor could start their journey by visiting booths of creative products of fashion and accessories brands by Indonesia’s young entrepreneurs like Damn! I Love Indonesia, Hippearce, Impromptu, Spotlight, Pick Me Up, and many more. Also, there was a room named Activity Space where Flight Beauty Class by Harumi Sudradjat, one of Indonesia’s beauty blogger took place. The room which could accommodate 90 people, was also the venue for kids’ activities which organized by the Kids Love Disco.
To end the journey, the visitors could enjoy a culinary tour in the Food & Beverage area. The 10 participating tenants in the area, like Mary’s Pastry Lab, Sugarush, Surely/Someday+Kitchen, Bubble Trouble, and so, could be an enjoyable and pleasurable end of a pleasant journey.

Sun Wahyu of Surely/Someday+Kitchen who participated in the event said that he contributed in the exhibition to see the market’s condition in Jakarta. “Surely/Someday+Kitchen has always been online. By participating in the event, we want to see the market of Jakarta and how people respond to our products. Besides, we also want our products can be recognized by a wider community, especially in Jakarta,” said Sun.

Written by Ahmad Fajar / Photo by Marisa Aryani

Comments { 0 }

Madeleine Bistro, Sajikan Menu Perancis Dalam Konsep Klasik dan Modern

Terletak di dalam Kemang 89 Building di bilangan Kemang Jakarta Selatan, sebuah Bistro Perancis, Madeleine Bistro menempati area di bagian dalam lantai 1 setelah Decorous yang juga menempati gedung yang sama. Hadir sejak Desember 2011, Madeleine Bistro membawa menu Perancis ke area yang dikenal dengan lingkup ekspatriatnya yang luas. “Belum adanya restoran yang menyajikan menu Perancis di bilangan Kemang membuat para pemilik Madeleine Bistro sepakat memilih area Kemang untuk menghadirkan beragam sajian ala Perancis,” buka Donna Devira, PR & Marketing Manager dari Madeleine Bistro.

Nuansa nyaman dan lega sangat terasa karena penggunaan jendela kaca yang dominan disertai struktur ruangan bistro dan penggunaan beberapa macam lukisan dari yang klasik hingga modern, disertai aksen warna merah pada beberapa sofa maupun warna dinding. “Salah satu pemilik Madeleine Bistro juga pemilik dari Decorous. Jadi, unsur seni memang sangat diperhatikan saat membangun Madeleine Bistro ini. Konsep bistro ini sendiri merupakan paduan dari klasik dan modern, baik pada desain maupun menu makanannya,” jelas Donna.


Madeleine – Traditional French Pastry

Mengusung nama Madeleine, banyak yang akan mengira diambil dari nama salah satu pastry tradisional dari Perancis yang juga bernama sama. Tapi, rupanya inspirasi nama Madeleine hadir dari sosok seorang wanita Perancis. “Para pemilik Madeleine Bistro memang mendapatkan inspirasi nama dari seorang wanita Perancis bernama Madeleine yang sangat gemar memasak hingga akhirnya memiliki usaha restorannya sendiri,” papar Donna.

Tapi, rupanya di Madeleine Bistro juga tersedia Madeleine, pastry klasik dari Perancis tersebut. “Kami menyediakan Plain Mini Madeleine untuk kondimen coffee dan tea. Ukurannya memang mini, tetapi jika menginginkan Madeleine dalam ukuran yang lebih besar bisa memesan dari menu dessert kami,” kata Donna. Menu yang dimaksud Donna adalah Trio de Gateaux Madeleine. Penyajian 3 buah Madeleine dalam 3 rasa berbeda, yaitu mixed nuts Madeleine, Raspberry Madeleine dan Chocolate Madeleine yang disajikan dengan berries dan chocolate sauce serta taburan kacang pistachio tumbuk dalam presentasi menarik dan terkesan astistik.

Tekstur dari Madeleine yang disajikan di Madeleine Bistro terbilang baik, dengan bagian luar yang memiliki crusty yang sedikit garing dengan bagian dalam yang moist dengan aroma mentega yang harum. Adonan dasar dari Madeleine tersebut, menurut Donna menggunakan campuran kulit jeruk orange yang terasa cukup kuat dengan aroma citrus yang segar saat mencicipi plain Madeleine.

Dari Entrées Hingga Desserts
Di Madeleine Bistro, menu yang tersaji terbilang lengkap. Mulai dari Entrées dengan ragam menu seperti Salade Nicoise, Foie Gras aux Pommes Caramélisées, Escargots ataupun salah satu best seller entrées di Madeleine Bistro, Vol au Vent de Fruits de Mer. “Vol au Vent de Fruits de Mer adalah sajian yang menggunakan puff pastry yang dipanggang hingga renyah lalu diberi isian tumisan bayam berbumbu dan beberapa macam seafood yang dimasak dengan saus krim yang gurih. Vol au Vent de Fruits de Mer ini lebih baik disantap langsung setelah disajikan supaya puff pastrynya tetap renyah dan citarasanya terjaga,” jelas Donna.

Beralih dari Entrées, Anda bisa memilih sajian Main Course seperti dalam kategori Le Meilleur du Riz, yakni sajian menu utama yang menggunakan buttered rice sebagai carbo side dish-nya. Masih ada kategori Le Plats Principaux dengan sajian menu utama ala Perancis, seperti Fillet de Saumon Infuse au Thyme at Citron Vert, Confit de Canard, Ballotine de Volaille aux Cépes dan sebagainya. “Salah satu menu utama favorit di sini adalah Poulet de Bresse aux Epinards yaitu daging ayam yang diisi dengan bayam tumis dan diberi saus jamur dari beberapa campuran jamur untuk mendapatkan hasil gurih dan khas. Lalu untuk dessert tersedia beberapa pilihan seperti Crème Brulee, Warm Cherries Jubilee, Mousse au Chocolat dan sebagainya,” tutup Donna.

Kemang 89 Building – Jl. Kemang Raya No. 89 Jakarta Selatan

Written by Dewi Sri Rahayu
Photo by Hendri Wijaya

Comments { 0 }

La Creperie: Crepes dan Galettes ala Brittany Sebagai Sajian Tradisional Pastry Perancis

Salah satu resto baru berkonsep unik yang patut dikunjungi di kawasan PIK adalah La Creperie. Mulai dibuka untuk publik sejak awal Februari 2013, La Creperie hadir dengan konsep resto yang menyajikan sajian crepes dan galettes, sajian tradisional dari daerah Brittany. “Brittany adalah daerah yang terletak di bagian Utara Perancis. Lokasinya dekat dengan laut dan selain dikenal dengan sajian olahan seafood-nya, juga dikenal dengan crepes dan galettesnya,” buka Marcelia Yovian Djong, Director sekaligus Founder dari La Creperie Jakarta.

Sesuai konsep ala Brittany, Marcelia pun membawa nuansa pesisir Brittany ke dalam area restonya dengan lantai kayu yang mengingatkan pada nuansa dek kapal dengan kapasitas tempat duduk 45 kursi di area dalam dan sekitar 30 untuk area luar. Hiasan dinding seperti jangkar, pajangan berbentuk kapal laut hingga sebuah pilar yang menurut Marcelia dimaksudkan sebagai wujud mercusuar turut melengkapi nuansa ala Brittany di La Creperie. “Di Brittany banyak sekali terdapat mercusuar, sehingga terpikir oleh kami untuk membuat tiruannya, tentunya dengan skala kecil sesuai luas ruangan area resto,” jelas Marcelia yang sebelum membuka La Creperie menyempatkan diri mengunjungi Brittany dan sempat belajar membuat crepes dan galettes dari seorang pengusaha crepes dan galettes kenalannya.

Crepes, Galettes dan Cider
Sehari-hari, Marcelia bersama 2 orang temannya yang tergabung dalam tim management La Creperie, yaitu Lorent Susanto sebagai General Manager dan Alexa Stella Fortunata sebagai Finance Manager terus memantau jalannya operasional dari tim dapur dan service La Creperie. “Saya juga bertanggung jawab dalam hal products development selain bertanggung jawab sebagai General Manager. Di La Creperie, kami memang lebih mengutamakan dalam menyajikan menu crepes, galettes dan cider. Tetapi, kami juga memiliki menu lain seperti fingers food, beer, minuman kopi maupun teh dan ke depannya kami juga akan menyajikan menu-menu baru,” jelas Lorent Susanto.

Menurut Lorent, resep adonan crepes dan galettes yang digunakan di La Creperie adalah resep asli dari Brittany. “Tapi, untuk variasi topping, kami berusaha berkreasi dengan banyak ragam sehingga tersedia banyak pilihan untuk para pelanggan La Creperie,” ujar lulusan Visual Communication – Raffles Design Institute Singapore ini.
Seperti layaknya crepes ala Perancis, crepes yang disajikan di La Creperie bukanlah tipe crepes renyah. “Crepes khas Brittany yang kemudian dikenal luas di Perancis memang memiliki tesktur yang lembut dengan paduan topping manis. Di Perancis, jika memesan crepes itu berarti sajian yang manis. Untuk sajian crepes asinnya, masyarakat di Perancis termasuk Brittany lebih mengenal galettes. Galettes dibuat dari buckwheat atau sejenis gandum hitam yang memiliki aroma seperti kopi. Crepes dan galettes termasuk sajian pastry tradisional yang merupakan olahan rumahan sehari-hari masyarakat di sana,” jelas Lorent.

“Dan biasanya, di sana crepes dan galettes selalu disajikan dengan Cider. Cider adalah minuman tradisional Perancis yang terbuat dari buah apel yang sudah difermentasi tetapi bukan cuka apel yang banyak ada di pasaran. Cider terbaik di Perancis didapat dari Brittany dan Normandy karena kedua daerah itu merupakan penghasil buah apel terbaik di Perancis. Cara meminum Cider pun khas, harus menggunakan mangkuk, bukan gelas. Karena kebiasaan tradisional masyarakat di sana menyantap crepes dan galettes seperti itu, jadi konsep yang sama kami terapkan juga di La Creperie,” kata Marcelia.

Kesulitan mendapat bahan baku impor diakui Marcelia sebagai salah satu kendala. “Untuk buckwheat masih kami impor karena jelas tepung ini hanya ada di negara 4 musim. Lalu, kesulitan mendapatkan Cider juga sempat menjadi salah satu kendala, karena di sini belum ada supplier Cider langsung dari Perancis. Sekarang, kami memakai English Cider yang dibuat di Bali. Citarasanya tidak jauh beda dengan Cider yang asli dari Perancis,” papar Marcelia yang sempat mengambil pendidikan Banking and Finance di Northumbria University, Newcastle Upon Tyne.

Ruko Crown Golf – Blok D No. 6-7 Pantai Indah Kapuk (PIK) Jakarta Utara

Written by Dewi Sri Rahayu
Photo by Hendri Wijaya

Comments { 0 }
x
Selamat Natal 2014 dan Tahun Baru 2014
Team Bakery Magazine Mengucapkan Selamat Hari Natal 2014 dan Tahun Baru 2014.