Archive | Recommended RSS feed for this section

Soerabi Bandung Kebayoran: Kreasikan Beragam Topping Serabi Khas Bandung

Serabi adalah salah satu jenis kue tradisional atau jajan pasar Indonesia yang memiliki keterkaitan akar budaya yang kental, sehingga di berbagai daerah di Indonesia terdapat jenis serabi yang berbentuk mirip antara satu sama lain dan umumnya dibuat dari bahan baku yang hampir sama. “Daerah yang terkenal dengan serabinya adalah Bandung, Solo, Yogya hingga Pekalongan dan umumnya memakai tepung beras serta santan kelapa segar sebagai bahan baku utamanya,” buka Noverio Rahmawan Pradhana Putra, founder dan owner Soerabi Bandung Kebayoran yang akrab disapa Rio ini.

Menurut Rio, usaha restoran yang berkonsep modern tradisional Indonesia ini adalah usaha keluarga yang sudah berdiri sejak April 2011. Hingga kini, Soerabi Bandung Kebayoran sudah memiliki 2 cabang yakni di daerah Jl. Raya Serpong dan Taman Jajan Villa Melati Mas Serpong, Tangerang. “Untuk lokasi di Jl. Ahmad Dahlan ini, area resto kami terdiri dari 2 lantai dengan total kapasitas tempat duduk mencapai sekitar 240 kursi. Ke depannya kami sedang berencana untuk merenovasi sebagian area untuk dijadikan ruangan ber-AC, karena saat ini ruangan ber-AC yang kami miliki hanya memiliki seating capacity sekitar 12 orang saja,” jelas Rio

Konsep Makanan Tradisional Indonesia
Rio rupanya terinspirasi dari hobinya sendiri yaitu menyantap berbagai makanan lezat. “Karena hobi itu saya memutuskan untuk membuka usaha restoran dengan dukungan kedua orang tua saya dan keluarga. Konsep yang terpikir adalah konsep restoran yang menawarkan beragam menu serabi yang akhirnya meluas hingga ke berbagai menu makanan tradisional Indonesia maupun Western dan Chinese Food. Akhir Januari 2013 kami mengeluarkan beberapa menu makanan Indonesia seperti Ayam Cabe Hijau, Ayam Tangkap, Ikan Nila Bakar, Sambal Matah dan sebagainya untuk memperbanyak varian menunya,” jelas Rio.

Yang paling menarik perhatian ketika bertandang ke Soerabi Bandung Kebayoran adalah area yang dibuat menjadi dapur terbuka seperti dapur pengolahan serabi yang lengkap dengan wajan tanah liat beserta tutupnya yang begitu khas maupun gerobak bakso dan bubur ayam yang akrab dalam kuliner khas Indonesia. “Ada juga open kitchen yang khusus memasak hidangan dari domba seperti nasi goreng domba dan tongseng domba,” jelas Rio.

Restoran yang memiliki target market yang luas mulai dari keluarga, usia anak-anak hingga remaja sampai usia yang lebih dewasa ini diakui Rio menargetkan pengunjung yang berasal dari lingkungan setempat maupun di luar area Kebayoran Baru. “Sejauh ini pelanggan kami juga ada yang datang dari luar Jakarta seperti Bogor dan sebagainya,” kata Rio yang sempat melanjutkan studinya dengan mengambil Business Information Technology di Staffordshire University.

Menu Favorit
Banyaknya ragam menu yang ditawarkan Soerabi Bandung Kebayoran menjadi kelebihan yang dapat menarik banyak pengunjung. “Sejauh ini bubur ayam, nasi bakar dan bakso cukup menjadi favorit meskipun menu lainnya juga termasuk baik dari segi penjualan setiap harinya,” jelas Rio. Selain menu makanan dan minuman yang tersedia, menu serabi adalah menu yang paling menarik perhatian, sesuai dengan nama restoran dan adanya dapur pembuatan serabi yang begitu mencolok dan terletak di bagian depan restoran.

“Serabi yang kami jual adalah serabi khas Bandung. Untuk adonannya, kami menggunakan santan kelapa segar yang diparut sendiri karena faktor kualitas rasa yang jauh lebih baik daripada penggunaan santan instan. Tapi, kekurangan penggunaan santan kelapa segar adalah daya tahannya yang sebentar atau mudah basi. Solusi yang kami lakukan adalah membeli kelapa tersebut baru setiap pagi hari sebelum proses produksi, supaya terjamin kesegaran hasil serabinya,” papar Rio.

Inovasi Topping Serabi
Soerabi Bandung Kebayoran punya banyak pilihan topping serabi yang unik dan inovatif. “Awalnya rasa serabi terbatas pada rasa polos berkuah kinca aren dan serabi oncom yang khas. Di sini, selain menawarkan 2 varian klasik itu, kami juga menyediakan beragam varian topping yang cocok dikombinasikan dengan serabi yang kami buat,” kata Rio. Diakui Rio menambahkan varian topping serabi dalam menu serabinya sangatlah penting supaya para pelanggan tidak cepat bosan dan memiliki keleluasaan dalam memilih topping serabi favoritnya masing-masing.

“Sampai saat ini, serabi yang paling banyak dipesan adalah serabi durian dan kuah polos. Duriannya kami pakai durian segar, bukan esen. Serabi lainnya yang juga termasuk favorit adalah serabi pisang cokelat, serabi oncom ayam telur keju spesial dan serabi chocoreo cheese ice cream. Kami juga punya menu serabi kurma yang dipadu dengan cokelat ataupun keju dan es krim,” ungkap Rio.

Hasil inovasi topping serabi tersebut membuat Rio dan tim nya mampu menjual di kisaran rata-rata 200-300 buah perharinya. “Penjualannya merata antara serabi dan makanan serta minuman, tapi di akhir pekan penjualan serabi memang meningkat,” kata Rio.

Rasa serabi di Soerabi Bandung Kebayoran memang terasa spesial karena memiliki tekstur yang cukup lembut dengan rongga dalam yang berserat dan rasa serabi yang tidak terlalu manis serta tanpa jejak asam khas ragi. “Kami tidak memakai ragi untuk mengembangkan serabi ini, jadi murni karena teknik pembuatannya yang masih tradisional dengan bahan baku lokal segar yang menjamin tekstur serabinya berserat dan tidak bantat,” tutup Rio. Soerabi Bandung Kebayoran buka setiap hari, dan jam bukanya untuk Minggu-Kamis dari jam 07.00 – 23.00 dan setiap hari Jumat-Sabtu dari jam 07.00-24.00.

Jl. K.H. Ahmad Dahlan No.22A Kebayoran Baru

Written by Dewi Sri Rahayu
Photo by Hendri Wijaya

Comments { 0 }

Cream-Me: Andalkan Produk Makanan Kreatif

Banyak orang yang tinggal di kota besar seperti di Jakarta memang sudah cukup familiar dengan jenis makanan dan minuman yang memiliki citarasa yang creamy. Hal ini tentu tidak lepas dari kemajuan industri makanan dan minuman yang kemudian banyak mengenalkan jenis-jenis makanan dan minuman bercitarasa creamy tersebut. Jennifer Octavia yang akrab disapa Jennifer ini rupanya turut melihat hal tersebut sebagai peluang yang dapat diproses kembali menjadi sebuah bisnis.

Jennifer sendiri mengakui bahwa ia menggemari makanan yang bercitarasa creamy. “Saya juga hobi masak, pengaruh dari Ibu saya yang sangat piawai dalam memasak dan membuat kue. Ibu saya juga pernah memiliki toko kue, sebelum akhirnya ditutup karena memutuskan untuk fokus di pelayanan Gereja,” buka Jennifer. Bakat memasak memang rupanya menurun dari sang Ibu.

Saat mencoba berbagai makanan di berbagai restoran, Jennifer beberapa kali menemukan citarasa makanannya masih kurang creamy. Jadi, ia memutuskan mencoba untuk belajar membuatnya di rumah dengan citarasa yang ia inginkan. “Saat menawarkan kepada teman-teman saya, rupanya mereka menyukainya dan memberi saran supaya saya menjadikannya ini bisnis. Tanggapan keluarga juga positif,” jelas Jennifer.

September 2011 menjadi awal peruntungan Jennifer berbisnis makanan dengan cara penjualan online. “Saya ingin brand image building dulu serta melihat tanggapan pasar akan bisnis yang saya buat. Penjualan lewat online, saya nilai cukup baik untuk memasarkan produk bagi pengusaha baru seperti saya karena dapat menjangkau pembeli yang lebih luas serta minim biaya sehingga tidak terlalu beresiko ketika baru memulai bisnis,” kata lulusan Food Technology – Universitas Pelita Harapan, Jakarta ini.

Konsep Makanan yang Creamy
Produk yang dijual Jennifer memang belum banyak. “Sampai saat ini masih fokus menjual 3 produk saja, seperti Lasagna, MacCheese atau macaroni & cheese serta Coconut Pudding atau puding kelapa. Karena permintaan beberapa teman dan pelanggan setia untuk menjual dessert yang creamy, crème brulee akhirnya saya pilih sebagai menu baru yang ada di Cream-Me,” papar Jennifer.

Melihat nama-nama produk yang ada di Cream-Me, pada awalnya tentu berpikir, tidak ada yang terlalu spesial atau kreatif. Tapi, ketika mengetahui kesinambungan konsep awal maupun berani mengambil konsep yang berbeda serta mencicipinya baru terlihat kreatifitas Jennifer dalam olahan produk-produk yang ia buat. Macaroni cheese yang ditawarkan oleh Jennifer berbeda dengan macaroni cheese kebanyakan. “MacCheese yang saya buat tidak bisa rapih jika dipotong, karena konsepnya adalah creamy MacCheese jadi cara makannya adalah disendoki, mengingat teksturnya yang creamy dan tidak padat,” jelas Jennifer. Memang, beberapa macaroni panggang yang banyak dijual dapat dipotong rapih dengan pisau, menunjukkan teksturnya yang lebih padat.

Jennifer mengakui tanggapan para pelanggannya cukup positif, dilihat dari omzet yang menurutnya dapat naik saat mendekati momen-momen khusus seperti Lebaran, Natal dan Tahun Baru serta Imlek. “Produk-produk yang saya jual ternyata diminati oleh beragam kalangan dan usia. Padahal awalnya fokus target market saya adalah usia 19-30 an, tapi setelah berjalan justru pelanggan setia datang juga dari usia remaja maupun yang lebih dewasa. Bahkan banyak Ibu muda yang sengaja membeli karena permintaan anak-anaknya yang masih kecil,” ungkap Jennifer.

Coconut Pudding yang Jadi Favorit
Meskipun konsep keseluruhan adalah citarasa makanan yang creamy, namun Jennifer mengakui ia tidak akan menutup kemungkinan hadirnya konsep produk berbeda jika hal itu diminati oleh pangsa pasar yang ada. “Contohnya produk Coconut Pudding ini yang bukan olahan dengan rasa dan tekstur creamy, namun rasanya cenderung segar dan teksturnya lembut,” kata Jennifer.

Coconut Pudding yang ada di Cream-Me memang berbeda dari puding kelapa yang banyak dijual di pasaran. “Coconut Pudding dalam batok kelapa memang masih sedikit yang menjualnya di Jakarta. Saya melihat ini sebagai peluang pasar, karena itulah saya mencoba kembali berkreasi menciptakan resep yang tepat untuk puding kelapa yang disajikan dalam batoknya. Dan ketika mengeluarkan produk ini, saya kerap memberikan sample untuk pelanggan setia dan kembali mendapat tanggapan yang positif. Karena tampilannya yang unik serta citarasanya yang segar, coconut pudding ini menjadi salah satu produk favorit yang ada di Cream-Me,” kata Jennifer.

Jennifer mengakui ia memakai jenis kelapa bakar dari Thailand, karena ia menginginkan air kelapa di dalamnya yang rasanya lebih manis untuk kemudian diolah menjadi puding. “Baru selanjutnya saya masukkan kembali dalam batoknya hingga puding mengeras,” jelas Jennifer. Coconut Puddingnya sendiri hadir dalam varian original dan nata de coco dengan pengemasan yang dilakukan dengan cara melapisi keseluruhan batok kelapa mempergunakan plastic wrap lalu dibungkus plastik kemasan berlogo Cream-Me sehingga aman ketika didelivery. Pembelian 2 buah disebut Jennifer sebagai pembelian minimal Coconut Pudding tersebut yang dilabeli dengan harga satuan Rp.30.000,-. “Saya tidak ingin memberati pelanggan yang mungkin tidak ingin membeli terlalu banyak atau hanya ingin sekedar mencoba dulu,” pungkas Jennifer.

twitter.com/CreamMe_Enough

Written by Dewi Sri Rahayu
Photo by Hendri Wijaya

Comments { 0 }

Ming Kopitiam, Melestarikan Budaya Nusantara Dari Secangkir Kopi

Budaya selalu berkembang dinamis seiring berjalannya waktu. Karakter yang dinamis membuat budaya bila tidak dilestarikan akan rentan tergerus oleh budaya asing yang belum tentu cocok. Imbasnya, budaya tradisional sebagai ciri khas suatu wilayah atau negara akan hilang digantikan budaya asing.
Bila itu terjadi, sungguh amat disayangkan karena sebagai negara kepulauan, Indonesia sangat kaya akan budaya tradisional. Apalagi di bidang kuliner, ragam karakteristik geografis dan penduduk di tiap pulau, membuat budaya kuliner di Indonesia tidak akan pernah habis untuk dieksplorasi. Contoh sahih yakni kopi. Dari ujung utara pulau Sumatera hingga di ujung timur Papua, Indonesia memiliki kopi dengan karakteristik yang berbeda-beda sesuai dengan kondisi geografis di pulau tersebut.
Kekayaan budaya kuliner dan kopi khas Indonesia ini turut menginspirasi Ming Kopitiam dalam menyajikan aneka kopi dan jajanan tradisional dalam satu kesatuan konsep. “Berkaitan dengan bisnis kue tradisional yakni market butik kue tradisional saya, kemudian bergandeng dengan kopitiam konsepnya juga tradisional. Konsep kopi tradisional yaitu kopi tubruk, jadi kita ingin mengembalikan memori bahwa kopi tradisional adalah kopi tubruk lengkap dengan ampasnya,” ujar Mindiharto Djugorahardjo, pemilik Ming Kopitiam.

Sejalan dengan konsep kopi tradisional, Ming Kopitiam juga mengandalkan biji kopi dari pelosok daerah di Indonesia sebagai andalannya. Biji kopi dari daerah seperti Aceh, Jambi, Kalimantan hingga Wamena dan Papua disajikan dengan cara kopi tubruk. Tidak hanya itu, metode penyajiannya pun dibuat sama seperti di daerah aslinya. Sebagai contoh di Kopi Aceh Gayo, Ming Kopitiam menyajikan secangkir kopi tetapi masih terdapat biji kopi Aceh Gayo di dalamnya. “Jadi biji kopi Aceh Gayo ini sudah tidak lagi keras, karena sudah diseduh jadi empuk dan bisa digigit,” jelas Mindiharto.

Dapatkan Biji Kopi Langsung Ke Daerah
Gerai Kopitiam Ming memang nyaman dan juga cocok untuk dijadikan sebagai tempat untuk temu bisnis ini kini memiliki 23 jenis kopi. Sebagai kopi favorit para pelanggannya adalah Kopi Aceh Gayo dan juga Classic yang merupakan biji kopi home blend dari Ming Kopitiam. Mendapatkan biji kopi dari berbagai daerah ini pun tidak sembarang memercayakan pada distributor yang ada. Mindiharto mencari langsung ke daerah dan mengumpulkan langsung informasi dari masyarakat setempat.
Dalam eksplorasi biji kopi dari penjuru Nusantara ini, Mindiharto turut ditunjang dengan pekerjaannya sebagai konsultan marketing. Ini pula yang membawa Mindoharto, pergi ke pelosok daerah sembari mencari kopi-kopi dan kue tradisional yang nantinya akan dikembangkan di Ming Kopitiam. “Jadi sebagai konsultan, saya banyak traveling, dari situ saya sekalian mencari kopi dan kue tradisional yang paling berkualitas,” ujar Mindiharto.

Kopi-kopi yang didapat pun ada yang sudah dalam bentuk bubuk ataupun masih dalam bentuk biji kopi. Sebagian besar biji kopi yang didapat dibeli dalam partai besar dari distributor. Sadar akan rentannya penurunan kualitas biji kopi, sistem penyimpan kopi pun turut diperhatikan. “Kami tidak menyimpan terlalu banyak di toko, hanya saja kalau sudah habis tinggal ambil di gudang,” ungkap Mindiharto.

Penanganan Khusus Untuk Menjaga Kualitas Kopi
Dalam menjaga kualitas biji kopi dalam bentuk biji dan bubuk membutuhkan penanganan yang berbeda. Biji kopi yang sudah dalam bentuk bubuk memerlukan penanganan yang lebih intensif dibanding dalam bentuk biji. Bila dalam bentuk biji kopi, tinggal di-grinder (giling) saja sesuai dengan kebutuhan, sedangkan dalam bentuk bubuk kemasannya pun harus turut diperhatikan.

Dijelaskan oleh Mindiharto, untuk menjaga kualitas kopi terutama dalam bentuk bubuk kuncinya adalah kemasan yang divakum / kedap udara dan temperatur yang tidak boleh lembab. “Kemasannya tidak bisa sembarang, kami pakai aluminum dan itu di-sealed, jadi kemungkinan udara bocor terhindar dan konsistensi dalam hal suhu lebih terjaga,” ungkap Mindiharto.

Gudang penyimpanan cukup merupakan ruangan yang biasa, hanya saja tidak boleh terkena terik matahari dan tidak boleh pula terkena udara dingin seperti kamar ber-ac. “Jadi kalau sedang panas atau pun suhu dingin, diatur ventilasi dalam ruang penyimpanannya,” ungkap Mindiharto.
Berbagai cara yang dilakukan dalam menjaga kualitas biji kopi tentu untuk satu alasan, yakni secangkir kopi yang nikmat dan sarat akan nilai budaya. Bagi Mindiharto, setiap kopi dari daerah memiliki ciri khas sendiri dan patut untuk dilestarikan.“Saya cinta Indonesia, siapa lagi yang mau melestarikan kekayaan alam Indonesia dan saya ingin mengangkat kekayaan budaya nusantara dari aspek kuliner terutama kopi dan kue tradisional,” tegas Mindiharto.

Menteng Huis, Lantai 2. Jl. Cikini Raya, Jakarta Pusat

Written by Dody Wiraseto
Photo by Albertus Dendy Indra

Comments { 0 }

Excelso Cafe, Inovatif dan Sensitif Terhadap Tren yang Berkembang

Jauh sebelum kopi menjadi bagian dari lifestyle seperti saat ini, Excelso sudah mulai memperkenalkan kopi berkualitas bagi masyarakat Indonesia. Tahun 1991, dimana coffee shop belum sebanyak sekarang dan jaringan coffee shop internasional belum masuk, Excelso sudah berdiri sebagai coffee shop lokal pertama yang menyajikan kopi berkualitas. Sebagai bagian dari Kapal Api Group, Excelso berusaha memperkenalkan definisi kopi berkualitas menurut mereka ke masyarakat Indonesia.

“Kopi yang berkualitas adalah kopi yang diperhatikan A hingga Z, dalam arti kata, kopi yang diperhatikan bagaimana perkebunannya, proses penanamannya bahkan hingga karung penyimpanannya pun berpengaruh pada kualitas kopi. Kemasan yang memadai, kemudian disajikannya seperti apa, itu pula yang menjadi penilaian kopi yang berkualitas” ungkap Hanny A. Elvind, Marketing Communication Manager, PT. Excelso Multirasa, perusahaan yang menaungi Excelso Cafe.

Walaupun Indonesia sendiri merupakan negara yang kaya akan varietas biji kopi, namun pada kenyataannya pengetahuan masyarakat Indonesia tentang kopi yang berkualitas belumlah mendalam. Dari fakta yang ada saat itu membuat Kapal Api merasa perlu membuat sebuah cafe untuk mengedukasi masyarakat tentang kopi yang berkualitas. Ditambah lagi saat itu, Kapal Api meluncurkan biji kopi dengan merek Excelso.

Tujuan yang awal Excelso hanya untuk mengedukasi masyarakat tentang kopi berkualitas, ternyata menjadi “senjata andalan” Excelso Cafe bertahan hingga kini. Excelso Cafe mampu menancapkan posisi mereka sebagai local coffee shop yang memiliki ragam kopi berkualitas. “Momen yang membuat Kapal Api dirasa perlu untuk membuat cafe, dan secara tidak langsung kami sudah mengantisipasi trend kopi yang ada yang seperti sekarang. Kalau tidak begitu kami tidak akan bisa bertahan seperti sekarang,” ungkap Hanny.
Perkuat Posisi Melalui Album Musik
Eksistensi yang kini menginjak 21 tahun ini tidak terlepas dari strategi marketing yang diterapkan Excelso Cafe. Hanny mengungkapkan dalam mempertahankan esksistensi Excelso Cafe hingga kini maka Excelso harus inovatif dan juga sensitif terhadap trend yang berkembang. Salah strategi marketing inovatif Excelso dalam memperkuat posisi mereka di masyarakat dan terbukti mendapat respon positif dari customernya adalah meluncurkan CD Musik.“Tujuan Excelso Cafe mengeluarkan album CD lebih ke arah memosisikan brand Excelso sendiri di masyarakat,” ungkap Hanny.

Dalam meluncurkan CD Music pun tidak terlepas dari kejelian dalam melihat trend yang berkembang saat ini. Hanny menjelaskan, kini orang tidak lagi datang ke coffee shop untuk sekedar minum kopi, kadang mereka datang lebih ke arah lifestyle dimana mereka berkumpul bersama teman, meeting ataupun hanya untuk mencari wi-fi saja mereka ke coffee shop. “Jadi Excelso merepresentasikan lifestyle melalui musik. Musik yang dipilih adalah jazz, dan tahun ini adalah CD yang ketiga,” ungkap Hanny.

Guna menunjukan identitasnya sebagai local coffee shop Indonesia, Excelso Cafe tahun ini memilih membuat cover lagu Indonesia. Beragam penyanyi ternama tanah air dipilih untuk membawakan lagu yang diarransemen ulang. “Tahun ini kami memilih lagu non-jazz tapi dibuat jazz dan merupakan lagu-lagu Indonesia,” jelas Hanny.

Aneka Produk Untuk Berbagai Karakter Pelanggan
Strategi marketing inovatif dan juga peka terhadap trend yang berkembang pun membuat Excelso Cafe kini sudah tersebar di 25 kota di Indonesia. Menutup tahun 2012 ini, Excelso Cafe berhasil melebarkan cabangnya menjadi 100 cabang. Dari semua cabang yang ada, Excelso Café ternyata memiliki karakter pelanggan yang berbeda-beda. Karena itu untuk menjawab permintaan pelanggannya, Excelso Cafe semakin melengkapi aneka produknya.
“Konsumen kini cenderung minum kopi sebagai lifestyle. Selain menyediakan kopi-kopi hitam, kami juga menyediakan kopi-kopi yang sifatnya fancy seperti ice blended, kemudian ada menu yang lain seperti buah dicampur dengan kopi. Ada lagi produk full non-coffee, karena di berbagai lokasi ternyata ada pelanggan yang segmennya adalah keluarga, apalagi kalau di daerah / luar kota,” ujar Hanny.

Sebagai pilihan bagi para pecinta minuman kopi hitam, Excelso Cafe juga memiliki beragam produk dari biji kopi berkualitas dari bumi Indonesia. Biji kopi seperti Java Arabica, Robusta, House Blend, Sumatera Mandheling, Kalosi Toraja dan Kopi Luwak semua tersedia di gerai Excelso Cafe. Selain bisa dinikmati di Excelso Cafe, biji kopi tersebutpun juga dijual di pasaran, termasuk kopi Luwak. “Kopi Luwak biasanya dikemas sebagai merchandise gift karena biasanya dibeli untuk dijadikan gift,” tuntas Hanny.

Kota Kasablanka Mall.
Upper Ground, Unit MU-36.
Jl. Casablanca Raya, Kav. 88.
Jakarta Selatan

Written by Dody Wiraseto
Photo by Hendri Wijaya

Comments { 0 }

Chatime: Pelopor Tea Cafe di Indonesia

Industri cafe memang merupakan dunia yang cepat menyebar seiring dengan gaya hidup masyarakat yang berkembang pesat. Terbukti dengan banyaknya cafe shop yang tumbuh segar dimana-mana. Tak hanya berbasis minuman kopi, belakangan ini fenomena kafe dengan spesiality teh hadir di Indonesia, diantaranya Chatime yang merupakan terobosan terbaru di bidang minuman teh khususnya. Brand asal Taiwan ini mengambil konsep tea cafe yang sebelumnya belum ada di Indonesia.
“Di Taiwan sendiri, konsep tea cafe seperti ini memang sudah lama dan bukan merupakan hal yang baru. Namun, di Indonesia kami lihat belum ada cafe yang menawarkan konsep seperti itu sehingga kami ingin membawa masuk konsep tea cafe ini. Sebelumnya memang ada konsep tea cafe di Indonesia tapi dengan konsep generasi sebelumnya, maksudnya di sini mereka bukan menggunakan fresh tea tetapi menggunakan bubuk yang dicampur dengan air,” ujar Feronia Wibowo, General Manager PT. Foods Beverages Indonesia, perusahaan yang menaungi Chatime.

Tea cafe yang masuk ke Indonesia sejak bulan Maret tahun 2011 lalu ini, memang terbilang agresif pada ekspansinya. Per akhir tahun ini, Chatime telah memiliki 47 gerai yang tersebar di seluruh Indonesia. “Setiap tahun kami memang mempunyai target untuk membuka cabang yang penyebarannya sebagian besar adalah mall atau menyatu dengan gedung Ace Hardware. Pada bulan Desember saja sudah ada 7 store baru yang kami buka yaitu Lippo Karawaci Mall, Emporium Pluit Mall, Pantai Indah Kapuk, Metropolitan Mall, dan dua di kota Surabaya,” ujar wanita yang akrab disapa Nia ini. Chatime sendiri berasal dari bahasa mandarin. “Cha itu dalam bahasa Mandarin artinya teh. Jadi Chatime maksudnya adalah “Tea Time”, ungkap Nia.

Varietas Teh pada Produk Chatime
Dengan konsep tea cafe, Chatime menawarkan berbagai jenis teh mulai dari dasar tehnya sendiri yaitu oolong tea, black tea, green tea, roasted tea, brown rice, sencha, genmaicha, dan lain sebagainya. “Untuk jenis brown rice tea memiliki bentuk yang menyerupai beras dan aroma yang pekat sehingga sangat bagus untuk relaksasi. Jika ingin lebih strong lagi ada juga genmaicha, yang menyerupai brown rice namun aromanya lebih strong,” jelas Nia.
Ada berbagai seri segmen yang ditawarkan oleh Chatime, antara lain Mellow Milk Tea yang menggunakan campuran susu dan teh. Ada pula Oriental Pop Tea yang diolah menggunakan mesin yang dinamakan teapresso dengan proses pengolahan yang tidak jauh berbeda dengan membuat espresso. Juga ada Chatime Special Mix, Fresh Tea, dan Mousse. “Mousse adalah foam, seperti layaknya cappuccino yang terdapat foam pada bagian atasnya. Perbedaannya mousse kami lebih kental dengan perpaduan rasa manis dan asin sehingga ada sensasi berbeda saat mengkonsumsinya,” ujar Nia.
Sebagian besar bahan dasar yang digunakan oleh Chatime di Indonesia diimpor langsung dari Taiwan, mulai dari teh, sirup hingga cupnya. “Di Taiwan, Chatime memiliki perkebunannya sendiri sehingga akan lebih mudah mengontrol kualitas daun tehnya,” ujar Nia. Saat ditanya menu yang menjadi best seller di Chatime, Nia mempunyai jawabannya sendiri. “Untuk anak muda, mereka lebih menyukai varian Mellow Milk Tea dan menu yang menjadi favorit adalah Hazelnut Chocolate Milk Tea. Sedangkan untuk yang sudah berumur, mereka lebih menyukai seri Oriental Pop Tea yaitu Japanese Sakura Sencha yang menggunakan bunga Sakura sebagai campurannya dan Japanese Genmacha,” ungkap Nia.

Menu Lain selain Teh Series
Walaupun mengambil konsep tea cafe, Chatime juga menyediakan menu kopi dan smoothies sebagai variasi menu lain bagi pelanggan yang ingin menikmati minuman selain teh. Untuk kopi tersedia menu kopi standar antara lain americano, house blended coffee, latte, cappucino, dan mochacino. Sedangkan untuk smoothies tersedia dalam berbagai rasa buah seperti mangga, strawberry, anggur, lemon, dan ada pula menu Passion Fruit Smoothies.
Untuk bubble, Chatime mengolahnya sendiri dengan bahan dasar tepung tapioka. “Bubble dibuat empat jam sekali dan tanpa menggunakan bahan pengawet sehingga sebaiknya bubble dikonsumsi langsung karena jika tidak segera dikonsumsi akan terjadi perubahan tekstur,” jelas Nia. Sebagai topping, Chatime juga menyediakan berbagai variasi seperti pearl, grass jelly, pudding, coconut jelly, red bean, aloe vera, coffee jelly, dan rainbow jelly. Mengingat target marketnya adalah semua kalangan, oleh karena itu untuk kadar gula dapat disesuaikan dengan selera (no sugar, normal sugar, dan extra sugar).

Menurut Nia, respon masyarakat terhadap hadirnya Chatime di Indonesia disambut positif mengingat teh merupakan salah satu komoditi utama di Indonesia. “Market di Indonesia cukup bagus, karena mayoritas masyarakat Indonesia memang penyuka teh,” ujar Nia. Ia juga menuturkan bahwa rencana ke depannya Chatime akan menyediakan makanan pendamping untuk minum teh. “Di PIK nanti, kami akan menyediakan menu Taiwanese Snack untuk pelanggan yang ingin menikmati teh sambil menikmati makanan ringan,” pungkas Nia.

Central Park, LG Fl Unit 154
Jl. Let. Jend. S. Parman Kav. 28, Jakarta

Written by Marisa Aryani
Photo by Willys Laureel

Comments { 0 }

DeChocola: Gerai Cokelat Berkonsep Homestyle Chocolate Berkualitas

Salah satu gerai cokelat yang menyajikan ragam cokelat berkualitas dengan konsep cokelat rumahan di Jakarta adalah DeChocola. “Terletak di dalam Foodhall dengan konsep gerai sederhana tapi berdisain ceria dengan dominasi warna soft pink dan krem, gerai DeChocola terlihat menarik dan modern.

Gerai yang dibuka pada tahun 2009 oleh pemiliknya Yoko Sulistio, seorang Ibu rumah tangga yang menyukai dan terbiasa menikmati cokelat sejak kecil ini, ternyata terinspirasi dari sang Ayah tercinta. “Ayah saya dulu pernah berjualan cokelat di Semarang. Sekitar tahun 1945-an setelah Indonesia merdeka, beliau yang baru menikah dengan Ibu saya dan baru memiliki 1 orang anak memang sempat berjualan cokelat yang diolah dengan cara dan kemasan yang masih sangat sederhana. Saat itu orangtua saya mendapat kiriman biji cokelatnya dari para petani setempat, kemudian diolah dengan tentunya ditambah susu dan gula pasir agar lebih enak disantap. Meskipun Ayah saya hanya memproduksi dan berjualan cokelat selama 2 tahun saja, tetapi kebiasaannya menyantap cokelat ditularkan kepada kami anak-anaknya. Ya, hal itu memang menjadi inspirasi terbesar saya dalam mewujudkan toko cokelat saya,” kenang wanita yang akrab disapa Yoko ini dan merupakan anak ke-6 di keluarganya.

Konsep DeChocola turut dipengaruhi oleh kedua putrid Yoko. “Tagline DeChocola adalah Homestyle Chocolate by DeeDee. Maksudnya saya ingin menjual cokelat yang diolah dengan cara sederhana mempergunakan alat-alat atau cetakan cokelat sederhana yang bisa dilakukan oleh Ibu rumah tangga seperti saya. Dan kata DeeDee merupakan singkatan dari nama kedua putri saya, Dita dan Dea. DeChocola sering juga disebut Chocola DeeDee oleh para customer setia kami. Selain itu, logo DeChocola yang merupakan sketsa gambar 2 anak perempuan pun juga diambil dari wajah kedua putri saya,” tutur Ibu dari 4 orang anak ini.

Local Couverture Chocolate
Walaupun berkonsep cokelat rumahan tidak serta merta membuat Yoko melupakan kualitas produk cokelatnya. “Saya menggunakan cokelat jenis couverture yang diproduksi oleh produsen lokal yang sudah dikenal berkualitas di pasar cokelat di Indonesia. Jenis cokelat ini memang lebih nikmat disantap karena mudah lumer di mulut dan memiliki citarasa cokelat asli yang alami. Sesuai dengan konsep produk kami yaitu tanpa bahan artifisial maupun bahan pengawet,” papar Yoko.
Keputusan menggunakan couverture chocolate tentunya memiliki kendala tersendiri. “Karena couverture chocolate memiliki kandungan lemak 100% cocoa butter atau lemak kakao, jadi titik lelehnya rendah sehingga sangat rentan terhadap suhu dan penanganan saat diolah lebih lanjut. Selain itu jenis cokelat ini juga harus melewati proses tempering yang dapat mempengaruhi kualitas hasil akhir olahan cokelatnya,” jelas Yoko.

Namun, kendala-kendala tersebut tidak menjadi halangan bagi Yoko dalam mewujudkan kreasi cokelatnya tersebut. “Tempat mengolah cokelat atau dapur produksi, saya buat dengan suhu yang sesuai untuk mengolah cokelat jenis couverture ini. Dan saat dikirim ke lokasi gerai penjualan maupun ke pelanggan harus menggunakan ice gell untuk mempertahankan suhunya dari suhu rata-rata kota Jakarta yang memang cenderung panas,” kata Yoko.

Rasa Unik Sebagai Inovasi Produk
Yoko ternyata gemar pula berinovasi dalam menciptakan rasa-rasa unik bagi pasar di Indonesia. “Produk unggulan kami adalah chocolate bark yaitu olahan cokelat berbagai rasa yang berupa potongan persegi dan dikemas per pieces. Rasa favorit adalah Fried Almond dan Cherry Krans. Target market kami adalah remaja dan Ibu muda meskipun banyak juga yang membeli dari kalangan yang lebih dewasa,’ papar Yoko.

Untuk memenuhi selera pasar yang gemar mencoba olahan cokelat dengan rasa yang unik, Yoko berinovasi dengan mengolah cokelat tersebut dengan penambahan rasa yang tidak biasa, seperti black pepper lime chocolate, chilli chocolate, abon chocolate dan sebagainya. Semua produk olahan cokelat tersebut dibuat dengan proses trial error untuk tetap mendapatkan rasa yang enak. “Prinsipnya, saya hanya menjual produk yang saya nilai enak dan tetap aman untuk dikonsumsi,” ungkap Yoko.
Di DeChocola, Yoko juga menjual aneka jenis Chocolate Bars berbagai jenis dan rasa, bahkan jenis dark chocolate 85%. “Jenis dark chocolate bar 85% menjadi favorit para pelanggan yang lebih dewasa dan merupakan penggemar cokelat sejati. Karena, mereka tahu persis citarasa alami dark chocolate yang pahit tersebut,” urai Yoko. Masih ada chocolate stick serupa es lilin yang cocok sebagai isi-an goody bag saat anak anda berulang tahun.

Selain menawarkan produk olahan cokelat, Yoko pun menerima pemesanan cookies dan cakes “Untuk cookies sudah ready tersedia di gerai cokelat kami setiap harinya. Tapi, untuk cakes harus melakukan pemesanan terlebih dahulu,” kata Yoko. Jenis cakes-nya mengacu pada kue klasik yang sudah dikenal oleh masyarakat Ibukota seperti Tiramisu, Opera Cake dan Black Forest.
Yoko lebih lanjut menjelaskan bahwa selain chocolate barks dan chocolate bars, heart pralines termasuk produk olahan cokelat di gerainya yang paling banyak dipesan saat Valentine. “Heart pralines tersebut dikemas dalam box eksklusif. Bentuknya memang menjadi alasan mengapa heart pralines sangat digemari para pelanggan kami saat Valentine tiba,” jelas Yoko.

Dan rupanya dengan variasi produk yang juga memasukkan jenis cookies ke dalam list produk yang dijual di DeChocola, Yoko tidak perlu khawatir sepi orderan saat hari-hari Raya semakin dekat, seperti Chinese New Year 2013 yang memang tidak identik dengan cokelat seperti halnya Valentine. “Cookies di DeChocola termasuk best seller saat menjelang hari Raya, seperti Lebaran, Natal maupun Chinese New Year. Karena selain menawarkan cookies jenis modern seperti cheese button dan almond button, saya juga tetap menawarkan citarasa cookies klasik seperti nastar, kaastengel, sagu keju maupun sultana yang tentunya sudah sangat dikenal oleh masyarakat kita. Dan semua cookies tersebut dibuat dengan menggunakan full butter untuk menjamin citarasa dan kualitasnya,” pungkas Yoko.

The Foodhall – Seibu Department Store, Grand Indonesia Jakarta

Written by Dewi Sri Rahayu
Photo Doc. DeChocola

Comments { 0 }

Dessert Company: Fokus Pada Sajian Dessert Berkualitas Dengan Harga Terjangkau

Pantai Indah Kapuk atau yang lebih sering dikenal dalam singkatannya PIK memang telah mengalami kemajuan besar dalam pertumbuhan usaha makanan dan minuman selama 1 tahun terakhir ini. Di kawasan yang terletak di utara Jakarta ini rupanya mulai menjadi target para pengusaha makanan dan minuman sebagai alternative venue untuk membangun usahanya tersebut. Begitu juga dengan Sawarto dan 3 rekan pendiri dan pemilik Dessert Company, sebuah resto kafe yang berfokus pada makanan penutup berkualitas. “Kami melihat kawasan PIK ini sudah mulai ramai dibangun restoran, kafe dan sebagainya dengan pertumbuhan market yang cukup positif,” buka Sawarto Widjaja salah satu founder dan owner Dessert Company.

Berangkat dari ide dasar yang fokus pada sajian penutup para pendiri dan pemilik Dessert Company sepakat mendirikan Dessert Company dengan bantuan dari konsultan Egghead yang sukses mengemas Dessert Company dalam konsep resto kafe yang unik dan fun sesuai keinginan para pemiliknya. “Saya dan 3 rekan lainnya yaitu Indra Hardiawan, Fenty Wong dan Nana memang menginginkan konsep yang out of the box. Bahkan kami menghabiskan investasi ratusan juta rupiah untuk branding Dessert Company. Featuring investor adalah bentuk hasil akhirnya yang diberikan EggHead dan kami merasa puas dengan keseluruhan branding yang dibuat Egghead mulai dari nama usaha, bentuk buku menu hingga desain ruangan yang unik dan fun,” papar Sawarto.

Melihat konsep Dessert Company yang soft openingnya dilaksanakan pada 9 November 2012 lalu tidak salah jika target marketnya pun tersegmentasi. “Young crowd, young audiences atau anak muda dengan range usia di bawah 30 tahun memang menjadi taget utama kami. Karena menurut kami anak muda zaman sekarang suka berkumpul di luar rumah bersama teman-temannya untuk hang out dan mencoba makanan dan minuman baru. Mereka tak segan-segan membayar lebih asalkan tempat berkumpulnya nyaman serta makanan dan minuman yang disajikan juga masuk selera mereka. Tapi, tentu saja Dessert Company juga terbuka bagi pengunjung yang lebih dewasa bahkan sudah banyak pengunjung keluarga yang sering datang ke Dessert Company,” kata Sawarto yang juga menjabat Managing Director di Dessert Company.

Quality Affordable Products
Dessert Company memang berfokus pada dessert sesuai konsep dasar. Tapi Sawarto dan rekan tidak langsung tutup mata untuk hidangan di luar varian dessert. “kami punya sekitar 13 jenis menu Snack Bar beberapa diantaranya Handcut Fries yaitu kentang goreng yang kami produksi fresh langsung dari kentang segar bukan kentang beku,” urai Indra yang bertanggung jawab sebagai Operational & Quality Control Director. Memahami karakter orang Indonesia yang belum kenyang jika belum menyantap nasi, maka Dessert Company juga mengunggulkan kreasi menu Baked Rice mereka. “Ada sekitar 8 menu Baked Rice dengan pilihan pemakaian daging sapi, daging ayam, pork hingga vegetarian,” ujar Sawarto.

Sawarto dan Indra ternyata turut masuk dapur dan bertindak sebagai Chef. “Saya dan Sawarto memang memiliki latar belakang hospitality industry. Saya lulus dari Shatec Singapore dengan pengalaman kerja kurang lebih 5 tahun sedangkan Sawarto merupakan alumni dari Le Cordon Bleu Paris dengan pengalaman kerja selama 10 tahun,” ungkap Indra. Pengalaman kerja 2 Chef ini patut menjadi inspirasi. “Kami berdua pernah bekerja di beberapa Hotel berbintang 5 dan Michelin starred restaurants,” kata Sawarto yang pernah bekerja di Michelin 3 Star Chef Alain Passard, La’perge Perancis, Michelin 2 Star Chef Eyvind Hellstrom, Bagatelle – Norway dan Michelin 2 Star Chef Christophe Bacquie, Perancis. Keduanya juga aktif mengikuti culinary competition di berbagai negara.

Dengan kapasitas pemikiran dan skills sebagai seorang Chef, tentunya kualitas menjadi yang utama. “Kami ingin sajian makanan kami terlebih dessert sebagai main focus hadir dalam sajian yang berkualitas tinggi tetapi tetap ramah dalam harga,” ujar Sawarto. Dan sajian dessert yang menjadi benang merah diputuskan hadir dalam konsep plated dessert. “Kami ingin membawa kesan fine & high quality dessert di setiap menu dessert yang ada di Dessert Company,” jelas Indra.

Menu Unik
Ketika berkunjung ke Dessert Company yang memiliki 2 lantai service area dengan kapasitas 70 seats tersebut, ragam menu unik dan fun selain dessert patut diberi perhatian untuk menu alternatif. “Kami punya menu unik yaitu Make Your Own Dessert (MYOD) dan Make Your Own Beverage (MYOB). MYOD Intinya adalah menciptakan menu dessert dari 3 pilihan waffle, pancake atau crepes yang bisa diberi topping, sauce dan homemade ice cream dengan harga yang berbeda sesuai dengan pilihan yang di-inginkan. Begitu Juga dengan MYOB yang dapat menciptakan minuman dari pilihan jenis liquid seperti ragam jenis Tea, robust coffee, fresh milk, soya, yogurt dan ditambahkan condiment, flavor serta pilihan sugar level maupun cara penyajian hot or cold,” jelas Sawarto.

Ragam High Quality Desserts
Tentunya jangan lupa menyantap sajian dessert yang menjadi signature jika bertandang ke Dessert Company yang setiap harinya buka mulai pukul 11.00. Sebut saja menu dessert seperti DC’s Souffle, Tiramisu, Lava Chocolate Cake, Panna Cotta, Sticky Date Pudding, Crème Brulee hingga Profiteroles dan Key Lime Pie yang klasik. Panna Cotta yang hadir dalam plated dessert style sesuai konsep tersaji apik dalam glass portion yang cukup serta penyajian simple namun elegan. Berlabel dengan harga Rp.28.000 untuk sajian se-elegan ini tentunya sayang untuk dilewatkan. Beralih ke Tiramisu yang hadir dalam sebuah gelas modern. Rupanya Tiramisu yang satu ini di olah tanpa pemakaian gelatin dilihat dari tekstur dan rasa yang tercicip. Sebuah sajian dessert yang cukup otentik, meskipun tanpa penggunaan liquor. “Mascarpone yang kami gunakan asli produk Italia sehingga menjamin ke-otentikan rasa Tiramisunya,” ungkap Indra.

Jika belum cukup, cobalah Crème Brulee ala DC yang disajikan dengan segelas citrus granita yang mampu memberi efek segar sehingga tidak membuat overwhelming ketika menyantap olahan krim telur tersebut. Dan bagi penyuka cokelat tentunya Lava Chocolate Cake yang disajikan dengan homemade vanilla ice cream dengan bandrol harga Rp.32.000 bisa menjadi pilihan. “Kami mengolah semua produk kami termasuk dessert benar-benar made from scratch jadi menjamin kesegaran citarasa produknya. Bahkan kami juga menggunakan biji vanilla asli bukan flavor untuk menu dessert dan homemade ice cream. Untuk beberapa menu seperti Lava Chocolate Cake dan Souffle, pengunjung yang memesan harus setuju terlebih dahulu untuk menunggu sekitar 30 menit karena kami mengolah adonan sebelum dipanggang segera setelah pengunjung melakukan pemesanan jadi kesegaran citarasa nya benar-benar terjamin,” tuntas Indra.

Rukan Crown Golf Blok B Unit 3 Jl. Marina Raya PIK

Written by Dewi Sri Rahayu
Photo by Imam Saparisman

Comments { 0 }