Archive | News RSS feed for this section

Elefin Kopi Terbaik di Bangkok

Sukhumvit Soi One

Begitu mendengar nama Elefin, sosok gajah langsung terbayang di benak karena kemiripan namanya dengan kata “elephant”. Asumsi itu tidak salah karena gajah menjadi maskot Elefin Coffee, salah satu tempat dimana Anda bisa mendapatkan kopi terbaik terbaik di Bangkok. Elefin mengolah sendiri biji kopinya untuk menghasilkan rasa kopi terbaik, bahkan mesin pembuat kopi dari Jerman terpajang di ruangan sebelah pintu masuk café. Interiornya sendiri mencerminkan perpaduan antara Siam (nama daerah di Bangkok) dan western dengan dekorasi barang antik dari sang pemilik, mulai dari foto keluarga kerajaan lama sampai ke sebuah mesin pinball klasik.

Sejak berdiri pada tahun 2006, Elefin berkomitmen untuk kebutuhan para pecandu kopi yang belum terpuaskan sepenuhnya di Bangkok. Elefin juga menjadikan dirinya sebagai tempat untuk para seniman dan musisi lokal untuk memamerkan kebolehannya, tidak heran tempat ini menjadi tempat hangout favorit selain bagi para pecinta kopi, juga bagi komunitas seni. Café Latte merupakan salah satu menu kopi yang direkomendasikan, sementara “Fresh Spring Roll” merupakan makanan sehat dengan berbagai aroma herb yang eksotis. Bagi para non Muslim, sate babi di Elefin merupakan salah satu sate terbaik yang bisa Anda temukan di Bangkok.

Written by Edwin
Photo by Edwin and Petrus Gandamana

Comments { 0 }

Agalico, Tea House Bergaya Aristokrat

20 Sukhumvit Road 51 Bangkok

Apabila menginginkan suasana café yang lebih klasik dan elegan, maka Agalico Tea House adalah pilihan yang paling tepat. Siapapun yang pernah menginjakkan kaki di Agalico pasti setuju bahwa café ini memiliki “faktor Wow” yang membuat pengunjung merasa seperti seorang Aristokrat dengan indahnya arsitektur dan interior café yang mengusung tema serba putih ini. Jika ingin mendatangi Agalico, pastikan bahwa harinya adalah Jumat, Sabtu, atau Minggu pada jam 10.00 – 18.00. ML Poomchai Kumbala, owner Agalico dan juga salah satu desainer interior Bangkok terbaik menjawab perihal jam operasional yang unik ini, “Saya tidak ingin membuka Agalico 7 hari dalam seminggu atau membuka cabang lain karena saya tidak suka tekanan bisnis. Agalico mungkin tidak menguntungkan tetapi saya menganggapnya anak saya dan saya ingin menjadikannya sebuah tempat hangout yang membuat pengunjung merasa mereka mengunjungi rumah temannya”.

Agalico berasal dari kata Sansekerta yang berarti “timeless” memiliki kombinasi interior unik dari teahouse ala Inggris dan rumah colonial Birma yang terinspirasi oleh Poomchai yang pernah tinggal di Inggris. Café ini juga memiliki konsep taman unik bergaya Roma, namun menggunakan patung ala Bali. Salah satu spot terbaik di Agalico adalah sebuah gazebo ber-AC yang terletak di tengah taman. Seorang pengunjung merangkumnya dengan sempurna, “Suasananya seperti kembali ke 100 tahun yang lalu dimana kita tidak perlu diburu kesibukan kehidupan modern. Orang-orang dapat bersantai dan menikmati secangkir kopi dan sandwich dan tidak perlu mencemaskan meeting selanjutnya atau seberapa cepat mereka dapat mengecek email”.

Written by Edwin
Photo by Edwin and Petrus Gandamana

Comments { 0 }

Bangkok, Dimana Jakarta Perlu Belajar Menata Kota

Pada 21 – 23 September 2011 BAKERY MAGAZINE menjadi satu-satunya majalah bakery yang mengikuti pameran Food Ingredients Asia di Bangkok, ibukota Thailand. Ada berbagai perasaan ketika mengunjungi Bangkok, pertama ada rasa geram dan iri. Bangkok dan Jakarta selain berada di zona waktu yang sama, juga berada di tingkat kemacetan yang sama pada tahun 1995 – 1996. Namun sekarang, nyatanya Bangkok lebih sukses dalam mengatasi kemacetan ini dengan adanya sarana transportasi massal yang nyaman, aman, dan tepat waktu. Sebut saja Bangkok Rapid Transit (BRT) versi Bangkok dari Transjakarta, Skytrain Bangkok Transit System (BTS), dan subway yang terintegrasi.

Penduduk Jakarta tampaknya harus cukup puas dengan kehadiran Transjakarta yang seringkali tidak tepat waktu dan terlampau padat. Dengan dihentikannya pembangunan monorail, Jakarta menjadi satu-satunya ibukota negara ASEAN yang tidak memiliki subway ataupun monorail. Akibatnya jumlah penduduk Jakarta dan wilayah penyangga yang mencapai 25,8 juta jiwa harus memenuhi luas wilayah 662,33 km2 dengan menggunakan kendaraan pribadi. Bandingkan dengan Bangkok yang jumlah penduduk kota dan wilayah penyangga yang mencapai 10,3 juta jiwa dan menempati 1.568,73 km2.

Beberapa hal lain yang patut menjadi catatan adalah, meskipun tingkat kepadatan penduduk di Bangkok cukup tinggi, kota ini lebih bersih secara signifikan. Tidak tampak sampah yang berserakan di jalan, terutama di fasilitas-fasilitas umum seperti stasiun subway, MRT, dan taman kota. Bangkok juga merupakan kota yang lebih manusiawi, hal ini terlihat pada kepeduliannya terhadap para penyandang cacat dan para lansia. Seorang petugas terlihat sedang menuntun seorang lansia yang buta di stasiun BTS, sebuah pemandangan yang jarang terlihat di Jakarta.

Salah satu objek wisata yang wajib dikunjungi di Bangkok adalah sungai Chao Phraya. Sadar akan pemandangannya yang indah dan posisi yang strategis, beberapa hotel ternama seperti Hilton, Sheraton, Peninsula, Mandarin Oriental, dan Shangri-la berjejer di sepanjang sungai ini. Untuk menyebrangi Chao Phraya, tarif yang dikenakan terhitung sangat murah yaitu 2 Baht atau sekitar Rp 600. Di Indonesia sebenarnya banyak sungai yang bisa dijadikan objek wisata, entah kenapa tidak ada pihak yang serius menggarap hal ini. Tentunya kita berharap suatu hari nanti Jakarta akan menjadi kota yang lebih baik, bersih dan teratur seperti Bangkok.

Industri Makanan di Bangkok
Setelah perasaan geram dan iri ketika membandingkan Jakarta dan Bangkok, saatnya melupakan hal yang negatif dan beralih kepada hal yang positif di Bangkok yaitu industri makanan. Jika sering bepergian ke luar negeri, terutama ke negara-negara di Eropa, tentunya kita akan bersyukur akan murahnya harga makanan di Indonesia. Dalam hal ini, harga makanan di Bangkok relatif sama dengan Jakarta, bahkan mungkin sedikit lebih rendah. Namun jika kita melihat daftar 50 makanan terenak di dunia tahun 2011 versi CNN, 4 masakan Thailand masuk ke dalam daftar ini. Bahkan, Massaman Curry divonis sebagai makanan terenak nomor 1, diikuti oleh Tom Yum Goong pada posisi 8, Tok Moo pada posisi 19 dan Som Tam pada posisi 46. Indonesia cukup berbangga dengan Rendang yang mampu menduduki posisi 11.

Daftar ini merupakan salah satu bukti bahwa Thailand sangat memperhatikan industri makanan nasional. Faktanya, industri makanan dan minuman di Thailand menyumbang 15,3% dari Produk Domestik Bruto (PDB) Thailand secara keseluruhan, diikuti pada industri office, accounting & computing dengan 12,8% dan industri kendaraan bermotor dengan 9,6%. Hal lain yang menjadi indikator majunya industri makanan di Thailand adalah kualitas interior desain dan desain grafis yang lebih tinggi. Beberapa outlet restoran terlihat memiliki konsep desain yang sangat baik meskipun restoran tersebut kelasnya tidak terlalu tinggi. Bahkan, penjual makanan di pinggir jalan pun memajang gambar-gambar makanan mereka yang difoto dengan lighting yang memadai, tidak asal-asalan.

Kreatifitas penduduknya juga tampak dari salah satu restoran dan winebar yang bernama “The Horse Says Moooo” di salah satu daerah pusat bisnis Bangkok, Sukhumvit. Ada pula restoran bernama Milk+ yang menjual produk berbahan dasar susu seperti bubble drink, roti manis, dan roti tawar dengan selai kaya, salah satu topping roti favorit di Bangkok. Apabila Anda penggemar Chinese food, maka China Town di Jalan Yaowarat harus masuk ke dalam daftar kunjungan di Bangkok. Yaowarat juga memiliki beberapa restoran maupun tempat makan pinggir jalan yang menyajikan makanan paling enak dan unik di Bangkok contohnya saja cakue dengan selai kaya atau roti bakar dengan bumbu kacang. Jackie Chan bahkan pernah tinggal di Yaowarat ketika ia berumur 9 tahun.

Dalam berbagai sisi, Jakarta memiliki banyak persamaan dengan Bangkok. Mulai dari suhu yang sama-sama panas dan lembab, harga barang dan makanan yang relatif murah, dan penduduk yang padat. Kita memang perlu mengejar berbagai ketertinggalan dalam menata kota.

Written by Edwin
Photo by Edwin and Petrus Gandamana

Comments { 0 }

USDA When East Meet West Memadukan Unsur Timur dan Barat ke dalam Masakan

Dinas Pertanian Luar Negeri Kementerian Pertanian AS (USDA) kembali menyelenggarakan demo masak berjudul “When East Meet West” di Hotel Dharmawangsa, Jakarta. Sebagai kelanjutan dari program “USDA Council of Chefs”, empat chef asal Indonesia yaitu Chef Tatang, Ucu Sawitri, Edwin Lau dan Haryanto Makmoer, hadir untuk memperkenalkan resep baru yang berbeda kepada para pecinta kuliner di Indonesia. “Saya juga ingin berbagi kepada kaum ibu melalui bincang-bincang seperti ini. Termasuk mentransfer ilmu yang saya dapatkan mengenai cara mengolah makanan yang sehat di rumah,” jelas Muchtar Alamsyah atau yang dikenal Chef Tatang.

Pada program ini hadir pula Chef Andrew Gold, Direktur Kemahasiswaan di Institue of Culinary Education di New York dan Chef Jill Sandique, Pelatih Kepala USDA Culinary Theater di Manila juga hadir untuk membagikan resep-resep terbaru sebagai bagian dari program pelatihan Council of Chefs yang masih berlangsung. Uniknya, resep-resep yang didemokan menggabungkan bahan-bahan khas Amerika dan bumbu-bumbu tradisional Indonesia, sesuai dengan tema demo When East Meet West. Beberapa resep yang didemokan adalah Braised U.S Duck Legs yang menggunakan bumbu khas Indonesia, kencur atau perpaduan Wagyu USA dan biji kopi espresso pada menu Seared Coffee and Spice Crusted U.S Wagyu Beef Tenderloin.

Pada kesempatan ini, keempat Chef juga berbagi pengalaman dari apa yang mereka dapatkan dari sekolah memasak di Amerika di Cullinary Institute of America di New York. “Di sana saya masuk kelas Food Scientist. Banyak sekali ilmu yang saya dapat disana dan sekaligus bertukar informasi mengenai masakan Indonesia di sana,” tutur Chef Edwin Lau yang tengah naik daun ini. Di sisi lain, kesempatan di Amerika dimanfaatkan Chef Haryanto Makmoer untuk memperkenalkan lapis legit. “Setiap kali pergi, saya selalu membawa lapis legit. Tujuannya untuk mengenalkan makanan khas Indonesia di luar negeri, Teman-teman Chef di Amerika mengagumi lapis legit dan ingin tahu bagaimana cara membuatnya,” jelas Chef Haryanto Makmoer.

Acara ini juga merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan hubungan dagang antara perusahaan makanan Indonesia dan AS. Peningkatan dan investasi yang lebih besar merupakan salah satu tujuan utama Kemitraan Komprehensif AS-Indonesia. Selanjutnya, program roadshow USDA Council of Chefs in rencananya akan diadakan di beberapa kota di Indonesia dengan harapan mampu mengembangkan industri rumah tangga Indonesia.

Written by Dody, Photo by Andri

Comments { 0 }

Pasar Murah Rakyat EPFM Dukung Usaha Pemerintah Kendalikan Harga Sembako

Ibu rumah tangga yang kebanjiran order kue dadakan merupakan cerita yang biasa di bulan Ramadhan. Beberapa hidangan favorit Lebaran seperti cookies, bolu, brownies, chiffon, donat, martabak manis, dan gorengan tentu saja menggunakan terigu sebagai bahan baku utama. Oleh sebab itu, Eastern Pearl Flour Mills (EPFM) memanfaatkan momen ini untuk memasarkan produk unggulan mereka, terigu serba guna protein sedang “Kompas” dalam kemasan 1 kg dalam rangkaian kegiatan Pasar Murah Rakyat pada 18 – 19 Agustus 2011 di Rawa Badak, Jakarta Utara. Dengan kemasan 1kg yang praktis, tentu saja sasaran utama mereka adalah para ibu rumah tangga dan UMKM sebagai pengguna.

“Acara tahunan ini diadakan oleh Dinas Perindustrian, Dinas Koperasi dan Pemda DKI Jakarta dalam rangka menyambut Bulan Ramadhan. Selain agar rakyat dapat menikmati sembako murah, acara ini kami ikuti untuk membantu program pemerintah mengendalikan harga”, jelas Gunawan Zabdiel, Technical Marketing Support EPFM. Sebelumnya EPFM juga mengikuti acara ini di Lapangan Palad, Cakung pada 15 – 16 Agustus lalu. Kegiatan ini akan berlangsung selama bulan Ramadhan di beberapa lokasi di Pulau Jawa.

Dalam kesempatan kali ini, pemerintah mensubsidi para peserta Pasar Murah Rakyat. Untuk produk EPFM, terigu Kompas 1 kg yang biasa dijual Rp 7.000 mendapat subsidi sebesar Rp 1.500. Momen ini tentu saja dimanfaatkan betul oleh masyarakat dengan cara membeli terigu dalam jumlah banyak. Hanya dalam waktu 2 hari, EPFM telah menjual lebih dari 1.000 kg terigu Kompas.

Pasar Tradisional Memiliki Nilai Penting
Menurut Gunawan, kemasan 1 kg ini disukai ibu rumah tangga karena lebih higienis dan praktis. “Selain itu kami bisa yakin bahwa terigu ini benar-benar merek Kompas. Karena pada beberapa pasar tradisional yang menggunakan sistem terigu timbangan (scooping), pelanggan tidak bisa memastikan apakah terigu yang dimaksud sesuai yang diminta”, tambahnya.

Pengalaman di lapangan membuktikan bahwa brand Kompas telah cukup dikenal masyarakat. Hal ini tentu saja berkat strategi EPFM untuk memperkuat jalur distribusi dari pasar tradisional terlebih dahulu untuk meningkatkan brand awareness. Selain itu, pasar tradisional terbukti lebih maksimal dan sesuai dengan daya beli masyarakat dan penyerapan produk. Target distribusi utama mereka adalah Pulau Jawa, bahkan terigu Kompas telah tersedia di hampir semua pasar tradisional di wilayah Jakarta.

“Daya beli dan penyerapan produk jauh lebih maksimal jika melalui pasar tradisional”, jelas Gunawan. Terigu Kompas adalah produk EPFM yang memiliki beberapa keunggulan yaitu butirannya lebih halus sehingga pelanggan tidak perlu mengayak terlebih dahulu. Keunggulan lainnya adalah jumlah produk yang dihasilkan (yield) lebih banyak, jangkauan aplikasi produk yang luas dan bervariasi, serta dihasilkan oleh EPFM yang telah dikenal baik oleh masyarakat.

Kegiatan Pasar Murah Rakyat merupakan acara yang menguntungkan semua pihak, mulai dari pemerintah, masyarakat, sekaligus peserta seperti EPFM. Dengan subsidi yang diberikan pemerintah, masyarakat mampu mendapatkan barang dengan harga murah yang kemudian akan meningkatkan produktivitas UMKM selama bulan Ramadhan.

Comments { 0 }

U.S. Council of Chefs Berbagi Resep Terbaik

Pada 5 – 7 Juli 2011, Departemen Pertanian AS (USDA) Council of Chefs (CoC) mengikuti Program Train the Trainer di Meranti Magsaysay, Center for Hospitality & Culinary Arts, Jakarta. Michael J. Fleming, Direktur School of Baking Technology at CerealTech, Singapura memberikan pelatihan ini. CoC merupakan kelompok Chef Indonesia dari beragam latar keahlian kuliner yang dibentuk oleh Dinas Pertanian Luar Negeri (FAS) Jakarta. Anggota CoC terdiri dari ahli gizi dan penulis Chef Edwin Handoyo Lauwy (Chef Edwin Lau), hot kitchen chef Muchtar Alamsyah (Chef Tatang), dan baking and pastry chefs Ucu Sawitri dan Haryanto Makmoer.

Para chef ini mengembangkan menu-menu mereka sendiri setelah mempelajari berbagai produk makanan AS. Mereka membagi pengetahuan yang mereka peroleh dengan industri kuliner Indonesia melalui presentasi demo masak di Jakarta dan beberapa kota lainnya di Indonesia. Selama pelatihan yang diberikan oleh Chef Mike Fleming, para chef dari Indonesia tersebut menyiapkan hidangan dengan menggunakan produk dari sejumlah asosiasi produsen pertanian Amerika seperti United States Potato Board (USPB), Washington Apple, Sunkist, Sunsweet, California Grapes, Bard Valley Medjool Fresh Dates dan Sun Maid Raisins. Para chef tersebut juga akan terus bekerjasama dengan asosiasi produsen USDA dan industri makanan lokal untuk mengembangkan menu-menu Indonesia baru menggunakan produk bahan makanan Amerika.

USDA Council of Chefs adalah program tahunan yang disponsori oleh Dinas Pertanian Luar Negeri (FAS) Departemen Pertanian AS (USDA. FAS juga berupaya meningkatkan penjualan produk-produk pertanian AS ke Indonesia, mengembangkan pasar-pasar yang baru, meningkatkan daya saing bagi pertanian AS, dan membangun kapasitas pertanian dan perdagangan Indonesia. FAS juga bertanggung jawab atas negosiasi perdagangan pertanian bilateral.

Comments { 0 }

Home Made Bakery Hadir di Ex-Plaza Indonesia

Telah berdiri sejak tahun 1993, Home Made Bakery kini mulai mengembangkan Bakery shop-nya dengan membuka cabang-cabang di mall yang ada di Jakarta. Salah satunya adalah di EX Plaza Indonesia yang dibuka pada tanggal 19 Juli 2011. Bertempat di Lantai 1, Home Made Bakery di EX Plaza Indonesia mengusung konsep take away dan melengkapi produknya dengan aneka minuman baik berupa teh maupun kopi. Dengan membuka gerai Home Made Bakery di mall-mall ini, Home Made Bakery tidak hanya ingin eskpansi dalam segi tempat tetapi juga segmen yang terus dikembangkan.

Selama ini Home Made Bakery selalu mengincar segmen ibu rumah tangga dan orang-orang kantor. Dengan membuka gerai di Mall ini Home Made Bakery juga ingin mencakup segmen yang lebih luas lagi yaitu anak muda. “Home Made Masih punya banyak produk yang akan dikeluarkan sesuai dengan kondisi setiap lokasi dan Home Made juga membedakan produk yang dijual,” ungkap Darwin Sofyan, Director Home Made Bakery. Lebih lanjut dijelaskan olehnya, untuk menjaring target market anak muda inilah alasan Home Made Bakery di EX Plaza Indonesia menyediakan aneka minuman seperti kopi dan teh di gerainya.

Bagi warga Jakarta, mall EX Plaza Indonesia dikenal sebagai mall yang lebih mengedepankan lifestyle dibanding pusat perbelanjaan. Hal inilah yang dinilai cocok oleh Darwin untuk Home Made Bakery membuka cabangnya. Dengan tidak menggunakan konsep dine in, Home Made Bakery ingin menggabungkan minuman seperti kopi dan dan aneka produk bakery dalam satu kesatuan One stop Bakery shop. “Kopi dan bakery merupakan satu pasang, jadi setelah memilih roti pelanggan juga bisa memilih minuman yang Home Made Bakery sediakan untuk dibawa sambil jalan,” ungkap Darwin.

Pertumbuhan Gerai Tanda Kemajuan Usaha Pesat
Di awal usahanya, Home Made bakery merupakan usaha rumahan dan produk roti dijajakan dengan sepeda kerumah-rumah. Kini Home Made Bakery merupakan salah satu bakery shop besar dengan memiliki 3 sentra produksi sebagai central kitchen dan 17 gerai yang tersebar di Jakarta dan 3 gerai di Area Bisnis Sudirman. Melihat gerainya yang tidak hanya di mall tetapi juga di ruko-ruko, Darwin pun menilai antara Mall dan ruko memiliki perbedaan yang signifikan, terutama untuk mengembangkan bisnisnya, “Di Mall waktu yang dibutuhkan untuk meraih pembeli tidak lama, karena pengunjung sudah ada, kalau di ruko karena bisnis yang dikembangkan ini adalah bisnis makanan, tidak bisa menunggu pelanggan datang dan waktu yang dibutuhkan jadi lama,” papar Darwin. Waktu yang lama ini bisa menyebabkan banyak sisa roti dan itu dinilai merugikan bagi Home Made Bakery.

Tiap gerai Home Made Bakery pasti berbeda produk yang dijual. Di EX Plaza Indonesia ini, Home Made Bakery lebih mengedepankan produk-produk roti-roti yang modern. Crepes Bread menjadi produk unggulan Home Made Bakery untuk para pelanggannya di EX Plaza Indonesia. Dengan dibungkus kulit crepes dan ditambah chili sauce dan mayonaise, produk ini dibuat dalam 4 variasi yaitu Tuna Crepes, Chicken Crepes, Beef Crepes dan Choco cheese Crepes. Kehadiran Home Made baik di ruko sampai di mall kelas atas merupakan sinyal bahwa bisnis bakery yang dikelola dengan tepat pasti berkembang pesat.(Dody)

Comments { 0 }