Archive | Recommended RSS feed for this section

Pralin by Chocolate Monggo, “The Finest Indonesian Chocolate”

“The Finest Indonesian Chocolate” menjadi konsep yang diusung Chocolate Monggo dalam menunjukkan kualitas terbaik dari aplikasi produk cokelat menggunakan biji kakao di Indonesia.

Chocolate Monggo berdiri pada tahun 2005 dan saat ini Chocolate Monggo sudah memiliki 6 gerai yang tersebar di berbagai wilayah di Yogyakarta dan salah satunya adalah kafe Pralin by Chocolate Monggo.

“Kafe Pralin by Chocolate Monggo merupakan sebuah tempat di mana masyarakat dan chocolate lovers dapat menikmati ragam varian praline yang menggunakan produk cokelat dari Chocolate Monggo. Setiap praline kami buat secara handmade dan memiliki isian dengah bahan baku alami seperti penggunaan buah asli untuk beberapa varian,” Steffen Hitscher, Marketing Manager Chocolate Monggo, menjelaskan mengenai produk yang diusung dalam Pralin by Chocolate Monggo.

Varian Praline yang Menarik

Sebagai bentuk perkenalan sekaligus edukasi mengenai praline, setiap pelanggan dapat mencicipi langsung tester yang disediakan oleh tim dari kafe Pralin by Chocolate Monggo.

Seperti varian produk lainnya, keseluruhan praline dibuat dari biji kakao dari perkebunan di sejumlah wilayah di Indonesia seperti Sumatra, Jawa, dan Sulawesi serta menggunakan 100% cocoa butter yang merupakan standar utama di Chocolate Monggo.

Kafe Pralin by Chocolate Monggo yang berlokasi di Hartono Mall, Yogyakarta, memiliki sejumlah varian praline yang dapat dipilih sesuai selera pelanggan. Varian tersebut di antaranya Zeus yang memiliki isian berupa chocolate ganache menggunakan dark chocolate 77%, Pomona dengan isian strawberry ganache dan di-mould dengan white chocolate, hingga Gianduja yang mengkombinasikan cashew nut dengan palm sugar sebagai isian serta dilapisi dark chocolate 58%.

“Namun dari sejumlah varian tersebut, jenis truffle serta varian pralinesdengan isian hazelnut dan cream sangat diminati. Kami juga menghadirkan kotak khusus untuk praline sehingga tampak menarik saat menjadi buah tangan. Tentunya kemasan tersebut menggunakan kertas daur ulang bersertifikasi FSC (Forest Stewardship Council),” Steffen menjelaskan.

Authentic Chocolate Drink

Meski berfokus menghadirkan aneka praline, Steffen juga tetap menghadirkan varian produk unggulan lain dari Chocolate Monggo seperti varian Chocolate Bars 80gr dengan pilihan rasa Macademia, Red Chili, hingga Rendang. Sementara Marzipan, Hazelnut, dan Praline menjadi rasa yang begitu diminati untuk varian Chocolate Monggo 40gr.

“Konsep kafe yang kami tuangkan dalam Pralin by Chocolate Monggo membuat setiap pelanggan  juga dapat bersantai sembari menikmati produk cokelat dengan ditemani minuman Authentic Chocolate Drink. Kami menghadirkan varian chocolate drink dengan penyajian dingin atau panas hingga Choco Moko yang mengkombinasikan chocolate drink dan espresso. Tak lupa kami juga menghadirkan sajian teh dan kopi seperti cappuccino,” Steffen menuntaskan penjelasannya.

Penulis dan Foto: Raka Pradipta

Comments { 0 }

Tugu Kunstkring Paleis, Resto Bersejarah Sejak 1914

Tugu Kunstkring Paleis berdiri pada 17 April 2013 dengan menempati sebuah gedung bersejarah di Indonesia, Bataviasche Kunstkring. Didirikan pada 17 April 1914, Bataviasche Kunstkring merupakan tempat bagi Fine Arts Circle of the Dutch East Indies (Nederlandsch-Indische Kunstkring of the Dutch East Indies).

Organisasi ini didirikan pertama kali pada 1 April 1902 di Batavia yang memiliki tujuan untuk mempromosikan kegiatan maupun rasa antuasias terhadap fine & decorative arts of Indies. “Berbagai macam lukisan kelas dunia, seperti maha karya Vincent van Gogh, Pablo Picasso, Paul Gauguin, Marc Chagall, dan sebagainya, pernah dipamerkan di sini sejak awal berdirinya,” Alwin, Floor Manager Tugu Kunstkring Paleis menjelaskan.

Sejarah mencatat, Bataviasche Kunstkring sempat beralih fungsi, seperti menjadi kantor pusat Madjlis Islam Alaa Indonesia (1942-1945) hingga Kantor Imigrasi Jakarta Pusat (1950-1997). Menghidupkan kembali napas kultural, sejarah, dan seni yang tinggi dari gedung Bataviasche Kunstkring menjadi komitmen dari Tugu Hotels & Restaurants Group dengan mendirikan Tugu Kunstkring Paleis.

Kurasi Seni dan Makanan

Tugu Kunstkring Paleis seperti sebuah kurasi seni dan makanan. Dari sisi seni, Tugu Kunstkring Paleis menjadi pusat dari art exhibitionsmaupun event lainnya yang lekat dengan sejarah dan seni bernilai tinggi. Tugu Kunstkring Paleis juga memiliki art gallery & shop di mana para tamu dapat membeli karya seni, perhiasan, produk gaya hidup, dan sebagainya. Sedangkan dari sisi makanan, Tugu Kunstkring Paleis memiliki beberapa dining venues dengan keunikannya masing-masing.

Dining venues yang ada di Tugu Kunstkring Paleis meliputi The Pangeran Diponegoro Room, Suzie Wong Lounge, Balcony Van Menteng, Gallery Dining, dan Bread & Coffee Corner. Terdapat juga Ban Lam Wine Shop & Tasting Room serta private dining room seperti Soekarno Room & Colonial Rijsttafel Room,” Alwin menuturkan.

Grand Rijsttafel Betawi at The Pangeran Diponegoro Room

Pada Pangeran Diponegoro Room, terdapat lukisan “Fall of Java” berukuran 9x4m yang menjadi center of attraction. Ruangan makan berkapasitas 85 orang ini didisain mewah dengan high ceilingdilengkapi chandeliers.

Salah satu konsep sajian yang dihadirkan di Tugu Kunstkring Paleis adalah Grand Rijsttafel Betawi; sebuah cultural dining yang terbentuk di era kolonial. Menurut Alwin, Grand Rijsttafel Betawi of Tugu Kunstkring Paleis biasanya disajikan di Pangeran Diponegoro Room. Para waiters berseragam baju tradisional Betawi era 1910, akan menyajikan beragam sajian dalam ‘pikulanpikulan’ Betawi diiringi musik tradisional ‘Ondel-Ondel Betawi’.

“Sajian Grand Rijsttafel Betawi meliputi beberapa masakan autentik Betawi, seperti Nasi Uduk, Semur Lidah Betawi, Sate Lembut Betawi, Sayur Gambas Udang, Karedok Betawi, dan beberapa pelengkap sajian lainnya. Es Selendang Mayang menjadi pilihan penutup dalam set menu Grand Rijsttafel Betawi ini,” Alwin menuturkan.

Sate Lembut Betawi & Sayur Gambas Udang

Sate Lembut Betawi disajikan seperti sate lilit, menggunakan potongan batang tebu. Cita rasa daging sapi cincang berbumbu pedas semakin khas dan legit dengan penambahan smoked shredded coconut.Sayur Gambas Udang menjadi sajian yang tak kalah istimewanya. Gambas atau oyong dimasak lembut namun masih renyah pada bagian luarnya, tersaji apik dengan udang dan irisan jamur shiitake.

Menutup percakapan, Alwin mengatakan jika Grand Rijsttafel Betawi  juga dapat disajikan untuk grup yang lebih sedikit, namun penyajiannya akan dilakukan di private room Colonial Rijsttafel Room, yang memiliki kapasitas tempat duduk sebanyak 6-8 orang.

 

Comments { 0 }

Tips Pengolahan Soft Bread untuk Hasil Maksimal

Selain mempersiapkan tools dan equipments yang tepat untuk mengolah soft bread maupun mempersiapkan bahan baku yang diperlukan dengan kualitas terbaik di kelasnya sesuai pangsa pasar yang dituju, ada beberapa poin penting lainnya yang sebaiknya diperhatikan untuk hasil produk soft bread yang maksimal. Berikut poin-poin penting yang telah kami rangkum:

1. Proses pengolahan soft bread dimulai dengan mencampurkan semua
bahan kering di dalam mixing bowl yang dipergunakan untuk proses
dough mixing, kecuali garam—terutama jika menggunakan fresh yeast/
ragi basah (Compressed Yeast) karena ragi ini lebih sensitif terhadap
garam sehingga harus dipastikan terpisah selama proses pengadukan.
2. Adonan roti harus kalis dengan elastisitas adonan yang baik (tidak
mudah robek ketika adonan ditipiskan dan ditarik)
3. Proses pembentukan adonan sebaiknya dilakukan dengan cepat untuk hasil maksimal. Begitu juga saat proses pemberian filling maupun topping untuk roti.
4. Saat proofing, pastikan tidak over proofing untuk mendapatkan hasil
roti dengan permukaan halus dan kokoh (tidak mengempis dan berkerut) setelah dipanggang.
5. Upayakan untuk terus berkreasi menyajikan produk soft bread dengan bentuk yang beragam dan terlihat menarik di mata pelanggan maupun calon konsumen.
6. Varian isi yang lebih beragam, baik kreasi kreatif dari dapur sendiri
maupun melihat trend bakery yang tengah berlangsung, sebaiknya
diterapkan untuk up selling sehingga turut meningkatkan omzet
penjualan.

Comments { 0 }

Uncle Mao’s, Modern Asian Restaurant yang Sajikan Fusion Chinese Cuisine

Uncle Mao’s merupakan sebuah modern Asian restaurant yang menyajikan fusion Chinese cuisine. Uncle Mao’s didirikan pada November 2015 oleh Ari Wibowo dan seorang rekannya, Kevin Kumalaputra.

Saat ini, Uncle Mao’s memiliki dua gerai; gerai pertama di Mayapada Tower 2, Jakarta, dan gerai lainnya di Food Avenue, Lotte Shopping Avenue, Jakarta. ‘Happy Tummy, Happy Mind’ menjadi slogan yang diusung oleh Uncle Mao’s.

“Bisnis kuliner ini berawal dari hobi makan dan memilih usaha di bidang kuliner karena melihat bahwa semua orang akan selalu perlu makan. Saya pribadi suka menyantap sajian kuliner Chinese. Uncle Mao’s turut mengadopsi konsep sajian fusion Chinese cuisine, yang memadukan antara kuliner Chinese dan dari negara-negara Asia, seperti Thailand, Indonesia, Singapura, dan Malaysia,” Ari menjelaskan saat ditemui di gerai Uncle Mao’s yang terletak di Mayapada Tower 2, di kawasan Sudirman, Jakarta.

Fried Chewy Noodle & Laksa Noodle

Fried Chewy Noodle merupakan signature menu di Uncle Mao’s sekaligus personal favorite dish dari Ari Wibowo. Terdapat dua pilihan dari Fried Chewy Noodle-nya, yaitu Chicken dan Seafood. “Karakter mie nya yang chewy menjadi keunikan tersendiri. Bagi yang suka pedas, bisa memilih Fried Chewy Noodle in Szechuan Style,” Aktor peraih Bintang Drama Televisi Pria Favorit Panasonic Award Tahun 1998 dan 2000 ini menjelaskan.

 

Chewy noodle-nya juga tersedia dalam versi dimasak dengan kuah, seperti salah satunya dalam menu Laksa Noodle. Chewy noodle rebus dalam kuah Laksa khas Singapura ini disajikan dengan potongan ayam, telur rebus, dan fishball serta disajikan menggunakan steamboat. Selain itu, Chewy noodle-nya juga tersedia dalam variasi pilihan Tom Yum Noodle dan Chewy Noodle with Black Pepper Hotplate.

 

Pineapple Fried Rice

Ari juga menunjuk Pineapple Fried Rice sebagai salah satu best-selling menu di Uncle Mao’s. Thai style fried rice yang dimasak dengan udang, sayuran, potongan nanas, dan kacang mede ini tampil atraktif dengan menggunakan setengah buah nanas sebagai wadahnya.

Cita rasa bumbu yang seimbang tampil dalam sajian yang menggugah selera ini. Dengan adanya potongan nanas dapat memberi karakter identitas yang lebih kuat dan permainan tekstur dari kacang mede menambah sensasi tersendiri. Sajian ini semakin menyenangkan untuk disantap dengan udang yang dimasak dengan tepat, tidak over-cooked sehingga teksturnya masih memberi sensasi firm sekaligus ‘renyah’ yang khas.

Ada banyak ragam menu lainnya, baik dari pilihan Noodles, Rice Menu, Vegetables & Tofu Menu, Seafood, Salted Egg Over Rice, Small Bites, Soup, Steamed Eggs, hingga Desserts dan tentunya beragam menu Beverages dan Assorted Milk Teas. Untuk harga, sebagaimana yang dilihat oleh BARECA Magazine, harga yang tertera di buku menu—di luar pajak pemerintah dan service charge, masih di bawah Rp.50.000 per porsi.

“Di Uncle Mao’s, kami memutuskan tidak menyajikan menu-menu dengan lard dan pork, sehingga dapat dinikmati lebih banyak kalangan. Dengan menyajikan a la carte menu yang dimasak langsung setelah ada pemesanan membuat kami lebih mudah memantau kesegaran setiap makanannya. Harga yang affordable tidak lantas membuat kami melupakan kualitas cita rasa dari menu yang kami tawarkan,” Ari pun menutup percakapan dengan tersenyum.

 

Penulis: Dewi Sri Rahayu

Fotografer: Hendri Wijaya

Comments { 0 }

Mélati Bakehouse, Bakery dengan Desain Homey

Harina Bahar memulai bakery-nya yang ia beri nama Mélati Bakehouse, sejak September 2016, dengan mewujudkan inspirasinya tentang bakery di Inggris yang memiliki desain yang terkesan homey.

Continue Reading →

Comments { 0 }

Levant Boulangerie et Pâtisserie, Hadirkan Roti Sourdough ala Eropa

Kecintaannya terhadap produk roti, khususnya European bread, menjadi alasan utama Chef Ramon Medina dan rekannya mendirikan Levant Boulangerie et Pâtisserie.

Continue Reading →

Comments { 0 }

Up In Smoke, Sajikan Barbeque dengan Konsep Modern Platting

Chef Ubay, Executive Chef Up In Smoke saat memotong ribs

 

Wilayah Kuningan, Jakarta Selatan, dirasa tepat oleh Zachary Nice sebagai lokasi untuk memperkenalkan konsep Modern Artisan Barbeque dalam Up In Smoke. Restoran yang mengusung metode pemanggangan dan pengasapan daging secara tradisional khas Texas ini juga dipadukan dengan penyajian berkonsep modern platting yang memanjakan mata setiap pelanggan.

“Kami juga mengedepankan konsep open kitchen, dengan begitu pelanggan dapat melihat langsung proses pengolahan dari setiap hidangan baik grilled hingga smoked. Guna memberikan sajian yang segar setiap harinya, setiap olahan daging hingga bahan tambahan lain seperti saus, diproses langsung di dapur utama kami,Pria yang akrab disapa Zach ini menuturkan.

Grilled Bone Ribs Eye

Grilled Bone Rib Eye

Ditemui di hot kitchen, Corporate Executive Chef dari Up In Smoke, Chef Rapha, turut menunjukkan dua giant smoker kepada BARECA Magazine. Smoker ini didatangkan langsung dari Dallas, Texas, dengan keberadaan heater yang dapat menjaga suhu dari daging. Chef Rapha juga menuturkan bahwa setiap daging dari Up In Smoke berasal dari Amerika Serikat dan Australia.

“Proses pembakaran kami lakukan secara alami dengan menggunakan kayu dari pohon rambutan untuk mempertahankan protein dari daging agar tetap tender saat disajikan. Sementara untuk proses pengasapan untuk setiap daging, kami menggunakan metode low temperature dengan waktu yang cukup panjang, selama 4-6 jam,” Chef Rapha menjelaskan.

Salah satu grilled menu unggulan dari Up In Smoke adalah Grilled Bone Ribs Eye. Sajian ini merupakan 1,2kg USA Bone Rib Eyes dipanggang selama 30 menit dengan seasoning berupa sea salt, black pepper, mortared garlic, herb thyme dan parsley. Grilled Bone Ribs Eye juga dapat disajikan bersama Chimichurri sauce. Chef Rapha juga memberikan pilihan untuk jenis daging dalam grilled menu seperti Tomahawk dengan berat 2kg.

Smoked Wild Boar Sausage

Smoked Wild Boar Sausage

Pilihan smoked menu dari Up In Smoke cukup beragam seperti Smoked Wild Boar Sausage dan Smoked Chicken. Khusus Smoked Wild Boar Sausage, Chef Rapha memilih daging wild boar dari Papua sebagai bahan baku utama dalam membuat sosis. Setelah dipanggang, beberapa potong grilled sausage tersebut disajikan bersama kubis, selada air, dan pickled onions.

Smoked Chicken dikreasikan oleh Chef Rapha seperti halnya penyajian ala Texas. Salah satunya adalah penggunaan Alabama White Sauce yang dipadukan dengan beberapa herbs dan pickled onions. Smoked Chicken disajikan secara deconstructed bersama baby romaine lettuce.

“Sebelum menikmati langsung aneka sajian grilled dan smoked, setiap pelanggan juga dapat mencicipi beberapa menu pembuka salah satunya adalah Grilled Broccoli yang disajikan bersama spiced cashew dan romesco sauce. Sementara perpaduan honey marshmallow, honeycomb, chocolate sauce dengan vanilla ice cream sebagai topping dalam Up in Smoke S’more bisa menjadi pilihan sajian penutup yang tepat,” Chef Rapha menuntaskan penjelasannya.

Penulis: Raka Pradipta

Fotografer: Dwi Ratri Utomo

Comments { 0 }