Archive | Recommended RSS feed for this section

Indischetafel: Nostalgia Indonesia-Belanda Tempo Dulu

Budaya Belanda tidak bisa terlepas dari sejarah panjang Indonesia. Selama 3,5 abad kolonialisme Belanda di Indonesia turut pula memengaruhi budaya di Indonesia. Di Era Kolonial Belanda, tidak hanya bangunan yang terbawa pengaruh Belanda, dari segi kuliner, Indonesia saat itu pun banyak dipengaruhi oleh budaya dari Belanda. Setelah melalui periode yang panjang, nuansa tempo dulu pun dibawa kembali ke masa kini oleh Indischetafel. Tidak hanya dari segi arsitektur dan interior bangunan, menu makanan utama hingga penutup pun dibuat dengan citarasa Belanda dengan racikan khas Indonesia.

Restoran di Cagar Budaya
Restoran yang terletak di Jalan Soematra, Bandung ini menempati sebuah bangunan yang juga merupakan cagar budaya kota Bandung. Bangunan yang diperkirakan berusia lebih dari satu abad ini merupakan saksi bisu perkembangan sejarah kota Bandung. Ini dipertegas dengan plat dari pemerintah kota Bandung yang terletak di pintu masuk dan bertuliskan “Bangunan Cagar Budaya Bandung”.
Alhasil, untuk memperkuat konsep tempo dulunya, Indischetafel tinggal melakukan sedikit penambahan ornamen. “Hanya kaca-kaca dan beberapa ornamen yang ditambahkan untuk memperkuat konsep restoran ini,” ujar Ahmad, Supervisor Indischetafel. Ahmad menjelaskan, Indischetafel sendiri menyewa tempat yang sebelumnya dijadikan sebagai stasiun radio ini sejak 4 tahun yang lalu.
Tidak hanya arsitektur bangunan yang berkonsep tempo dulu, interiornya didalamnya pun diisi dengan alat-alat tempo dulu. Ahmad menuturkan, desain interior yang dibuat pemilik Indischetafel ini sebisa mungkin membawa pengunjungnya untuk masuk ke ruang waktu yang berbeda. Ruang waktu yang berbeda itu diterapkan dengan membuat 4 ruang privat dengan tema tempo dulu yang berbeda-beda.

Berbagai Koleksi Sejarah
Seperti yang terlihat di ruang sains, meja makan dan bangku tempo dulu dipadukan dengan teropong dan seismograf yang sangat vintage. Di dinding dilengkapi dengan bingkai yang bergambar perjalanan sejarah Indonesia. Berbeda ketika memasuki ruangan musik, di ruangan ini berbagai macam jenis radio dan juga pemutar piringan hitam tempo dulu menghiasi interior ruangan.
Ruangan musik ini berdampingan dengan ruangan fotografi yang menyimpan berbagai macam kamera zaman dulu. “Dalam koleksi kamera Indischetafel bahkan ada satu kamera sejak zaman Soekarno dan masih bisa digunakan sampai sekarang,” jelas Ahmad sambil menunjukan kamera zaman Soekarno ini
Setelah itu baru ruang terakhir yakni ruang kolektor. Diruangan ini terdapat beberapa benda antik seperti kipas angin dan meja rias zaman dulu. Tidak hanya itu, di dinding ruangan terdapat 3 figura yang berisi koleksi kotak korek api dari zaman ke zaman. Selain keempat ruangan privat tersebut, Indischetafel juga menyediakan ruangan umum untuk walking guest. “Kapasitas seat Indischetafel kurang lebih 150 seat,” ujar Ahmad.

Andalkan Resep Yang Sudah Turun Temurun
Selaras dengan konsep restorannya, Indischetafel memberikan sajian menu Indonesia-Belanda untuk pelanggannya. “Indischetafel menyajikan kuliner Belanda dengan racikan Indonesia. Resepnya dari Oma pemilik, jadi benar-benar resep zaman dulu dan dipertahankan keotentikannya” ujar Ahmad. Seperti dalam menu Boerenkool Stampo. Sosis breatwurst dengan smoked beef bacon dan saos cream asparagus yang dipadukan dengan kentang stampot, yang merupakan warisan budaya Belanda, yakni kentang yang dibuat seperti mashed potato dan kemudian dicampur dengan aneka sayur-sayuran.
Indischetafel sendiri memiliki cookies yang khas sejak zaman belanda dulu seperti Sultana cookies yang berisi kismis dan ditaburi serbuk gula diatasnya. Ada pula cookies Chopin, yakni cookies perpaduan rasa cokelat kacang dan dicampur dengan cornflakes. Selain itu, terdapat pula Kateton atau akrab yang disebut dengan lidah kucing dengan 2 pilihan rasa, Vanilla dan Keju.
Menu penutup khas dari Indonesia pun tidak luput dari daftar menu Indischetafel. Es Serut Kacang Merah, menu penutup dan sudah akrab di masyarakat Indonesia merupakan salah satu menu pilihan di Indischetafel. Cita rasa Es Serut Kacang merah yang manis hanya disesuaikan dengan tampilannya yang lebih dipercantik. “Kalau dulu es serutnya hanya diserut saja, sekarang karena alatnya sudah semakin maju jadi es serutnya dibentuk menjadi kerucut,” ujar Ahmad.

Kacang merahnya yang digunakan pun memang yang khusus untuk dijadikan menu penutup. Menurut Ahmad, untuk es serut kacang merah ini tidak bisa digunakan kacang merah yang biasa untuk dimasak. “Kalau kacang merah buat es serut ini direbus hingga empuk dulu baru digunakan, sedangkan kacang merah untuk masak, sudah empuk jadi bila direbus lagi malah akan hancur,” jelas Ahmad.
Kehadiran Indischetafel dengan konsep restoran dan makanan Indonesia Belanda menjadikan warna tersendiri bagi kuliner di kota Bandung. Indischetafel mengajak pelanggan yang datang untuk mengingatkan kembali sejarah tempo dulu. Menu khas dari Indonesia yang dipengaruhi budaya Belanda pun menyadarkan kembali bahwa budaya kuliner Indonesia sangat kaya dan juga patut untuk dilestarikan sebagai warisan budaya nusantara.

Jln. Soematra No. 19 Bandung, Jawa Barat

Comments { 0 }

Le Seminyak: Pengalaman Santap Hidangan Bali Otentik yang Sarat Filosofi di Le Seminyak

Indonesia memang patut bangga dengan keragaman budayanya. Makanan yang juga menjadi bagian dari budaya, tersaji dalam keragaman citarasa yang menghadirkan keunikan tersendiri. Novi Kusuma adalah seorang restaurateur yang jatuh cinta pada makanan Bali yang menurutnya sarat filosofi.
Le Seminyak adalah restoran bertagline A Balinese Experience yang menyajikan sajian Bali otentik yang diusung Novi bersama partner kerjanya. Sebagai Co-Owner, Novi dan tim Le Seminyak tidak main-main dalam menghadirkan konsep tersebut. “Kuliner Bali punya citarasa yang khas dengan variannya yang sangat beragam. Keinginan untuk memperkenalkan kuliner Bali yang sebenarnya punya potensi besar karena kelezatan citarasa makanannya yang tidak kalah dengan sajian internasional, memang membawa kami pada konsep resto Le Seminyak ini,’ buka Novi.
“Semua hidangan yang tersaji di Le Seminyak adalah kreasi dari Nyoman Lother Arsana, Seorang Chef yang sangat disegani di Bali. Hal ini kami lakukan untuk menjaga keotentikan rasa makanan yang tersaji di Le Seminyak,” papar Novi.

Seminyak sendiri adalah salah satu daerah di Bali yang menurut Novi merupakan wujud dari Bali modern yang mencerminkan modernitas Bali tanpa kehilangan budaya asli dan jiwa tradisionalnya. Hal ini sejalan dengan konsep yang diusung yakni Bali yang modern. Dekorasi ruangan pun berpadu antara modern dan tradisional. “Desain modern kami pilih agar lebih mudah diterima oleh para pelanggan yang datang. Aspek tradisional diwujudkan pada elemen desain ruangan seperti pemakaian art work dua dimensi berupa penari Bali yang langsung dikerjakan oleh seniman Bali maupun art work lainnya yang ada di sini sehingga cukup menjadi identitas yang kuat untuk Le Seminyak,” jelas Novi.

Di Le Seminyak selain kursi dan sofa regular ada juga jajaran Bale Bengong yang memiliki tirai bergradasi jingga dengan total keseluruhan dapat menampung 25 orang (6 sampai 8 orang per 1 Bale) di luar entrance area, fountain area, kamboja lounge, window area dan private room.

Sajian Hidangan Bali Otentik yang Sarat Filosofi
Untuk sajian hidangan Bali yang diusung Le Seminyak, Novi kembali piawai membawa sisi tradisional yang dipadu dengan modern. “Di Le Seminyak, kami memang ingin menghadirkan menu-menu Bali yang tetap terjaga keotentikan rasanya tetapi dalam presentasi makanan yang lebih modern sehingga berpotensi besar untuk bersaing dengan sajian internasional,” kata Novi. Agar selalu terjaga citarasa aslinya, I Ketut Yudasena yang menjabat sebagai Director of Business Development Le Seminyak terus memberi pantauan pada tim dapur Le Seminyak.

Bicara tentang filosofi yang masih kental, I Ketut Yudasena punya penjelasan menarik. “Makanan Bali memang punya filosofi kehidupan yang masih kental. Seperti pandangan hidup masyarakat Bali yang menjunjung kesabaran dilihat dari bagaimana bersabar pada lamanya waktu yang diperlukan dalam mengolah sebuah makanan. Mulai dari mempersiapkan bumbu masakan yang dibuat dari rempah-rempah tradisional yang berbeda untuk tiap jenis masakan hingga waktu pengolahan yang terkadang memerlukan waktu berjam-jam, karena semua masih dikerjakan secara manual,”jelas I Ketut Yudasena.
“Melihat sifat dan cara pengolahannya, masakan Bali memang salah satu konsep slow food yang orisinil. Lalu pandangan hidup untuk menjunjung toleransi, kebersamaan juga gotong royong yang tercemin dari cara masyarakat Bali yang masih terjaga sampai sekarang seperti mengolah masakan-masakan itu bersama-sama dengan suka cita,” ungkap I Ketut Yudasena.

Menu-Menu Le Seminyak
Masyarakat Indonesia di luar Bali yang kerap menyantap hidangan Bali pastinya sudah familiar dengan Nasi Campur Bali, Sate Lilit hingga Bebek Betutu. Tapi, di Le Seminyak ada begitu banyak ragam hidangan Bali otentik yang dapat menjadi pengalaman kuliner baru dalam menyantap sajian ala Bali. Sebut saja Tumis Pucuk Waluh, Sop Asem-Asem Buntut, Gurame Sambal Mangga, Udang Galah Bakar Madu hingga ke varian dessert atau sajian penutup ala Bali.
Sate Lilit yang ditawarkan Le Seminyak punya pilihan antara ayam dan seafood. “Sate Lilit Seafood diolah dari daging ikan dan udang segar cincang pilihan berbumbu ala Bali kemudian dililitkan pada sebuah batang serai untuk memberi aroma segar khas batang serai. Sedangkan Sate Lilit Ayam dibuat dari daging ayam cincang dengan bumbu khas Bali yang juga pada proses pembuatannya dililitkan sehingga tidak mudah lepas,” papar I Ketut Yudasena.

Ada sajian unik Tuna Wonton yang ternyata berupa suwiran ikan tuna yang dicampur sambal matah yang punya citarasa pedas serta gurih seimbang lalu disajikan dalam mangkuk kulit wonton yang renyah.
Bubur Injin yang ada di menu dessert rupanya bubur ketan hitam ala Bali. “Tapi, di Bali kami membuatnya dengan campuran ketan putih. Hal ini memberi tekstur yang berbeda dari bubur ketan hitam biasanya yakni lebih legit dan pulen,” kata I Ketut Yudasena. Lalu diberi sedikit santal kental di permukaan bubur yang memberi catatan gurih ala santan kelapa dengan penambahan ice cream vanilla yang diakui Novi sebagai bagian dari konsep Modern Bali. “Tapi, cara pembuatan serta citarasa Bubur Injinya tetap otentik,” jelas I Ketut Yudasena.

Masih ada lagi Kolak Pisang Bakar yang ternyata pisangnya dibakar terlebih dahulu baru diberi kuah kolak, sebuah perbedaan dari kolak yang sudah banyak dikenal masyarakat Indonesia tapi justru memberi keunikan rasa tersendiri. Salah satu penutup yang juga unik adalah Pisang Karamel. Tidak unik jika karamelnya terbuat dari gula pasir biasa. Tapi, Pisang Karamel yang tersaji di Le Seminyak menggunakan gula palem untuk saus karamelnya. “Semua bahan baku untuk mengolah sajian makanan di Le Seminyak kami usahakan menggunakan bahan baku lokal untuk tetap menjaga keotentikan rasanya,” tutup I Ketut Yudasena.

Pacific Place 5th Floor Unit 38-SCBD Jakarta

Comments { 0 }

Lapislapis: Berikan Suasana Berbeda dalam Menyantap Lapis Legit

Kue lapis merupakan salah satu kue tradisional Indonesia yang biasanya dinikmati pada perayaan tertentu saja. Di tangan Tonny Gunawan kue lapis disulap menjadi cake premium yang bisa dinikmati untuk hang out. Bersama sang adik Yenny Gunawan, ia membuat sebuah kafe yang menyediakan kue lapis sebagai produk utamanya. “Seperti yang kita ketahui, kue lapis merupakan kue tradisional Indonesia yang sejak zaman kolonial sudah dikenal dan telah dinikmati dari generasi ke generasi. Saya ingin mengubah pola pikir masyarakat Indonesia akan kue lapis agar dapat dijadikan gaya hidup di masyarakat,” ungkap Tonny.
Kebanyakan kafe menyajikan cake seperti cokelat, tiramisu, atau keju, belum ada pemain kafe yang menyuguhkan kue lapis sebagai produknya. “Kami termasuk kafe pertama yang menjadikan kue lapis sebagai hidangan utamanya. Jadi pengunjung dapat menikmati kopi atau teh dengan makanan pendampingnya adalah kue lapis. Saya ingin masyarakat Indonesia bisa menikmati kue lapis dengan konsep yang lebih moderen,” ujar Tonny.
Berlokasi di Sunter, desain Lapislapis didominasi dengan warna cokelat yang menggunakan elemen kayu berlapis seolah menggambarkan karakteristik dari kue lapis “Alasan memilih lokasi di Sunter selain tempat tinggal kami memang di sini, juga karena kami lihat belum banyak tempat hang out di Sunter. Kami juga ingin menjadikan Sunter seperti layaknya kawasan Kelapa Gading yang terkenal akan kulinernya,” tutur Yenny.


Konsisten dengan Rasa

Walaupun penampilannya terbilang monoton, namun dibutuhkan kesabaran dan ketelitian untuk mengolah makanan yang menggunakan banyak kuning telur sebagai bahan dasarnya ini. Berbeda dengan jenis kue lain yang dapat dipanggang pada waktu yang bersamaan, adonan kue lapis harus dimasukan lapis demi lapis ke dalam oven hingga matang. “Kami menyebut ini seni membuat kue lapis yang membutuhkan kesabaran ekstra dan ketelitian. Dari awal prosesnya saja yaitu memisahkan antara kuning dan putih telur sudah terlihat seninya,” ujar Yenny sembari tertawa.

Kompor yang digunakan untuk membuat lapis legit juga tidak bisa sembarangan. Terkadang banyak orang yang ingin mempersingkat waktu pengolahan sehingga menggunakan kompor listrik. Hal ini tentu keliru, karena untuk membuat lapis legit harus menggunakan kompor gas, tapi jika ingin rasanya lebih maksimal lagi bisa menggunakan kompor arang,” jelas Yenny.
Lebih dari 20 varian rasa kue lapis dikembangkan oleh dua kakak beradik ini baik dari Lapis Legit maupun Lapis Surabaya, yaitu Lapis Original, Lapis Green Tea, Lapis Cheese, Lapis Fruits, Lapis Coffee, Lapis Durian, Lapis Prune, Lapis Surabaya Chocolate, Lapis Surabaya Mix, dan lain sebagainya. “Kualitas bagi kami adalah yang nomor satu sehingga kami menggunakan bahan-bahan yang natural dan berkualitas, sehingga kami lebih unggul dari segi rasa. Selain itu, kue lapis kami tidak terlalu berminyak serta aromanya khas,” tutur Yenny.

Lapisserie, Inovasi Lapis Legit
Mengkombinasikan sebuah cake dengan bahan lain guna menghasilkan produk yang berbeda memang sering dilakukan para pelaku industri kuliner guna memberikan sesuatu yang unik kepada penikmatnya. Ini juga yang membuat Tonny penasaran dengan variasi Lapis Legit dengan jenis makanan lain. “Kue bolu dikombinasikan dengan cokelat bisa jadi Blackforrest tapi kenapa tidak ada yang mengkombinasikan kue lapis dengan makanan lain. Jadi saya berinisiatif untuk memadupadankan kue lapis dengan makanan lain agar menghasilkan cita rasa yang unik yang dinamakan Lapisserie,” ujar Tonny.
Lima produk fussion ala Lapislapis antara lain Lapis Apple Streusel yang mengganti peran pie dengan Lapis Legit untuk dipadukan dengan apple streusel, Lapis Blueberry Crumble, Lapis Lemon Torte, Lapis Pearlychous Charlotte, dan Lapis Fruity Parfait. Diakuinya, untuk membuat fussion seperti ini tidaklah mudah karena Lapis Legit telah memiliki ciri khas rasa tersendiri. “Kami melakukan eksperimen yang cukup panjang sampai akhirnya mendapatkan lima jenis fussion dan sejauh ini diterima oleh pelanggan kami,” ujar Tonny.

Kue Generasi ke Generasi
Kue lapis di masyarakat Indonesia termasuk salah satu jenis kue sepanjang masa karena tidak terbentur dengan musim, seperti Rainbow dan Red Velvet yang mudah naik tetapi mudah tenggelam juga. Dari tahun ke tahun ada saja orang yang mencari kue ini, terutama menjelang hari raya, seperti lebaran, imlek, maupun natal. Hal ini dikarenakan ada kepercayaan bahwa apabila sesorang memberikan kue lapis kepada orang lain maka rezekinyapun akan berlapis-lapis.

Kue yang satu ini juga masuk ke semua kalangan umur. “Orang yang sudah berumur belum tentu menyukai Rainbow Cake tapi mereka pasti menyukai kue lapis, yaitu kue yang mereka kenal sejak kecil. Lalu mereka memperkenalkan kue lapis ini kepada anaknya yang akan terus berlanjut ke generasi berikutnya. Itu juga yang terjadi di keluarga saya yang menjadikan kue lapis sebagai tradisi,” tutur Tonny. Mengingat kue lapis adalah makanan khas Indonesia, panganan ini juga sering dijadikan oleh-oleh bagi turis asing yang datang ke Indonesia. “Kue ini juga disukai tak hanya oleh orang Indonesia tetapi pasar kami telah sampai ke Malaysia dan Singapura,” tutup Tonny.

Jl. Danau Agung 2. No 21-22. Sunter Agung, Jakarta

Comments { 0 }

Waroeng Kita: Kental dengan Rasa Khas Indonesia

Mempunyai visi mengangkat kuliner Indonesia, Waroeng Kita terus menunjukkan konsistensinya di bidang kuliner Nusantara hingga saat ini. Waroeng Kita merupakan salah satu restoran dibawah payung Grup Pakis Culinary yang juga membawahi beberapa restoran lain seperti Bungarampai, Kembang Goela, Meradelima.

Ragam hidangan tradisional Indonesia dengan cita rasa khas tersaji di Waroeng Kita. Aneka masakan yang disajikan memang masakan khas rumahan sehingga pengunjung akan terasa menyantap makanan seperti di rumah sendiri. “Kami ingin memperkenalkan masakan-masakan dari seluruh Nusantara terutama makanan yang sudah langka untuk kami tampilkan kembali agar tidak hilang tentu dengan harga yang terjangkau,” ujar Danang Ambar Kreshno, Marketing Communication Manager Pakis Culinary.

Restoran ini membidik target market pekerja kantoran sehingga Waroeng Kita dapat dijumpai di sejumlah pusat perbelanjaan terkemuka dan gedung perkantoran di Jakarta. “Lokasi kami tersebar di beberapa titik penting di Jakarta, seperti di Grand Indonesia, Plaza Senayan, Citi Walk, Senayan City, Gandaria City, Pacific Place, Menara Karya, Saint Moritz (PX Pavilion) dan Semanggi, serta dua outlet lagi di Alam Sutera,” ujar Danang.

Lebih Rumit dan Enak
Masakan Indonesia yang kaya akan berbagai macam bumbu membuat sajian kuliner ini mempunyai rasa yang khas dan pastinya berbeda dengan makanan dari negara Barat. Untuk menghasilkan rasa khas Nusantara, pengolahan makanan Indonesia terbilang membutuhkan waktu yang cukup panjang dan tekniknyapun harus tepat. Kerumitan pengolahan makanan Indonesia yang sedemikian rupa menghadirkan tantangan tersendiri bagi para Chef.

Cita rasa makanan yang dihadirkan di Waroeng Kita, menggunakan resep turun temurun sehingga disesuaikan dengan rasa sehari-hari. “Kami tidak menghilangkan rasa identik dari sebuah makanan oleh karena itu rasanyapun merupakan rasa asli khas Indonesia dan begitu akrab di lidah pecinta kuliner Nusantara. Berbagai rasa juga ditawarkan dalam satu porsi makanan seperti manis, pedas, asin, gurih. Itulah yang menjadi ciri khas kami,” tutur Laras.

Dari segi bahan, mengingat Waroeng Kita menghidangkan menu-menu Nusantara, oleh karena itu bahan yang digunakan juga bahan-bahan lokal namun harus memiliki kualitas nomor satu. “Bahan yang dipakai akan mempengaruhi kualitas sebuah makanan sehingga kami benar-benar memperhatikan bahan yang kami gunakan,” ujar Laras.

Makanan Cita Rasa Indonesia
Setiap restoran pasti memiliki menu andalannya, begitu pula dengan Waroeng Kita, di antaranya ada Nasi Langgi yaitu nasi yang disajikan dengan dendeng ayam, kentang ati ampela, tempe orek, telur dadar, dan kerupuk. Ada juga Mie Kuah Jawa, Gado-Gado, Ketoprak, Rawon, Ayam Penyet, Tahu Telur, dan Tahu Pong. “Salah satu menu favorit di sini adalah Sup Asem-Asem Iga, sensasi segar serta iga yang empuk dan kuah yang khas menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Ada lagi Es Kopyor Duren dan Es Lobi-Lobi. Belum banyak orang mengenal buah-buahan yang tumbuh di iklim tropis ini sehingga kami ingin memperkenalkannya di masyarakat “ jelas Laras.

“Khusus untuk menu Nasi Liwet presentasinya di sini kami ubah, dari ayam disuwir yang ditaburi di atas nasi, kami ganti menjadi ayam utuh yang dibagi 4 bagian,” tutur Laras. Pengunjung biasanya sudah memiliki makanan favoritnya masing-masing.

Muka Baru Waroeng Kita, Plaza Senayan
Sadar akan persaingan yang semakin ketat, Waroeng Kita terus berinovasi bukan hanya dari segi makanan tetapi juga interior desain. Seperti yang terjadi pada Waroeng Kita di Plaza Senayan yang tampil dengan “muka baru”. “Sebelumnya nuansa Waroeng Kita di sini lebih mengarah ke konsep etnik indonesia. Namun sejak tanggal 14 Januari lalu, kami hadir dengan suasana yang lebih ringan, segar, dan nyaman dan dekorasi yang memanjakan pengunjung dengan tambahan sofa, tetapi tetap mempertahankan ciri khas dari Waroeng Kita yaitu dominasi elemen kayu,” ujar Laras Puruhita, Operation Manager Waroeng Kita.

Berdiri sejak tahun 2000, Waroeng Kita terus menunjukkan eksistensinya di dunia kuliner hingga sekarang. “Kami selalu optimis karena yang kami angkat adalah makanan yang sehari-hari di makan oleh masyarakat Indonesia sehingga sudah cocok di lidah mereka. Bahkan eskpatriatpun banyak yang menyukai makanan kami,” tutup Laras.

Plaza Senayan, B Fl Unit SOGO Jl. Asia Afrika No. 8, Jakarta

Comments { 0 }

Lapislapis: Giving Different Atmosphere When Eating Lapis Legit

Kue lapis (layer cake) is one of Indonesian traditional cakes which is usually enjoyed only at particular celebration. In the hands of Tony Gunawan, layer cake transformed into a premium cake that can be enjoyed while hanging out with friends or family. Along with his sister, Yenny Gunawan, he developed a café that provides a layer cake as the main product. “As we know, layer cake is a traditional cake of Indonesia that has been known since colonial period and has been enjoyed for generations. I want to change the mindset of our people toward the layer cake so it can be the lifestyle in Indonesia, “said Tony.

Most cafes serve cake like chocolate, tiramisu, or cheese cake; there is no café that serves layer cake as their product. “We are the first café that serve layer cake as the main product. So the visitors can enjoy coffee and tea with layer cake as the companion. I want Indonesian people can enjoy the layer cake with a more modern concept,” said Tony.
Located in Sunter, Lapislapis’s design is dominated with brown using layered wood elements as describing the characteristics of the layer cake. “Sunter is chosen because we live in this area, and we see there’s not many hang out places to visit in Sunter. Beside that, we also want to make Sunter like Kelapa Gading area which is renowned for its culinary,” said Yenny.

Consistent with the Taste
Although its appearance somewhat monotonous, but it takes patience and precision to process layer cake that uses many egg yolks as its basic materials. Different with other types of cake that can be baked at the same time; the dough of layer cake should be put in layer by layer into the oven until done. “We call this the art of making the layer cake, which requires extra patience and thoroughness. From the beginning of the process, which is separating egg whites and yolks, there is an art there,” Lenny said with a laugh.

The stove used to make the layer cake cannot be randomly chosen. Sometimes a lot of people want to shorten the processing time so they use electronic stove. It is certainly wrong because to make layer cake we have to use gas stove, or, we can use charcoal stove to strengthen the taste,” explained Yenny.

There are more than 20 flavors of layer cake that have been developed by these Gunawan siblings, both from Lapis Legit and Lapis Surabaya, such as Lapis Original, Lapis Green Tea, Lapis Cheese, Lapis Fruits, Lapis Coffee, Lapis Durian, Lapis Prune, Lapis Surabaya Chocolate, Lapis Surabaya Mix, and others. “For us, quality is the number one. We use natural and high-quality ingredients, so we are superior in terms of taste. Moreover, our layer cake is not too greasy and has a very unique aroma,” said Yenny.

Lapisserie, Innovation of Lapis Legit
Combining a cake with other ingredients to produce different products is often performed by the culinary industry players to provide something unique to their customers. That also makes Tony curious with the variation of Lapis Legit and the other foods. “Kue bolu (sponge cake) combined with chocolate result Blackforrest. Why can’t we combine layer cake with other foods? So I took the initiative to mix and match layer cake with other foods that produce a unique taste named Lapisserie, “said Tony.

There are five fusion products of Lapislapis, such as Lapis Apple Streusel of which change the role of pie with lapis legit to be coupled with apple streusel, and so the other products like Lapis Blueberry Crumble, Lapis Lemon Torte, Lapis Pearlychous Charlotte, and Lapis Fruity Parfait. Tonny admitted that to make these fusion products is not easy because layer cake itself has its own characteristic flavor. “We did a quite long experiment to finally get these fusion products and so far the products are accepted by our customers,” said Tony.

Generation to Generation Cake
Kue Lapis for Indonesian people is one of all-time cakes because it doesn’t easily collide with the season, like Rainbow and Red Velvet which are easy to raise-and-sink at any time. From year to year, there still people who keep looking for the cake especially before the holidays, such as Eid, Chinese New Year, and Christmas. This is because there are beliefs that if someone gives a layer cake to others, their fortune would be layered like the layer cake.

In addition, layer cake also can get into all ages. “Elderly people do not necessarily like Rainbow Cake, yet they definitely like layer cake, the cake that they have known since they were young. They introduced the layer cake to their children who will continue to the children of the next generation. It also happened in my family who make layer cake as a family tradition,” said Tonny. Considering layer cake is Indonesian traditional cake, this cake is often chosen as the gift by the foreigners who come to Indonesia. “This cake is also favored not only by Indonesian people but also people in Malaysia and Singapore,” he closed.

Jl. Danau Agung 2. No 21-22. Sunter Agung, Jakarta

Comments { 0 }

Soerabi Bandung Kebayoran: Kreasikan Beragam Topping Serabi Khas Bandung

Serabi adalah salah satu jenis kue tradisional atau jajan pasar Indonesia yang memiliki keterkaitan akar budaya yang kental, sehingga di berbagai daerah di Indonesia terdapat jenis serabi yang berbentuk mirip antara satu sama lain dan umumnya dibuat dari bahan baku yang hampir sama. “Daerah yang terkenal dengan serabinya adalah Bandung, Solo, Yogya hingga Pekalongan dan umumnya memakai tepung beras serta santan kelapa segar sebagai bahan baku utamanya,” buka Noverio Rahmawan Pradhana Putra, founder dan owner Soerabi Bandung Kebayoran yang akrab disapa Rio ini.

Menurut Rio, usaha restoran yang berkonsep modern tradisional Indonesia ini adalah usaha keluarga yang sudah berdiri sejak April 2011. Hingga kini, Soerabi Bandung Kebayoran sudah memiliki 2 cabang yakni di daerah Jl. Raya Serpong dan Taman Jajan Villa Melati Mas Serpong, Tangerang. “Untuk lokasi di Jl. Ahmad Dahlan ini, area resto kami terdiri dari 2 lantai dengan total kapasitas tempat duduk mencapai sekitar 240 kursi. Ke depannya kami sedang berencana untuk merenovasi sebagian area untuk dijadikan ruangan ber-AC, karena saat ini ruangan ber-AC yang kami miliki hanya memiliki seating capacity sekitar 12 orang saja,” jelas Rio

Konsep Makanan Tradisional Indonesia
Rio rupanya terinspirasi dari hobinya sendiri yaitu menyantap berbagai makanan lezat. “Karena hobi itu saya memutuskan untuk membuka usaha restoran dengan dukungan kedua orang tua saya dan keluarga. Konsep yang terpikir adalah konsep restoran yang menawarkan beragam menu serabi yang akhirnya meluas hingga ke berbagai menu makanan tradisional Indonesia maupun Western dan Chinese Food. Akhir Januari 2013 kami mengeluarkan beberapa menu makanan Indonesia seperti Ayam Cabe Hijau, Ayam Tangkap, Ikan Nila Bakar, Sambal Matah dan sebagainya untuk memperbanyak varian menunya,” jelas Rio.

Yang paling menarik perhatian ketika bertandang ke Soerabi Bandung Kebayoran adalah area yang dibuat menjadi dapur terbuka seperti dapur pengolahan serabi yang lengkap dengan wajan tanah liat beserta tutupnya yang begitu khas maupun gerobak bakso dan bubur ayam yang akrab dalam kuliner khas Indonesia. “Ada juga open kitchen yang khusus memasak hidangan dari domba seperti nasi goreng domba dan tongseng domba,” jelas Rio.

Restoran yang memiliki target market yang luas mulai dari keluarga, usia anak-anak hingga remaja sampai usia yang lebih dewasa ini diakui Rio menargetkan pengunjung yang berasal dari lingkungan setempat maupun di luar area Kebayoran Baru. “Sejauh ini pelanggan kami juga ada yang datang dari luar Jakarta seperti Bogor dan sebagainya,” kata Rio yang sempat melanjutkan studinya dengan mengambil Business Information Technology di Staffordshire University.

Menu Favorit
Banyaknya ragam menu yang ditawarkan Soerabi Bandung Kebayoran menjadi kelebihan yang dapat menarik banyak pengunjung. “Sejauh ini bubur ayam, nasi bakar dan bakso cukup menjadi favorit meskipun menu lainnya juga termasuk baik dari segi penjualan setiap harinya,” jelas Rio. Selain menu makanan dan minuman yang tersedia, menu serabi adalah menu yang paling menarik perhatian, sesuai dengan nama restoran dan adanya dapur pembuatan serabi yang begitu mencolok dan terletak di bagian depan restoran.

“Serabi yang kami jual adalah serabi khas Bandung. Untuk adonannya, kami menggunakan santan kelapa segar yang diparut sendiri karena faktor kualitas rasa yang jauh lebih baik daripada penggunaan santan instan. Tapi, kekurangan penggunaan santan kelapa segar adalah daya tahannya yang sebentar atau mudah basi. Solusi yang kami lakukan adalah membeli kelapa tersebut baru setiap pagi hari sebelum proses produksi, supaya terjamin kesegaran hasil serabinya,” papar Rio.

Inovasi Topping Serabi
Soerabi Bandung Kebayoran punya banyak pilihan topping serabi yang unik dan inovatif. “Awalnya rasa serabi terbatas pada rasa polos berkuah kinca aren dan serabi oncom yang khas. Di sini, selain menawarkan 2 varian klasik itu, kami juga menyediakan beragam varian topping yang cocok dikombinasikan dengan serabi yang kami buat,” kata Rio. Diakui Rio menambahkan varian topping serabi dalam menu serabinya sangatlah penting supaya para pelanggan tidak cepat bosan dan memiliki keleluasaan dalam memilih topping serabi favoritnya masing-masing.

“Sampai saat ini, serabi yang paling banyak dipesan adalah serabi durian dan kuah polos. Duriannya kami pakai durian segar, bukan esen. Serabi lainnya yang juga termasuk favorit adalah serabi pisang cokelat, serabi oncom ayam telur keju spesial dan serabi chocoreo cheese ice cream. Kami juga punya menu serabi kurma yang dipadu dengan cokelat ataupun keju dan es krim,” ungkap Rio.

Hasil inovasi topping serabi tersebut membuat Rio dan tim nya mampu menjual di kisaran rata-rata 200-300 buah perharinya. “Penjualannya merata antara serabi dan makanan serta minuman, tapi di akhir pekan penjualan serabi memang meningkat,” kata Rio.

Rasa serabi di Soerabi Bandung Kebayoran memang terasa spesial karena memiliki tekstur yang cukup lembut dengan rongga dalam yang berserat dan rasa serabi yang tidak terlalu manis serta tanpa jejak asam khas ragi. “Kami tidak memakai ragi untuk mengembangkan serabi ini, jadi murni karena teknik pembuatannya yang masih tradisional dengan bahan baku lokal segar yang menjamin tekstur serabinya berserat dan tidak bantat,” tutup Rio. Soerabi Bandung Kebayoran buka setiap hari, dan jam bukanya untuk Minggu-Kamis dari jam 07.00 – 23.00 dan setiap hari Jumat-Sabtu dari jam 07.00-24.00.

Jl. K.H. Ahmad Dahlan No.22A Kebayoran Baru

Written by Dewi Sri Rahayu
Photo by Hendri Wijaya

Comments { 0 }

Cream-Me: Andalkan Produk Makanan Kreatif

Banyak orang yang tinggal di kota besar seperti di Jakarta memang sudah cukup familiar dengan jenis makanan dan minuman yang memiliki citarasa yang creamy. Hal ini tentu tidak lepas dari kemajuan industri makanan dan minuman yang kemudian banyak mengenalkan jenis-jenis makanan dan minuman bercitarasa creamy tersebut. Jennifer Octavia yang akrab disapa Jennifer ini rupanya turut melihat hal tersebut sebagai peluang yang dapat diproses kembali menjadi sebuah bisnis.

Jennifer sendiri mengakui bahwa ia menggemari makanan yang bercitarasa creamy. “Saya juga hobi masak, pengaruh dari Ibu saya yang sangat piawai dalam memasak dan membuat kue. Ibu saya juga pernah memiliki toko kue, sebelum akhirnya ditutup karena memutuskan untuk fokus di pelayanan Gereja,” buka Jennifer. Bakat memasak memang rupanya menurun dari sang Ibu.

Saat mencoba berbagai makanan di berbagai restoran, Jennifer beberapa kali menemukan citarasa makanannya masih kurang creamy. Jadi, ia memutuskan mencoba untuk belajar membuatnya di rumah dengan citarasa yang ia inginkan. “Saat menawarkan kepada teman-teman saya, rupanya mereka menyukainya dan memberi saran supaya saya menjadikannya ini bisnis. Tanggapan keluarga juga positif,” jelas Jennifer.

September 2011 menjadi awal peruntungan Jennifer berbisnis makanan dengan cara penjualan online. “Saya ingin brand image building dulu serta melihat tanggapan pasar akan bisnis yang saya buat. Penjualan lewat online, saya nilai cukup baik untuk memasarkan produk bagi pengusaha baru seperti saya karena dapat menjangkau pembeli yang lebih luas serta minim biaya sehingga tidak terlalu beresiko ketika baru memulai bisnis,” kata lulusan Food Technology – Universitas Pelita Harapan, Jakarta ini.

Konsep Makanan yang Creamy
Produk yang dijual Jennifer memang belum banyak. “Sampai saat ini masih fokus menjual 3 produk saja, seperti Lasagna, MacCheese atau macaroni & cheese serta Coconut Pudding atau puding kelapa. Karena permintaan beberapa teman dan pelanggan setia untuk menjual dessert yang creamy, crème brulee akhirnya saya pilih sebagai menu baru yang ada di Cream-Me,” papar Jennifer.

Melihat nama-nama produk yang ada di Cream-Me, pada awalnya tentu berpikir, tidak ada yang terlalu spesial atau kreatif. Tapi, ketika mengetahui kesinambungan konsep awal maupun berani mengambil konsep yang berbeda serta mencicipinya baru terlihat kreatifitas Jennifer dalam olahan produk-produk yang ia buat. Macaroni cheese yang ditawarkan oleh Jennifer berbeda dengan macaroni cheese kebanyakan. “MacCheese yang saya buat tidak bisa rapih jika dipotong, karena konsepnya adalah creamy MacCheese jadi cara makannya adalah disendoki, mengingat teksturnya yang creamy dan tidak padat,” jelas Jennifer. Memang, beberapa macaroni panggang yang banyak dijual dapat dipotong rapih dengan pisau, menunjukkan teksturnya yang lebih padat.

Jennifer mengakui tanggapan para pelanggannya cukup positif, dilihat dari omzet yang menurutnya dapat naik saat mendekati momen-momen khusus seperti Lebaran, Natal dan Tahun Baru serta Imlek. “Produk-produk yang saya jual ternyata diminati oleh beragam kalangan dan usia. Padahal awalnya fokus target market saya adalah usia 19-30 an, tapi setelah berjalan justru pelanggan setia datang juga dari usia remaja maupun yang lebih dewasa. Bahkan banyak Ibu muda yang sengaja membeli karena permintaan anak-anaknya yang masih kecil,” ungkap Jennifer.

Coconut Pudding yang Jadi Favorit
Meskipun konsep keseluruhan adalah citarasa makanan yang creamy, namun Jennifer mengakui ia tidak akan menutup kemungkinan hadirnya konsep produk berbeda jika hal itu diminati oleh pangsa pasar yang ada. “Contohnya produk Coconut Pudding ini yang bukan olahan dengan rasa dan tekstur creamy, namun rasanya cenderung segar dan teksturnya lembut,” kata Jennifer.

Coconut Pudding yang ada di Cream-Me memang berbeda dari puding kelapa yang banyak dijual di pasaran. “Coconut Pudding dalam batok kelapa memang masih sedikit yang menjualnya di Jakarta. Saya melihat ini sebagai peluang pasar, karena itulah saya mencoba kembali berkreasi menciptakan resep yang tepat untuk puding kelapa yang disajikan dalam batoknya. Dan ketika mengeluarkan produk ini, saya kerap memberikan sample untuk pelanggan setia dan kembali mendapat tanggapan yang positif. Karena tampilannya yang unik serta citarasanya yang segar, coconut pudding ini menjadi salah satu produk favorit yang ada di Cream-Me,” kata Jennifer.

Jennifer mengakui ia memakai jenis kelapa bakar dari Thailand, karena ia menginginkan air kelapa di dalamnya yang rasanya lebih manis untuk kemudian diolah menjadi puding. “Baru selanjutnya saya masukkan kembali dalam batoknya hingga puding mengeras,” jelas Jennifer. Coconut Puddingnya sendiri hadir dalam varian original dan nata de coco dengan pengemasan yang dilakukan dengan cara melapisi keseluruhan batok kelapa mempergunakan plastic wrap lalu dibungkus plastik kemasan berlogo Cream-Me sehingga aman ketika didelivery. Pembelian 2 buah disebut Jennifer sebagai pembelian minimal Coconut Pudding tersebut yang dilabeli dengan harga satuan Rp.30.000,-. “Saya tidak ingin memberati pelanggan yang mungkin tidak ingin membeli terlalu banyak atau hanya ingin sekedar mencoba dulu,” pungkas Jennifer.

twitter.com/CreamMe_Enough

Written by Dewi Sri Rahayu
Photo by Hendri Wijaya

Comments { 0 }