Archive | News RSS feed for this section

SMII: Jalin Silahturahmi dengan Penjual Martabak di Bekasi

Sukses mengadakan gathering dengan para penjual martabak se- Jakarta Timur 28 Februari 2013 lalu, PT. Sinar Meadow International Indonesia (SMII) kembali mengadakan acara serupa yang kali ini bertempat di Restauran Griya Wulan Sari, Bekasi. “Acara ini untuk mempererat hubungan tali silaturahmi dengan para penjual martabak area Bekasi dan sekitarnya, dan mereka sangat antusias dengan diadakannya gathering ini di daerahnya,” ujar Eva Argita, Marketing Manager SMII.
H. Syaichuddin, sesepuh di Paguyuban Martabak King Selaras dalam sambutannya menyampaikan, “Saya sangat optimis usaha martabak akan semakin berkembang. Apalagi jika menggunakan margarin Mother’s Choice yang memiliki aroma butter dan buah yang khas sehingga sangat cocok untuk martabak manis.”

Margarin serbaguna Mother’s Choice tidak hanya cocok untuk kebutuhan ibu rumah tangga tetapi juga untuk para pelaku usaha profesional salah satunya adalah pengusaha martabak. “Kelebihan dari produk ini selain beraroma butter dan buah, juga tidak mengendal karena memiliki titik lumer yang disesuaikan dengan suhu tubuh, memiliki tekstur yang lembut serta rasa yang gurih namun dengan harga yang terjangkau,” ungkap Eva Argita.

SMII juga melakukan branding di gerobak-gerobak martabak. Selain itu, rencananya PT. SMII akan bekerjasama dengan para koordinator untuk memasarkan produk Mother’s Choice. H. Syaichuddin berharap dengan terselenggaranya acara ini dapat menjalin kerjasama yang baik antara para pengusaha martabak dengan PT. SMII. “Saya ingin ada gebrakan baru di industri martabak agar terus eksis dan berinovasi terutama dari segi rasa. “Acara Silaturahmi para penjual martabak ini akan terus dilakukan di seluruh Jakarta dan sekitarnya dengan melihat potensi pertumbuhan bisnis martabak di masing-masing area”, pungkas Eva Argita.

Written by Marisa Aryani, photo doc. SMII

Comments { 0 }

Cake Decorating Course – Handi’s Cakes Australia

Belajar Dekorasi Kue dengan Teknik yang Tepat Bersama Award Winning Cake Artist

Bertempat di Axel Room – Pullman Hotel Central Park Jakarta, Handi’s Cakes yang berlokasi di Sidney Australia, mengadakan kelas kursus dekorasi kue dari tanggal 24 April hingga 4 Mei 2013 lalu. Handi’s Cakes sendiri dimiliki oleh seorang award winning cake artist, Handi Mulyana yang semakin dikenal publik sejak kehadirannya sebagai guest chef di Australian Master Chef dan Indonesian Master Chef 2. Handi yang lahir dan besar di kota Cianjur – Jawa Barat memang piawai dalam seni dekorasi kue, khususnya yang memakai fondan sebagai media dekorasinya. Lewat kelas dekorasi kuenya, Handi berharap dapat menularkan teknik dari yang mudah hingga rumit dari jenis kue-kue unik yang beberapa bahkan terbilang baru di Indonesia, seperti Carousel Cake ataupun teknik dekorasi menggunakan cake stencil.

Pentingnya Teknik dalam Dekorasi Kue
“Ini adalah yang ke-empat kalinya, saya mengadakan kelas kursus dekorasi kue di Jakarta. Dan kali ini, ada beberapa jenis kue yang saya bawa seperti Puppy Love, 2 Tier Stencil with a Peony Flower, 3-D Porsche, Fifi the Poodle dan yang sangat terbaru yaitu Carousel Cake,” jelas Handi Mulyana.

Handi Mulyana selalu mengawali kreasinya dari sebuah sketsa. “Inspirasi bisa datang dari mana saja. Tapi, di kelas dekorasi kue saya, setiap kue sangat personal. Dari sebuah ide lalu saya buat sketsanya, juga point-point bagaimana teknik yang tepat untuk diaplikasikan pada masing-masing kue tersebut. Di kelas kursus dekorasi kue saya, tidak pernah diulang materi yang sama di negara yang sama,” kata Handi Mulyana yang sudah memiliki rencana membuka kelas dekor kue di Inggris dalam waktu dekat ini.

Handi membagi kelasnya menjadi 3 level, yaitu basic, intermediate dan advance level dengan jumlah peserta terbatas hanya 10-12 orang per kelas. Carousel cake yang masuk dalam advance level, memang terlihat unik tapi memiliki teknik rumit yang sistematis. “Semua cake saya memakai fondan untuk dekorasinya. Jadi, teknik yang tepat seperti bagaimana konstruksi kue yang mampu menopang keseluruhan kue sampai jenis kue serta filling apa yang cocok harus benar-benar diperhatikan. Dan dengan terbatasnya peserta, saya juga menjadi lebih fokus dalam mengajar setiap materi,” tutup Handi.

Written by Dewi S. Rahayu
Photo by Willys Laureel

Comments { 0 }

Cita Rasa Asli Udon dan Konsep Sehatnya

Dari riwayat karirnya yang banyak menangani masakan Jepang, Chef Edwin Lau tentu paham sekali dengan makanan yang berasal dari Negeri Sakura tersebut. Hadir dalam grand opening Marugame Udon & Tempura pada 1 Mei 2013 lalu, Chef Edwin Lau mengemukakan pendapatnya mengenai makanan yang berbahan dasar tepung terigu ini.
“Memang ada masalah dimana sudah lebih dari 30 tahun terakhir ini masyarakat Indonesia hanya menikmati udon beku (frozen) yang memiliki tekstur yang sangat lembek, mirip dengan mie beras. Sedangkan udon khas dari Jepang dibuat dari tepung terigu yang seharusnya punya daya kenyal atau istilahnya al dente,” tutur Chef Edwin Lau membuka percakapan dengan BAKERY MAGAZINE.

Transisi Resep Asli Udon di Jepang
Resep asli Jepang sudah terbukti tidak bisa diterima oleh orang Indonesia. “Cita rasa Jepang kental dengan budayanya. Mereka sudah punya suatu dogma dimana makanan itu harus fresh dan dibuat seperti layaknya tradisi dan juga proses keagamaan,” ungkap Edwin Lau. “Bahkan Chef di Jepang mendapatkan posisi yang sangat dihormati,” tambahnya.
Awalnya udon dikenal sebagai makanan yang biasa diberikan kepada bayi yang masih balita dalam bentuk bubur karena sifatnya yang mudah diserap oleh pencernaan. “Sifatnya sama seperti nasi putih tapi tingkat glisemiknya lebih rendah, rendah kalori, serta rendah kolesterol dibandingkan dengan makanan sejenisnya seperti ramen, soba, dan pasta, maka udon tergolong lebih cepat dicerna tubuh sehingga lebih sehat,” tutur Chef Edwin Lau. Di negara asalnya, Jepang, udon dan supnya biasa dikonsumsi untuk menghangatkan tubuh sebelum tidur. “Bisa dibilang udon merupakan makanan pokok dan sudah menjadi satu bagian di dalam hidup mereka,” ujar pria kelahiran 16 November 1982 ini.

Kini udon hadir dalam kemasan yang berbeda, bukan lagi dibuat sakral seperti upacara keagamaan tetapi dimodifikasi lebih moderen dari segi konsep. Di Jepang sendiri, udon biasa dinikmati dengan dashi atau kaldu Jepang yang berbahan dasar ikan cakalang. Mengingat sebagian orang Jepang beragama Budha yang tidak mengkonsumsi daging, kuah udon ada yang hanya terbuat dari air putih yang dimasak sebagai kaldu sayuran atau yang dikenal dengan Nabeyaki Udon.
“Konsep tersebut lama kelamaan sudah ditinggalkan. Sekarang mereka mulai menambahkan kremes tempura, kuah kari, dan berbagai jenis tempura yang dibuat dari sayuran, mentai atau telur ikan yang bisa dikonsumsi panas atau dingin,” tutur Chef Edwin.

Melihat kepopuleran ramen di Indonesia belakangan ini, Edwin Lau mengemukakan bahwa ramen dan udon akan memiliki penggemarnya masing-masing. “Ramen sudah dikenal dengan kuahnya yang kurang mempertimbangkan unsur kesehatan karena semakin kental kuah ramen maka akan makin tinggi lemak jenuhnya, dan semakin gurih maka ramen akan dicari masyarakat. Kebalikan dari ramen, udon lebih menonjolkan akan konsep sehat dan fresh sehingga lebih mengutamakan kesehatan ketimbang rasa sehingga akan ada dua pangsa pasar yang berbeda di dalamnya,” jelas Edwin Lau.

Menurutnya, akan banyak pengikut fanatik dari udon menyusul kesuksesan ramen di Indonesia. “Tidak lama lagi banyak restoran yang menyediakan udon sebagai menu utamanya yang mana akan meramaikan kompetisi kuliner di Indonesia,” tutup Edwin Lau.

Written by Marisa Aryani,
Photo by Hendri Wijaya

Comments { 0 }

Sanitas Gelar Baking Demo dan Gathering untuk Pelanggan Setia

Baking demo umumnya digunakan sebagai sarana memperkaya ilmu serta inovasi khususnya bagi mereka yang bekerja di industri bakery. Setalah dua tahun berturut-turut mengadakan baking demo dalam satu hari, Sanitas, distributor sekaligus toko bahan ingredient terbesar di Cirebon mencoba ide baru dengan membuat baking demo selama 3 hari berturut-turut. Baking demo yang berlangsung dari tanggal 23 hingga 25 April lalu ini banyak dimanfaatkan bagi para pemilik bakery untuk melihat perkembangan tren produk di kota-kota besar.

“Agar pelanggan tidak bosan, di tahun 2013 ini saya sengaja membagi baking demo selama 3 hari. Saya juga sempat bertanya kepada para peserta dan tenyata ide ini lebih diterima karena mereka bisa lebih dekat dengan para pendemo,” tutur Regina P. Suwoko, pemilik Sanitas. Acara tahunan ini sebagai tanda ucapan terima kasih kepada para pelanggan setia dari Sanitas dengan memberikan ide mengenai aplikasi produk yang mereka gunakan. Dengan menggandeng tiga perusahaan besar seperti PT. Prambanan Kencana, PT. SMART Tbk, dan PT. Eastern Pearl Flour Mills (EPFM) dipastikan peserta akan mendapat lebih banyak resep untuk diaplikasikan ke bakery mereka.

Edukasi di Baking Demo EPFM
Melihat peserta yang kebanyakan berasal dari UKM roti manis dan kue kering, EPFM pada baking demonya membuat berbagai kreasi roti tawar, roti manis, dan kue kering. Mendapat kesempatan di hari pertama yakni 23 April 2013 lalu, pada baking demonya tim Technical EPFM menunjukkan kepada peserta tentang kualitas produk serta cara penggunaan terigu dan bahan-bahan lain secara baik dan benar.

Reiner menegaskan acara baking demo tersebut juga sebagai sarana mengedukasi para pelaku usaha jenis UKM (usaha Kecil Menengah) dalam menggunakan produk EPFM secara tepat dan efisien. Lucian Reiner Wawondatu selaku Regional Sales Manager West Area dari EPFM memberikan contoh kasus. “Ini penting karena semua terigu itu memiliki karakteristik sendiri sehingga cara penanganan pun berbeda. Para UKM tradisional umumnya suka menggunakan ilmu “kira-kira” yang artinya mereka mengolah roti tidak berdasarkan resep melainkan dengan insting mereka,” ungkap Reiner.

Dampaknya tentu berpengaruh pada biaya produksi yang semakin tinggi dan hasil jadi tidak konsisten sesuai dengan yang diharapkan. Dalam kasus ini, mereka biasanya menyalahkan produk yang digunakan, terutama tepung terigu sebagai komponen utama pada pembuatan roti. “Produk sebagus apapun apabila dibuat dalam kondisi yang kurang tepat hasilnya tentu tidak akan sesuai dengan harapan. Di sini kami berusaha untuk mengedukasi mereka akan penggunaan komposisi bahan-bahan yang pas agar hasilnya jauh lebih efektif,” tambah Reiner.

Menyinggung mengenai karakteristik tepung terigu, Reiner berpendapat bahwa terigu dari EPFM memiliki karakter yang sedikit berbeda dengan terigu merek lain. “Dilihat dari bahan bakunya yaitu gandum, kami hanya menggunakan gandum dari tiga negara yang mana merupakan gandum terbaik di dunia, yaitu dari Australia, Amerika, dan Kanada. Itulah mengapa kualitas tepung terigu kami stabil bahkan bisa dibilang di atas rata-rata dari kompetitor,” ungkap Reiner. Sedangkan dilihat dari segi penjualan, Reiner mengklaim tepung terigu EPFM berada di urutan kedua sebagai penjualan tepung terigu terbaik di wilayah Cirebon.

Penutupan Grand Baking Demo Sanitas 2013
Sebagai penutupan grand baking demo, Sanitas menggelar gathering yang berlokasi di ballroom Hotel Santika pada tanggal 26 April 2013 lalu. “Sanitas berusaha memberikan pelayanan yang terbaik untuk pelanggannya, salah satu cara adalah dengan menggelar baking demo. Kali ini baking demo diadakan selama 3 hari berturut-turut agar peserta lebih intensif dan punya banyak kesempatan untuk bertanya langsung kepada pendemo,” kata Iwan Dermawan, menantu Regina, pemilik Sanitas pada sambutannya.
Antusiasme peserta tampak dari banyaknya para tamu undangan yang hadir memadati ballroom Hotel Santika yang mana mereka adalah pengguna akhir dan sekaligus mitra UKM. Hubungan kerjasama antara Sanitas dan pihak EPFM tidak hanya sebatas antara distributor dan produsen bahan baku. Lebih dari itu Reiner mengungkapkan selama 4 tahun bermitra dengan baik, EPFM selalu mendukung setiap acara yang dilakukan oleh Sanitas, seperti yang terlihat pada acara baking demo di Cirebon ini. “Prinsip kami adalah melayani distributor berarti kami harus siap mendukung Sanitas serta para pelanggan setia mereka yang mana juga loyal customer kami,” jelas Reiner.

Pada kesempatan ini EPFM juga meluncurkan produk tepung terigu protein tinggi terbarunya yang diberi nama Kawan Lama, dimana produk ini tidak menggantikan tepung terigu protein tinggi sebelumnya yakni K2 dan Gerbang, tapi berperan sebagai produk tambahan yang mana harganya cukup murah namun tetap berkualitas.
Sebagai toko bahan kue terbesar di kota Cirebon, Sanitas sukses mengadakan baking demo selama 3 hari berturut-turut. Nyata terlihat peran besar dari Sanitas yang bukan hanya fokus mendistribusikan bahan baku berkualitas namun juga memajukan industri bakery di kota Cirebon yang akan berpengaruh positif pada perkembangan bakery di Kota Udang ini.

Written & photo by Marisa Aryani

Comments { 0 }

Antoine Audran, Traditional French Pastries Important Factors

Antoine Audran, seorang Chef yang berasal dari propinsi Périgord (Southwest of France), yaitu daerah di Perancis yang memiliki reputasi tinggi akan black truffles dan foie gras-nya, cukup dikenal di kalangan para pecinta makanan Perancis di Jakarta lewat bistro Perancis miliknya. “Saya tinggal di Indonesia sejak tahun 1995 dan hampir 40 tahun saya memang bekerja sebagai seorang Chef,” buka Antoine Antoine, pemilik dari Java Bleu French Bistro Jakarta.

Antoine yang gemar menyantap pastry klasik dari negaranya seperti Baba au Rhum, Millefeuille dan Gateau Basque punya opini menarik seputar pastry tradisional ala Perancis. “Traditional French Pastries sebagai sajian pastry tradisional yang berasal dari Perancis pada awalnya dibuat oleh pembuat kue di toko sederhana mereka dengan menggunakan bahan baku lokal dan segar. Hampir semua memiliki sejarah seperti Tarte Tatin yang dibuat oleh Tatin bersaudara ataupun Baba Au Rhum yang semula dinamakan Ali Baba. Tapi, metode pembuatannya sampai sekarang tetaplah sama,” jelas Antoine. Menurut Antoine, beberapa jenis pastry tradisional yang menjadi favorit di negaranya seperti Éclair, Baba au Rhum, Tarte Tatin sampai Millefeuille sudah cukup dikenal juga di Indonesia.

Unsur Penting Mengolah Pastry ala Perancis

Bagi Antoine, memulai proses dengan bahan baku terbaik, peralatan yang tepat, komposisi resep yang benar hingga teknik pengolahan yang ditunjang professional skill sama pentingnya dalam membuat sajian pastry ala Perancis. “Tanpa salah satu dari point-point tersebut, hasilnya tidak akan sempurna,” tegas Antoine. Jika bicara lebih spesifik mengenai bahan baku, maka Antoine memilih beberapa diantaranya yang menurutnya termasuk bahan baku wajib yang sebaiknya tidak disubtitusi saat mengolah pastry ala Perancis. “Gunakan mentega tawar (unsalted butter) segar, tepung terigu yang memiliki kadar protein yang tepat untuk pengolahan pastry, telur segar, gula pasir dan susu serta krim segar berkualitas baik,” papar Antoine.

Beberapa pastry Perancis banyak yang memakai buah dalam pengolahannya. Menurut Antoine, di Perancis, penggunaan buah segar sesuai musim lebih disukai. “Beberapa buah seperti apel dan pir bisa digunakan sepanjang tahun dan semenjak adanya buah dalam kemasan kaleng, maka beberapa jenis pastry tersedia juga sepanjang tahun, karena tersedianya buah yang diperlukan tanpa harus menunggu musimnya. Adanya fruit puree juga menjadi pemicu munculnya kreasi mousse dalam pastry Perancis sehingga penggunaan fruit puree meningkat tajam, meskipun khusus untuk sajian pastry tradisional, para Pastry Chef di sana lebih memilih menggunakan buah segar sesuai musimnya. Begitu juga dengan penggunaan batang vanilla yang kerap digunakan dalam pengolahan pastry Perancis tersebut,” papar Antoine.

Kesederhanaan Makanan Perancis Terbaik
Melihat mulai banyaknya minat pengusaha F&B di Indonesia yang tertarik dengan kuliner Perancis sebagai konsep usaha F&B nya, Antoine punya tips menarik. “Banyak yang menghubungkan makanan Perancis dengan Fine Dining. Jujur saja, kami orang Perancis tidak setiap hari menyantap sajian Fine Dining. Kami juga menyukai bistro sederhana di mana makanan rumahan ala Perancis berkualitas disajikan dalam porsi banyak dengan harga yang tetap terjangkau,” kata Antoine.

Lebih lanjut Antoine menjelaskan bahwa makanan Perancis terbaik adalah yang sederhana namun memiliki citarasa tinggi. “Usahakan tetap seperti itu dan jangan kompromi dengan kualitas bahan baku, gunakan yang terbaik yang bisa didapatkan serta usahakan menjaga keotentikan citarasanya. Dan tentu saja, jangan berhenti belajar jika benar-benar ingin menguasai kuliner Perancis dengan terus berlatih teknik pengolahan yang baik dan benar,” tutup Antoine.

Written by Dewi Sri Rahayu

Comments { 0 }

Baking Tour Musim Semi Di Seoul, 12-17 Mei 2013, Padat Dengan Kursus, Bakery Visit, Food Exhibition dan Wisata (Part 1 of 2)

SPECIAL REPORT

Masih ingat penyanyi Psy yang menggoyang dunia dengan lagunya Gangnam Style? Saat ini kalau kita ke Korea, maka demam Psy belum pudar dan bahkan hadir video klip terbarunya yaitu Gentleman yang sudah menembus 370 juta pengunduh. Tak heran demam Korea juga terus semarak di berbagi belahan dunia termasuk Indonesia. Maka saat tour ke Seoul yang diselenggarakan oleh Marina Tour dan BAKERY MAGAZINE digelar tanggal 12 sampai 17 Mei 2013 lalu, jumlah peserta yang ikut mencapai 28 orang.

Pada tour ke Seoul kali ini memang ada yang istimewa karena 18 dari 28 peserta tour merupakan peserta dari pelanggan / pemakai terigu setia PT. Eastern Pearl Flour Mills (EPFM), perusahaan penghasil terigu yang pabriknya berada di Makassar, Sulawesi Selatan. Dibawah koordinasi Anton Wijono selaku GM Sales and Marketing EPFM dan Donny Wangke selaku Marketing Manager EPFM, pelanggan EPFM yang berasal dari Makassar, Medan, Surabaya, Sumedang, Jakarta, Samarinda, Bandung sangat gembira ikut dalam baking tour ke Seoul ini.

Sisanya terdapat peserta di luar pelanggan EPFM yang bergabung dalam tour ke Seoul, yang berasal dari Medan dan membawa keluarganya masing-masing. Peserta tour berkumpul di bandara Soekarno Hatta terminal 2F pada tanggal 12 Mei 2013 malam, dan dengan pengaturan yang rapi dan efisien oleh Dewi Tjandra Maya Pramono selaku Tour Leader dan Marina Pelealu selaku Pimpinan Marina Tour, peserta melakukan proses check in dengan lancar. BAKERY MAGAZINE yang diwakili oleh Petrus Gandamana, ikut bersama menemani rombongan tour ini.

Tepat pukul 23.30 pesawat Garuda jenis Airbus A330-200 dengan nomor penerbangan GA 878 tinggal landas dan mengarah ke Incheon Korea. Waktu penerbangan malam selama 6,5 jam kami gunakan untuk istirahat. Sekitar pukul 08.30 pagi tanggal 13 Mei 2013 pesawat mendarat dengan mulus di bandara Incheon yang megah, bersih dan rapih mengagumkan. Entah kenapa selalu ada rasa iri dan kagum saat melihat bandara-bandara internasional negara lain yang begitu resik dan memanusiakan pemakainya.

Proses pemeriksaan identitas di area imigrasi dan pengambilan bagasi berlangsung cepat dan efisien. Saat sampai di area penjemputan kami disambut Jack (Jang Eun Hyuk) yang saat tour ke Korea oleh Marina Tour dan BAKERY MAGAZINE bulan November tahun 2012 lalu juga menjadi pemandu tour kami. Rupanya Marina Tour berhasil meyakinkan mitranya di Seoul agar Jack Jang bisa menjadi pemandu tour kami lagi. Maklum saat tour di bulan November 2012 lalu, Jack berhasil mempesona semua peserta tour dengan cerita-ceritanya yang kocak, pengaturan waktu dan tempat yang bagus serta kerjasama dengan semua peserta tour yang erat dan bersahabat.

Hari Pertama 13 Mei 2013

Di bus, para peserta yang masih agak lelah karena menempuh perjalanan malam dan tidur sedikit di pesawat, sudah disapa oleh Jack dengan akrab. Ada satu pengumuman yang menjadi kejutan bagi para peserta, ternyata Marina Tour memberikan bonus acara tour yaitu wisata ke Nami Island, yang di dalam jadwal sebelum keberangkatan tidak ada. Tentu saja semua peserta tour gembira karena Nami Island memang merupakan salah satu destinasi favorit di Korea. Pulau tempat shooting film Winter Sonata yang terkenal itu memang memiliki pemandangan indah.

Sebelum menyeberang dengan ferry ke Nami Island, kami mengisi perut dengan santapan siang di Namiseom Dock dengan makanan berupa daging ayam panggang. Memang hidangan khas berbagai resto yang ada di sekitar Nami Island adalah ayam panggang (barbeque) yang dibakar di atas arang dari jenis kayu khusus. Peserta nampak menikmati menyantap potongan daging ayam panggang panas-panas yang kami bungkus dengan daun selada dan irisan bawang putih serta sambal khas Korea. Acar kimchi menjadi teman santap nasih hangat kami.

Pada awal Mei suhu udara di Korea sudah mulai agak hangat sekitar 18 sampai 22 derajat Celcius. Setelah santap siang, kami menuju pelabuhan ferry penyeberangan Namiseom Dock yang dikreasikan sebagai Imigrasi Republik Nami, dimana tiketnya disebut Paspor. Perjalanan menyeberang ke Nami Island dengan ferry sekitar 10 menit.

Saat tiba di Nami Island kita disuguhi pemandangan alam yang berisi berbagai jenis pohon seperti chestnut, birches, ginko, dan maples. Pemandangan Nami Island memang mengagumkan hati dan mata. Hari itu di pulau Nami suasana agak lengang karena bukan hari libur dan saat terindah warna dedaunan adalah saat musim gugur, yang sudah lewat. Para peserta tour segera berfoto dipandu fotografer tour yaitu Andy yang sigap membantu dalam mengarahkan gaya kami berfoto, terutama bagi yang berpasangan, agar nampak seperti berakting di film Winter Sonata.

Setelah puas berfoto-foto dan menikmati pemandangan di Nami Island, kami kembali ke dock penyeberangan dan kembali ke bus yang selanjutnya membawa kami ke gerai bakery elite di Seoul yaitu Passion 5. Perjalanan selama 1 jam diisi dengan berbagai cerita menarik oleh Jack Jang. Saat tiba di gerai Passion 5, para peserta nampak kagum karena gerai yang berisi bakery, pastry, cokelat, kafe, dan restoran mewah itu berisi berbagai produk yang dibuat dengan kualitas tinggi serta ditata dengan menawan dan anggun. Harga produk yang tertera juga tergolong mahal.

Setelah puas menikmati penataan produk isi gerai Passion 5 dan berbelanja roti dan cake, para peserta selanjutnya diajak ke Bangsan Market yang berisi deretan toko perlengkapan cake dan bakery, baik mesin mixer dan oven, aneka utensil, maupun bahan baku pendukungnya. Para peserta menyukai produk berbagai cetakan kue dan kemasan cake yang dijual di sana.

Selesai dari Bangsan Market, kami diajak menuju restoran Tosokchon, yang terkenal dengan menu sup ayam Samgyetangnya. Sup ini adalah hidangan khas Korea dimana seekor utuh ayam yang di dalam perutnya sudah disi dengan beras ketan dan berbagai tumbuh-tumbuhan dimasak dengan ginseng. Kuah sup ayam ini sangat berkhasiat bagi kesehatan selain juga rasanya yang lezat. Para peserta nampak gembira menikmati sup ayam khas Korea ini.

Setelah puas bersantap malam dengan sup hangat, peserta selanjutnya dibawa ke pusat perbelanjaan ternama di Seoul yaitu Shinsegae Mall. Di pusat perbelanjaan ini peserta menikmati berbagai booth bakery yang berjajar di lantai bawah mall dengan aneka sajian khas mereka, baik menampilkan produk bakery ataupun cake dan cokelat, yang moderen maupun yang tradisional. Setelah puas berbelanja aneka roti dan cake, selanjutnya peserta dibawa ke hotel Seoul Palace yang terletak di area Gangnam untuk check in sekaligus beristirahat.

Hari Kedua 14 Mei 2013
Pada pagi hari setelah santap sarapan pagi, para peserta dibawa menuju ke Richemont Baking Institute dan Richemont Bakery. Hari ini para peserta akan belajar 5 produk bread dan cake yang meliputi White Bread with Creamcheese & Cranberry Cream, Castella, Dorayaki, Ayu, Cheese Tarte, Brechel, Finansier dan Gateau Pyreness. Baking demo dibawakan oleh Chef Shin Kyoung Moon yang merupakan pemegang gelar Korean Master Baker. Demo white bread berisikan pembuatan adonan roti dengan cara dimasak dengan air panas, yang nantinya akan dicampur dengan adonan roti biasa. Pemakaian adonan roti dimasak (boiled dough) ini akan menghasilkan tekstur roti yang lembut, putih dan harum.

Pembuatan cake Castella menunjukkan kepada peserta salah satu produk cake andalan yang dijual oleh Richemont Bakery. Pada produk Dorayaki dipakai isian dari bahan kacang merah yang manis. Yang menarik adalah Ayu, yang mirip dengan Dorayaki, namun bahan isiannya adalah potongan ketan yang legit.

Dari semua produk yang didemokan, maka Gateau Pyrenesslah yang paling menarik karena produk ini adalah produk cake andalan di Richemont Bakery. Ini adalah produk semacam baumkuchen namun dengan bentuk seperti batang pohon. Yang mengejutkan adalah kami dikasih kesempatan ke dapurnya Richemont, untuk melihat proses pembuatan Gateau Pyreness dengan mesin yang dimiliki oleh Richemont. Atas kebaikan hati Pimpinan dan Pemilik Richemont yaitu Mr. Kwon Sang Bum, maka kami diperbolehkan memfoto proses pembuatannya.

Setelah acara baking demo selesai, seluruh peserta selanjutnya dibagikan sertifikat satu persatu yang diserahkan oleh Mr. Kwon Sang Bum. Perwakilan dari peserta yaitu Anton Wijono menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang tinggi kepada seluruh manajemen Richemont, khususnya Mr. Kwon Sang Bum atas keramahan dan kesediaannya untuk membagikan ilmunya kepada para peserta. Disampaikan pula undangan untuk datang ke Indonesia kepada Mr. Kwon.

Mr. Kwon Sang Bum, yang sudah berpengalaman lebih dari 50 tahun dalam dunia bakery, karena sejak usia 17 tahun sudah bekerja sebagai baker, menyampaikan kepada seluruh peserta bahwa dia sangat terkesan dengan para peserta kursus yang mau jauh-jauh datang dari Indonesia ke Korea untuk belajar di tempatnya. Namun yang penting para peserta harus terus mempraktekkan ilmu yang dipelajarinya agar hasil pelajaran yang diberikan memberi hasil yang maksimal. Kegiatan yang mengesankan tersebut diakhiri dengan berfoto bersama di depan gerai Richemont. (Untuk mengenal lebih dalam tentang Richemont dan Mr. Kwon Sang Bum dapat melihat artikel wawancara dengan Mr. Kwon di BAKERY MAGAZINE edisi Januari 2013-Red).

Selanjutnya peserta diajak ke Doota Department Store yang berada di daerah Dongdaemun untuk berbelanja suvenir. Selesai berbelanja para peserta diajak makan malam iga sapi bakar khas Korea atau yang dikenal dengan sebutan Gal-bi. Untuk makan Gal-bi maka peserta menyantap potongan iga sapi dibungkus dengan daun selada, diolesi sambal khas Korea dan dikasih potongan bawang putih atau cabai hijau. Tekstur daging iga sapi yang lembut dan aroma daging sapi yang lezat memang membuat selera makan peserta meningkat. Selesai acara santap malam kami masih sempat meninjau gerai bakery Tous Le Jours dan Mainz Dom sebelum kembali ke hotel Seoul Palace untuk beristirahat.

Edisi depan kami akan menyajikan lanjutan laporan tour ke Korea ini dengan cerita mengenai pameran Seoul Food 2013, kegiatan membuat kimchi acar sawi khas Korea, menyusuri sungai Han yang bersih saat malam hari, meninjau gerai bakery Paris Baguette dan Paris Croissant yang megah di tengah Gangnam, lalu ke istana Gyeogbok dan melihat pasar malam Myeongdong. Jangan lewatkan.

Written & photo by Petrus Gandamana

Comments { 0 }

Jose Pelo Jr., Ungkap Rasa, Tekstur dan Tingkat Kerumitan Pastry Tradisional Perancis

Perancis sudah lama didaulat para Chef dunia menjadi trend setter di bidang pastry karena merupakan negara yang pertama kali menciptakan, berinovasi, dan menentukan standar dunia untuk jenis kuliner ini. Itulah sebabnya para Chef Perancis sangat dihargai pendapatnya, terutama dalam bidang pastry karena pada mereka-lah standar dan kualitas pastry bersandar.

Jose Pelo Jr., Sales & Technical Director dari PT. Wahana Interfood Nusantara, yang lama menekuni dunia pastry bahkan mejadi pengajar pastry di sebuah universitas di Melbourne Australia, mengemukakan pendapatnya mengenai seluk beluk pastry tradisional Perancis. “Sebenarnya ada banyak pastry yang tergolong di dalam pastry tradisional Perancis, namun beberapa jenis pastry yang terkenal antara lain St. Honore, Macaron, Financier, Pithivier, Marjolaine Cake, Mille Feuille, Religieuse, Tarte Tatin, Friands, Choux Pastry, Croquembouche, Éclair, Clafoutis, and Opera Cake,” ujar pria keturunan Filipina ini.

Karakteristik Pastry Tradisional Perancis
Menurut Joy, panggilan akrab dari Jose Pelo, karakteristik dari pastry tradisional Perancis dapat ditentukan dari 5 hal:
1.Pertama dilihat dari nama atau istilah yang digunakan untuk penamaan pastry atau cake tersebut.
2.Kedua, bisa dilihat dari basic, sponge, shortpastry, dan meringue.
3.Ketiga dari segi filling, seperti cream atau mousse, custard, ganache, compote, dan lain sebagainya.
4.Keempat adalah kombinasi masing-masing lapisan
5.Terakhir ada tahap penyelesaian.

Pastry asal Perancis tentu berbeda dengan di negara lain, terutama dari segi rasa, tekstur, dan presentasi. Jika ditelaah dari proses pembuatan, ada dua hal penting yang harus diperhatikan dalam pembuatan pastry tradisional Perancis yaitu metode dan persiapan. “Karena dua hal tersebut melibatkan keterbatasan bahan baku serta kerumitan dalam membuatnya,” jelas Chef penyuka golf dengan handicap 16 ini.

Popularitas Pastry Perancis
Di Indonesia, luasnya potensi pastry Perancis disebabkan oleh semakin banyaknya orang Indonesia yang sering berpergian ke luar negeri dan mencicipi berbagai jenis pastry Perancis yang tersebar di berbagai negara maju. Dengan demikian, banyak dari mereka yang terbiasa dengan rasa pastry tradisional Perancis.

Namun ada tiga hal utama yang harus dipertimbangkan dalam membawa pastry tradisional Perancis ke Indonesia. “Pertama ketersediaan bahan baku, kedua rasa, dan yang ketiga adalah adalah target pasar. Karena harga dari bahan baku serta tingkat kerumitan dalam proses pembuatan menyebabkan pastry tradisional pastry dijual sangat mahal,” ujar Joy.

Bukan hanya di Indonesia, pastry tradisional Perancis juga menunjukkan geliatnya di seluruh dunia. “Banyak pemilik bakery dan cake shop yang memperkenalkan pastry Perancis karena tren yang sedang berkembang. Ini akan membuat banyak negara mulai mengadaptasi rasa, standar resep, kerumitan proses serta yang terakhir harga untuk menikmati sebuah pastry Perancis orisinal ke depannya,” tutup Joy.

Written by Marisa Aryani
Photo by Imam Saparisman

Comments { 0 }