Archive | News RSS feed for this section

Fonterra Incentive Course Le Cordon Bleu Sydney Australia

Sebagai tanda apresiasi terhadap para pelanggan setianya, maka pada tanggal 26 September sampai 2 Oktober lalu, Fonterra Brands Indonesia menyelenggarakan acara Fonterra Incentives Course – Le Cordon Bleu, Sydney Australia. Sebagaimana disampaikan oleh Denny H. Ardiwinata, National Trade Marketing Manager Fonterra Brands Indonesia, bahwa tujuan dari acara ini merupakan salah satu misi dari Fonterra untuk menjembatani seluruh pelanggan untuk terus mengembangkan bisnis, ide dan trend di bidang usaha Bakery, Pastry serta Café di Indonesia. Juga untuk menambah wawasan serta mempererat hubungan antara Fonterra dengan para pelanggan setianya.

Para pelanggan yang berangkat memang telah memenuhi pencapaian target pembelian produk Anchor dari Fonterra Brands Indonesia dan mencapai 35 pelanggan dari berbagai daerah di Indonesia yang meliputi industry bakery dan perhotelan. Para pelanggan ini ada yang dari Aceh, Medan, Lampung, Jakarta, Bandung, Solo, Surabaya, Purwokerto, Bali, sampai ke Ternate. Pada kesempatan ini BAKERY MAGAZINE ikut diundang berangkat bersama rombongan dengan mengutus Senior Desainer yaitu Ceppy Anugrah Syafar.

Dari Fonterra Brands Indonesia dan Mulia Raya, sebagai distributor produk Fonterra di Indonesia ikut menemani para peserta adalah Agustini Muara, Foodservices Director Fonterra Brands Indonesia, Denny H. Ardiwinata, National Trade Marketing Manager Fonterra Brands Indonesia, Yus Andriana, Advisory Chef (Pastry) Fonterra Brands Indonesia, Petrus Nugraha, Advisory Chef (Hot Kitchen) Fonterra Brands Indonesia, Sandjaya Rusli, Director PT. Mulia Raya Agrijaya Foodservices Division dan Robby Gunawan, Director PT. Mulia Raya.

Selengkapnya dapat dibaca pada Bakery Magazine edisi November 2011

Comments { 0 }

Trade Expo Indonesia 2011 Produk Ekspor Andalan Indonesia

Trade Expo Indonesia (TEI) ke-26 kembali digelar di Pekan Raya Jakarta pada 19-23 Oktober 2011. Menurut Menteri Perdagangan Gita Wirjawan, penyelenggaraan TEI ini sudah berhasil dengan baik. Di hari ketiga TEI total transaksi mencapai $ 351 juta atau telah mencapai 92,37% dari target yang sudah ditetapkan. Transaksi masih didominasi oleh pembeli yang berasal dari negara berkembang dan non tradisional. Hingga hari ketiga jumlah pembeli dari negara-negara ini mencapai 84,4%, di antaranya adalah Mesir, Banglades, Iran, India, dan Malaysia. Para peserta pameran pun bervariasi mulai dari UKM yang memproduksi ukiran batik, patung, sabun, sampai ke produsen cokelat, kopi dan minyak sawit. Pada acara ini, hadir juga Sumatra Coffee Luwak dan PT. Smart Tbk yang menarik perhatian.

Sumatra Coffee Luwak
Kopi Luwak adalah salah satu komoditi ekspor kebanggaan Indonesia yang diakui dunia sebagai kopi termahal bahkan mengalahkan kopi Blue Mountain Jamaica. “Waktu saya di Guangzhou, salah satu coffee shop menjual Blue Mountain Jamaica hampir seharga Rp 100.000 per cup, sedangkan Kopi Luwak dijual dengan kisaran Rp 500.000 – Rp 700.000 per cup,” jelas Jonsen, Director dari Sumatra Coffee Luwak. Dengan kisaran harga demikian, boleh dikatakan 90% pangsa pasar Sumatra Coffee Luwak memang lebih berfokus untuk ekspor, hal ini dikarenakan ekspektasi masyarakat luar negeri yang sangat tinggi. Kopi Indonesia memiliki ciri khas yang sangat unik dan melalui proses yang alami oleh hewan luwak.

“Indonesia adalah founder Kopi Luwak, namun karena sangat ngetren di dunia dengan harga yang cukup fantastis sehingga banyak negara lain yang meniru seperti Filipina dengan nama Alamid Coffee, Vietnam dengan nama Civet Coffee. Yang menjadi masalah adalah Malaysia yang juga mengusung nama Kopi Luwak, padahal istilah luwak berasal dari bahasa Jawa yang berarti musang,” kata Jonsen. Ini merupakan pekerjaan rumah bagi Indonesia terutama pemda dan pemerintah pusat untuk melindungi warisan asli leluhur.

PT. Smart Tbk
Pelanggan setia minyak goreng Filma mungkin akan kesulitan menemukan brand ini di luar negeri. Salah satu alasannya adalah PT. Smart sengaja memberikan nama Mitra untuk minyak goreng yang diekspor. “Mitra merupakan merek minyak goreng PT Smart Tbk untuk diekspor ke negara-negara Asia Tenggara dan Timur Tengah. Kami melakukannya karena untuk pasar lokal, kemasannya harus menggunakan bahasa Indonesia, sehingga kami memutuskan untuk membagi brand menjadi 2 kategori, lokal dan ekspor,” jelas Andry Alamsyah, International Business Manager PT. Smart. Karena tingginya konsumsi pemakaian minyak goreng untuk pasar lokal, maka proporsi untuk pasar lokal dibandingkan dengan ekspor adalah 60:40. Namun ada beberapa pengecualian untuk beberapa negara seperti Filipina, di sana Smart tetap menamakan minyaknya dengan nama Filma.

Written by Edwin
Photo by Andri

Comments { 0 }

Sanitas Foods Gelar Grand Baking Demo Cirebon Semangat Tinggi untuk Berinovasi di Kota Udang

Di Indonesia, pada umumnya antusiasme peserta sebuah Grand Baking Demo akan lebih tinggi di kota-kota kecil seperti Cirebon. Selain berfungsi sebagai jendela bagi para owner untuk melihat tentang tren bakery di kota besar, acara Grand Baking Demo di kota kecil juga merupakan sarana transfer ilmu yang efektif bagi mereka. Sanitas Foods, selaku distributor sekaligus toko bahan ingredient terbesar di Cirebon, memprakarsai acara Grand Baking Demo yang berlokasi di Hotel Santika dan menggandeng 3 perusahaan yaitu PT. Eastern Pearl Flour Mills (EPFM), PT. Smart Tbk, dan PT. Saf Indonusa. “Kami terus berharap dukungan dari semua pihak agar usaha boga di Cirebon dapat terus berkembang. Sanitas akan hadir terus di Cirebon untuk mensukseskan usaha Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu sekalian,” kata Mia Harja Satria, owner dari Sanitas, pada pembukaan acara Grand Baking Demo.

Koko Hidayat dari PT. Smart
Dengan hadirnya 3 perusahaan besar ini, bisa dipastikan peserta akan mendapat lebih banyak resep untuk diaplikasikan ke usaha mereka. Acara dimulai dengan baking demo dari Koko Hidayat dan asistennya Indra dari PT. Smart Tbk, yang menyarankan peserta untuk tidak menggunakan ukuran butir telur pada resep. Salah satu resep yang diajarkan Koko adalah Peach/Strawberry Short Cake. “Setiap telur memiliki ukuran yang berbeda, sehingga lebih baik kita menimbang telur agar mendapatkan hasil produksi yang lebih stabil,” jelas Koko Hidayat. Seorang peserta menanyakan perbedaan antara cake emulsifier dan cake softener. Koko menjawab dengan jelas, “Softener dipadukan dengan vanilla essence berfungsi untuk membuat cake lebih moist sekaligus mengurangi bau amis dari telur. Di sisi lain emulsifier berperan agar campuran antara cairan baik air maupun telur dengan margarin (lemak) menjadi terikat semakin baik”.

Santoni dari PT. Saf Indonusa
Demo dilanjutkan oleh Santoni dari PT. Saf Indonesia. Santoni memiliki pengalaman bekerja di hotel yang menuntutnya membuat segala sesuatu dengan cepat, oleh sebab itu jika membuat roti ia mencampurkan semua bahan sekaligus. Pelajaran yang ia dapat adalah jika ragi sudah tercampur dengan fat, maka proses pengembangannya akan lebih lambat. “Untuk menghindari hal seperti ini, usahakan untuk selalu memasukkan ragi terakhir setelah mencampurkan semua bahan lain,” kata Santoni

Suhu ideal juga menjadi ocus Santoni pada baking demo kali ini. “Ragi adalah makhluk hidup sejenis jamur yang bekerja pada suhu 26 derajat C – 30 derajat C, maka begitu ragi dibuka dari kemasan ia akan mulai bekerja,” jelasnya. Oleh sebab itu ia menyarankan setelah digunakan, ragi sebaiknya dibungkus dan dimasukkan ke dalam chiller, karena di suhu 4 derajat C ragi akan tertidur sehingga lebih awet. Contoh kasus lainnya adalah, pada saat pembuatan adonan sponge cake, Santoni menyarankan peserta untuk menggunakan air dingin agar ragi tidak cepat bekerja. “Dalam membuat cake ada 4 faktor utama yang harus diperhatikan yaitu bahan, mesin, standar (SOP), dan keahlian dari baker itu sendiri. Jika ada salah satu faktor yang timpang, biasanya produk akhirnya akan menjadi kurang baik,” rangkum Santoni.

Andri dari PT. Eastern Pearl Flour Mills
Paris Brest dan Apple Fritters adalah dua menu yang diajarkan Andri dari PT. EPFM. Kedua produk tersebut sering tersedia di hotel-hotel. Sesuai dengan namanya, Paris dan Brest sendiri nama kota di Perancis yang dilalui tur sepeda Tour De France. “Rute lintasannya seperti lingkaran sehingga bentuk ini menginspirasi kue sus berbentuk seperti donat ini,” kata Andri. Ia mengawali demonya dengan mencampurkan terigu protein rendah dari EPFM yaitu Teko Merah dan terigu protein sedang merek Kompas. “Ini ada satu tips juga, jika Ibu ingin volume susnya lebih tinggi dan adonan mengembang lebih bagus, Ibu bisa mengkomposisikan Kompas lebih banyak. Di sisi lain, saya menggunakan Teko Merah supaya adonannya lebih besar dan lebih kokoh,” jelas Andri. Pencampuran terigu ini juga merupakan solusi untuk kasus umum roti yang mengembang sempurna di dalam oven, namun ketika keluar adonan malah turun lagi.

“Apple Fritters merupakan adonan sejenis donat yang sering disajikan sebagai breakfast di hotel. Apel utuh yang dipotong slice pada bagian tengahnya dan kemudian dimasukkan ke dalam adonan lalu digoreng. Biasanya Apple Fritters disajikan dengan gula halus, bubuk cinnamon atau saus,” kata Andri. Ia sengaja memilih apel Malang yang teksturnya lebih keras, renyah dan rasanya lebih asam. Untuk resep yang didemokan, Andri sengaja memodifikasi resep agar lebih mudah dibuat dan memiliki nilai jual yang lebih baik. Ia kembali menggunakan kombinasi terigu protein tinggi EPFM merek Pirana dan Kompas untuk menghasilkan produk dengan tekstur lembut sekaligus penampilan yang baik.

Andri sempat bertanya kepada peserta baking demo mengenai alasan penggunaan baking powder ke dalam adonan donat. Salah seorang peserta menjawab bahwa baking powder membantu pengembangan adonan, namun tampaknya ia melewatkan satu hal. “Selain mengembangkan, yang tidak kalah penting, baking powder membantu mengurangi kadar minyak pada saat penggorengan sehingga gorengan lebih sempurna. Hal ini tentunya juga dibantu oleh produk Goodfry, minyak khusus untuk menggoreng donat dari PT. Smart,” kata Andri.

Pada kesempatan kali ini EPFM juga memberikan promo special. Untuk setiap pembelian 5 – 24 zack terigu EPFM dengan berat @25 kg, pelanggan akan mendapatkan cash back senilai Rp 2.500 dikali dengan jumlah zack terigu yang dipesan. Sementara untuk pembelian di atas 25 zack, cash back yang didapat menjadi Rp 3.000. Uniknya, cash back ini tidak dapat diuangkan, melainkan dapat digunakan sebagai voucher untuk belanja di Sanitas. Jadi jika pelanggan membeli 1 kontainer terigu EPFM atau sama dengan 900 sack, maka pelanggan akan mendapatkan voucher sebesar Rp 2.700.000. Sementara, EPFM juga memberikan promo khusus untuk Kompas box yang berisi 10 kemasan 1kg. Setiap pembelian 5 – 19 box, maka pelanggan akan mendapatkan voucher sebesar Rp 2.000 dikali dengan jumlah box. Sedangkan untuk pembelian di atas 20 box, voucher yang diberikan adalah Ro 4.000/box.

Antusiasme peserta tampak tidak hanya dari banyaknya jumlah pertanyaan yang ditanyakan, tetapi dari juga jumlah peserta yang bertanya lebih dari sekali. Baking demo gabungan dari 3 perusahaan besar ini memang memakan waktu relatif lebih lama dari baking demo biasa, tetapi tampaknya peserta tetap setia mengikuti mulai dari jam 09.00 – 16.30. Wajar saja, arus perputaran informasi mengenai dunia bakery di kota Cirebon tidak sebesar di kota-kota besar lainnya, sehingga acara Grand Baking Demo merupakan kesempatan yang sangat ditunggu mereka untuk mendapatkan inspirasi. Dengan resep-resep yang diberikan oleh Koko Hidayat, Santoni, dan Andri, serta diskon produk yang diberikan oleh EPFM, tampaknya tidak lama lagi kita akan melihat berbagai produk bakery baru di Kota Udang ini.

Written by Edwin
Photo by Edwin

Comments { 0 }

Bakery Magazine Goes To Malaysia

Sebagai media partner dalam penyelenggaraan Food Hotel Malaysia 2011, Bakery Magazine berkesempatan untuk meliput secara langsung dan juga tampil sebagai peserta pameran. Bertempat di area booth media di selasar hall 1, booth yang ditata cantik ini mendapat perhatian dari pengunjung FHM.

Karena persamaan rumpun bahasa antara Malaysia dan Indonesia mempermudah para pembeli Bakery Magazine untuk memahami isinya. Sebagian besar mereka tertarik untuk mengetahui apa yang terjadi dengan kemajuan bisnis bakery yang sedang berlangsung di Indonesia. Bahkan beberapa pengunjung ingin berlangganan setiap bulan.

Pendapat mereka secara singkat adalah Indonesia sangat maju dalam desain produk bakerynya dan beberapa orang ingin datang ke Jakarta atau juga Bandung untuk belajar. Sebut saja LPK Ny Liem dan Ibu Achen yang cukup ternama dikalangan pelaku bakery dan ibu-ibu rumah tangga yang ingin memulai bisnis di bidang bakery. Resep Lapis Legit dan Nastar juga menjadi pertanyaan yang hampir tiap kali dilontarkan kepada Bakery Magazine ketika mereka membaca sampel majalah.

Di edisi mendatang, Bakery Magazine akan menampilkan secara lengkap profil peserta FHM dan inovasi yang diberikan dan juga profil Bakery yang sedang hangat dibicarakan di Kuala Lumpur.

Written by Wina
Photo by Wina

Comments { 0 }

Culinaire Malaysia 2011

Bertempat di sebuah Hall yang khusus, Culinaire Malaysia 2011 diikuti oleh lebih 1000 peserta yang terdiri dari Chef, Bartender, Team F&B baik dari Hotel, Restoran, dan juga Pelajar serta Mahasiswa. Pertandingan yang bergengsi ini menampilkan berbagai kejuaraan yang dibagi dalam berbagai ketegori.

Selain peserta yang telah siap untuk bertanding, dihadirkan pula para juri yang berkualitas yang tergabung dalam World Chef Association yang datang dari berbagai negara. Kategori besar yang paling nampak adalah kejuaraan di bidang bakery dan pastry yang kemudian dibagi dalam beberapa kategori seperti sugar showpiece, bread showpiece, cake decoration, petit four, chocolate showpiece dan lain-lain. Di kategori makanan utama juga terdapat adu kemampuan yang sangat menegangkan, terlihat dari hasil akhir pada kategori Malaysia Cuisine, Fruit Crafting dan aneka perlombaan lainnya. Tampak pula para bartender yang menampilkan kemampuan mereka dalam meracik minuman dan menyajikan ke hadapan para juri.

Aura kompetisi sangat kental terasa di hall 5 yang khusus dipergunakan untuk pelaksanaan lomba ini. Terdapat area produksi, area kerja, dan juga display yang memerkan hasil karya para peserta yang siap dinilai oleh para juri dan diijinkan untuk diabadikan oleh pengunjung yang datang.

Written by Wina
Photo by Wina

Comments { 0 }

Food Hotel Malaysia 2011

Spektakuler! Itulah kesan Bakery Magazine selama mengikuti gelaran Food Hotel Malaysia 2011 (FHM) pada tanggal 20 – 23 September 2011. Bertempat di Kuala Lumpur Convention Center menempati Hall 1 – 5 di lantai 1 dan Hall 6 -7 di lantai 3, pameran yang berlangsung 4 hari tidak pernah sepi pengunjung. Malaysia merupakan salah satu negara penting dalam industri makanan, minuman, mesin produksi dan juga hospitality di Asia.

FHM pada tahun ini adalah penyelenggaraan yang ke 11 dan mendapat apresiasi yang luar biasa dari pelaku bisnis makanan, minuman, mesin produksi hospitality dan bahkan para pelajar serta ibu rumah tangga. Total pengunjung yang datang adalah 15.000 orang. Kesibukan tampak di setiap booth peserta pameran yang seakan berlomba menarik pengunjung untuk datang dan mengenal lebih jauh mengenai produk yang ditampilkannya.

Lebih dari 1.000 peserta pameran yang berasal dari 45 negara, dan termasuk 5 International Pavilion antara lain dari Austria, Korea, Singapura, Taiwan dan USA. Masing-masing booth menampilkan produk unggulan dan inovasi terbaru yang ingin diperkenalkan kepada pelaku industri makanan dan pariwisata di Malaysia. FHM 2011 berhasil menarik perhatian dan menciptakan kerjasama serta kesepakatan bisnis yang menjanjikan.

Dari sekian banyak perusahaan yang berasal dari Malaysia dan beberapa negara lain, kita harus bangga bahwa produk dari Indonesia juga ikut tampil dalam perhelatan akbar ini, Tulip Chocolate yang menghadirkan Team Technical Advisornya dan juga display praline serta chocolate showpiece karya Chef Benty Diwansyah dan team. Tampil pula berbagai produk dari PT. Zeelandia dengan berbagai produk ingredient yang memberikan ide mengenai kreasi cupcake dan penyajiannya.

Dari sisi hospitality, hadir produsen keramik, kebutuhan bahan kimia untuk sanitasi, dan berbagai perusahaan yang concern dalam bidang hospitality. Di edisi bulan November mendatang akan ditampilkan lebih lengkap mengenai profil perusahaan yang menghadirkan inovasi dan sesuatu yang baru dan bisa menjadi sumber inspirasi bagi pelaku bisnis bakery khususnya dan makanan serta hospitality pada umumnya.

Written by Wina
Photo by Wina

Comments { 0 }

Melt Me 100% Couveture Hokkaido Chocolate

Arena 10 Thonglor 10
225/1 , Soi Sukhumvit 63 (Ekamai), Wattana, Bangkok

Banyak orang, terutama wanita, yang tidak memiliki keberanian untuk menolak sepotong cokelat couveture dengan desain unik dan lucu seperti cokelat Melt Me. Terletak di daerah Thong Lo, Melt Me merupakan salah satu café Hokkaido chocolate dan gelato yang sedang menjadi trend di Bangkok, semuanya merupakan produk homemade. Dengan desain interior atraktif dan 100% cokelat couverture untuk semua produk, Melt Me tampak seperti surga bagi para penggemar berat cokelat.

Pemilik Melt Me, Hong Chin Lee, memiliki cerita menarik mengenai awal pertemuan dengan partnernya ,Tan Passakornnatee atau lebih dikenal dengan nama Mr. Tan, seorang pebisnis green tea dan restoran yang sangat sukses di Bangkok. Dua tahun lalu, Hong mengunjungi Siam Paragon ketika ia menjalankan bisnis franchise gelato Gelatissimo. “Saat itu saya tidak tahu siapa Mr. Tan, tetapi kesan pertama saya tentang dia kurang cocok sebagai partner karena ketika saya bilang saya dari Malaysia, dan Mr. Tan bilang ia juga dari Malaysia, ketika saya bilang saya dari Penang, ia juga mengatakan hal yang sama padahal bahasa Thainya sangat lancar ,” kata Hong. Dua minggu setelah pertemuan mereka, Hong kembali ke Penang dan Mr. Tan menelponnya untuk membicarakan soal rencana bisnisnya yang baru. Kemudian Mr. Tan memintanya bergabung dan menjalankan bisnis baru mereka yaitu membuka chocolate café shop di area terpadu milik Mr Tan.

Beberapa cokelat yang menjadi andalan Melt Me adalah Hokkaido Dark, Hokkaido Matcha, Hokkaido Macadamia, Piggy, Milk Tea, dan Crispy. Beberapa produk cokelat juga mengaplikasikan teknik chocolate transfer dengan sempurna, tidak percuma Melt Me menyematkan nama “Hokkaido” sebagai jaminan mutu. Melt Me juga memiliki beberapa dessert favorit seperti roti toast ala Jepang dengan gelato dan buah-buahan yang mereka namakan Volcano Toast. Kemudian ada juga gelato dengan buah-buahan yang bernama Very Berries. “Kami mengambil gelato kombinasi antara rasa markisa dan mangga. Harus diakui rasanya sangat enak, sehingga rasanya seperti menggigit buah aslinya,” kata salah seorang pelanggan. Selain dilengkapi dengan interior yang modern dan nyaman, Melt Me juga tidak lupa memberi penghargaan kepada sang owner Mr. Tan dengan menampilkan patung karikatur Mr. Tan sebagai icon Melt Me di pintu masuk beserta alamat Facebooknya. Lihat sendiri betapa miripnya patung Mr. Tan dan foto aslinya.


Written by Edwin
Photo by Edwin

Comments { 0 }