Archive | Hang Out RSS feed for this section

Warung Apresiasi Tempat Hangout Para Musisi dan Seniman

Jl. Bulungan Baru Blok C no. 01

Sementara café lain menghadirkan band reguler profesional, Warung Apresiasi (Wapress) menghadirkan musisi amatir yang sengaja datang untuk menampilkan karya orisinil mereka. Meskipun mayoritas dari band-band ini belum terkenal, beberapa band terkenal Indonesia seperti Nidji, Angkasa, Steven & Coconut Treez tercatat memulai debutnya di tempat ini.

Wapress juga dikenal sebagai tempat hangout bagi komunitas seniman, terutama dari kalangan musisi. Salah satu musisi yang dikenal sering beredar di sekitar Wapress adalah almarhum Mbah Surip yang terkenal dengan lagu “Tak Gendong” dan tokoh reggae Indonesia Tony Q. “Saya sering ke sini untuk mendukung dan memotivasi anak muda. Semua yang ada di sini sudah seperti keluarga bagi saya,” tutur Tony.

Konsep Canda dan Santai
Dengan konsep yang sederhana dan santai, Wapres memberikan suasana bersahabat yang penuh canda tawa, seperti pada saat Band Glacial tampil. “Itu sialnya dibuang saja (mengacu ucapan sial pada nama Glacial)”, kata Joker, seniman nyentrik yang sering didaulat menjadi MC di Wapress. “Jadi band yang tampil di Wapress itu tidak akan pernah bisa maju, karena jika maju akan tercebur di empang depan panggung,” canda Joker lagi.

Selain Glacial, terdapat beberapa band lain yang tampil pada malam itu seperti Monalisa, Edelweiss, dan Children of Gaza. Band yang terakhir disebut bahkan membawakan genre yang sangat berbeda dibanding yang lain, yaitu metal yang dipadukan dengan cengkok bernuansa Timur Tengah. Meskipun memiliki jenis musik yang berbeda-beda, tidak ada jarak antara mereka, sebagaimana yang biasa terjadi di komunitas musik. “Keren banget, di sini sepertinya para penonton tidak peduli perbedaan genre music,” kata Abil, vokalis dari band Villa 21 yang pernah tampil di Wapress.

“Ini Warung Apreasiasi, Bukan Café”
Kalimat itu ditegaskan berulang kali oleh Anto Baret, tokoh masyarakat sekaligus owner dari Wapress. “Ini adalah tempat untuk mengapresiasi musik dan seni, sehingga Anda boleh memesan hanya secangkir teh, menonton penampilan band dari awal hingga selesai dan tidak akan ada yang mengusir Anda,” kata Anto. Salah satu alasan Anto mendirikan Wapress adalah karena tidak adanya tempat di Jakarta yang bisa menampung kreatifitas para anak muda.

Written by Edwin Pangestu
Photo by Murenk

Baca selengkapnya pada Bakery Magazine edisi Januari 2012

Comments { 0 }

Qahwa Resto & Cafe Satu-Satunya Restoran Timur Tengah di Bandung

Jl. Progo no. 1, Bandung

Jalan Progo memiliki banyak restoran dengan desain bangunan yang unik. Namun Qahwa Resto & Café adalah salah satu yang paling menarik perhatian dengan bangunan khas Timur Tengah yang menyerupai masjid. “Kebanyakan orang menganggap Timur Tengah adalah Mesir, padahal sebenarnya luas. Mulai dari Libanon, Turki, termasuk kota Andalusia di Spanyol. Andalusia memiliki bangunan bergaya kastil Eropa namun di dalamnya memiliki ornamen-ornamen Timur Tengah,” jelas Maulana, pemilik usaha Qahwa. Setelah kagum dengan keindahan Andalusia, Maulana memutuskan untuk mengusung tema ornamen ini ke Qahwa.

Interior khas Timur Tengah terlihat dari cat interior yang semuanya dilukis dengan tangan. Salah satu pelukisnya adalah Herru Prayogo, seorang pelukis dari Yogyakarta. “Kesulitan utamanya adalah kurangnya referensi bagi para pelukis. Mereka datang dengan bentuk-bentuk piramid atau Sphinx, oleh sebab itu saya memberikan beberapa referensi yang sesuai,” jelas Maulana. Lukisan di Qahwa pun seolah bercerita. “Rencananya saya akan melengkapi suasana dengan pertunjukkan belly dance dan pertunjukkan musik khas Timur Tengah sehingga pengunjung merasa berada di luar Bandung,” ujarnya.

Qahwa sendiri berasal dari bahasa Arab yang artinya “kuat”. “Kopi awalnya ditemukan di Etiopia. Saat itu ada seorang gembala yang heran karena kambingnya tidak tidur selama 2 hari. Setelah diamati, ternyata setiap sore kambingnya memakan biji kopi,” jelas Maulana. Setelah dibawa ke Turki, istilah “Qahwa” berubah menjad “Qahve”. Ketika dibawa ke Belanda, namanya menjadi “Coffee”. “Qahwa menggunakan biji kopi buatan tangan orang Arab yang tidak bisa ditemui di tempat lain. Metode pembuatannya pun menggunakan cara tradisional, tanpa mesin kopi, dan mengandalkan aroma rempah yang kuat”.

Makanan Khas Timur Tengah
Qahwa menyajikan 75% masakan khas Timur Tengah dan 25% masakan Indonesia dan western. Maulana juga memiliki misi untuk memperkenalkan masakan TImur Tengah yang sebenarnya. “Ketika kita mendengar kata Kebab maka kita akan membayangkan makanan yang digulung roti tipis dengan filling daging. Padahal di Timur Tengah makanan itu disebut Shawarrma,” kata Maulana. Beberapa makanan lain yang menjadi andalan “Shaurbat Adas”, sup khas Libanon dan “Humus Bil Tahini”, pasta kacang Arab. Keduanya disajikan dengan roti hummus, roti khas Timur Tengah berbentuk bulat pipih untuk dicocol ke dalam kedua sup tersebut. Berbeda dengan flat bread yang identik dengan roti kawasan Timur Tengah dan India, roti hummus lebih mengembang dan teksturnya lebih lembut.

Maulana sengaja memilih Bandung karena menurutnya di kota ini belum ada restoran Timur Tengah. “Menurut saya Bandung cukup potensial karena sering dikunjungi oleh wisatawan Timur Tengah, terutama pada saat Arab Season. Komunitas penggemar makanan ini pun tidak sedikit, terutama dari wilayah Jakarta,” jelas Maulana. Optimismenya terjawab ketika banyak orang Timur Tengah dan Malaysia yang berkunjung meskipun Qahwa belum melakukan grand opening. Menurut Maulana, agar restoran ramai dikunjungi maka harus menggandeng komunitas. “Kebetulan saya aktif di berbagai komunitas mulai dari komunitas otomotif, fotografi, wanita muslimah Bandung dan dari institusi pemerintah. Ini menjadi modal utama saya untuk membangun jaringan pelanggan,” katanya.
Written by Edwin Pangestu
Photo by Murenk

Comments { 4 }

Hummingbird Eatery Sajikan Western Food yang Unik

Jl. Progo no. 14, Bandung

Nama Hummingbird merupakan jenis nama burung yang asing bagi sebagian besar masyarakat Indonesia karena burung ini hanya ada di benua Amerika. Namun, bagi penduduk Bandung dan Jakarta, nama Hummingbird berarti sebuah restoran di Jalan Progo, Bandung yang belakangan ini menjadi perbincangan meskipun baru dibuka pada 29 Desember 2010. Pada saat itu, Jalan Progo belum terlalu ramai dan Hummingbird Eatery merupakan salah satu pelopor perkembangan resto dan café di daerah ini. “Arti Eatery sendiri lebih ke tempat makan kasual, sebuah istilah yang belum begitu populer di Indonesia. Sementara jika kita menyebut restoran atau café kan sudah biasa,” jelas Julia, PR Hummingbird.

Dengan lokasi di tengah kota yang dekat dengan pusat perbelanjaan dan Gedung Sate, Hummingbird menyajikan 80% menu western food yang unik, contohnya menu “Escargot in Garlic Butter”. Escargot adalah nama Perancis untuk hewan siput. Di Hummingbird, menu ini disajikan dengan presentasi yang cantik sehingga banyak pelanggan yang tertarik untuk mencoba makanan yang rasa dan teksturnya menyerupai kerang ini. Untuk 20% sisanya, Hummingbird berkompromi dengan selera masyarakat lokal yang tampaknya masih setia menikmati masakan Indonesia.

Menggunakan Nama Burung Untuk Menu Crepes
Selain menggunakan nama Hummingbird, unsur burung kolibri juga diusung pada interior restoran seperti pada mural dan bentuk sangkar burung di dinding. Sebagai salah satu menu andalan, Hummingbird sengaja menamakan menu crepesnya dengan nama jenis burung kolibri. “Sweet crepes dinamakan berdasarkan nama jenis burung kolibri betina seperti Anna, Cinnamon, dan Violet, sementara untuk savory crepes, kami menggunakan nama pejantan seperti Costa, Rufous, dan Xantus”, kata Julia.

Menu lain yang menjadi andalan di sini adalah pasta seperti “Homemade Pastitso” dan “Tom Yum Fettuccine” yang merupakan penggabungan unsur western dari penggunaan pasta fettuccine dan unsur dari Asia yaitu Tom Yum. Salah satu menu yang mencatat angka penjualan yang mengagumkan adalah “Hamburg Steak”, daging beef patty (daging burger) dengan penyajian ala steak lengkap dengan telur mata sapi dan French fries. Hummingbird juga menyajikan menu breakfast karena jam operasional yang cukup fleksibel mulai dari jam 7 pagi sampai jam 11 malam. Menu breakfast andalan di sini adalah “Eating Machine”, buttered toast, beef ham yang disajikan dengan saus lemon.

Selengkapnya dapat dibaca pada Bakery Magazine edisi Desember 2011
Written by Edwin Pangestu / Photo by Murenk & Edwin

Comments { 0 }

Captain Cook Cruises

Dalam acara Fonterra Incentives Course Seluruh rombongan menjadwalkan untuk makan malam di atas kapal pesiar yang bertepatan pada malam terakhir di Australia. Kita di perbolehkan booking dari jauh-jauh hari, dan pada waktu yg di tentukan kita diharuskan konfirmasi kebagian loket tiket kapal pesiar itu agar memastikan dengan tempat duduk yang kita pesan. Tiket seharga 134-139 Dollar Australia. Setelah berkumpul di depan dermaga yang berada di Darling harbour kita menunggu waktu sampai menunjukan jam 19.00 malam, baru para pengunjung dapat memasuki area kapal dan menuju tempat duduknya masing-masing.
Didalam kita dapat melihat susunan tempat duduk yang rapi, di lengkapi oleh berbagai jendela kaca agar para pemgunjung dapat melihat langsung pemandangan indah kota Sydney dimalam hari.

Meja makan dibuat 2 tingkat, jadi ada pengujung yang duduk diatas dimana luasnya hanya ¼ dari dinding kapal berbentuk lingkaran, sehingga pengunjung dapat melihat langsung ke area panggung. Setelah semua penumpang memasuki kapal dan tempat duduk dipastikan sudah terisi semua, barulah kapal mulai bergerak berlayar,
Ditengah perjalanan mulai datang sajian makanan pembuka yang sangat menantang untuk kita cicipi yaitu sajian ikan salmon, udang serta potongan ayam goreng. Sementara kita menikmati sajian makanan pembuka, mulailah pembawa acara menghibur pengunjung dengan berbagai atraksi diantaranya, sulap, serta pertunjukan menari dan band “Sydney 2000” yang berlangsung hampir 1 jam setelah menu utama keluar hingga kapal merapat ke dermaga.

Kita juga dapat menikmati dinginnya keadaan malam hari kota Sydney serta dapat mengabadikannya juga menggunakan kamera yang kita punya.

Comments { 0 }

Piscator Membawa Konsep Kapal Pesiar ke Daratan

Komplek Rasuna Epicentrum Jl. HR Rasuna Said

Hanya beberapa dari kita yang cukup beruntung untuk menikmati makan di atas sebuah kapal pesiar. Oleh sebab itu, berterimakasihlah kepada Piscator yang mencoba menghadirkan suasana kapal pesiar ke daratan, tepatnya di Epicentrum Walk, Kuningan. Berkat interior yang didesain menyerupai geladak dan ruang kabin dilengkapi dengan dekorasi berupa miniatur kapal, Piscator tidak diragukan lagi adalah salah satu tenant yang paling menarik perhatian pengunjung Epicentrum Walk. Meskipun kehadirannya relatif masih baru, yaitu sejak 12 Juli 2010, Piscator menjadi salah satu resto favorit terutama bagi para pekerja kantoran di sekitar Epicentrum, penghuni apartemen Taman Rasuna dan penghuni hotel di daerah Kuningan.

Menu Seafood Internasional
Konsistensi Piscator dalam mengekspos tema kapal pesiar terlihat dari pemilihan nama “Piscator” yang berasal dari bahasa Italia yang berarti “nelayan”, serta konsep seafood buffet. “Kami memiliki jenis masakan yang terbagi menjadi counter-counter, seperti counter Jepang, Korea, Cina, dan Western. Hampir 80% masakan yang kami sajikan adalah seafood,” jelas Nana Johana, Supervisor Piscator. Beberapa makanan yang menjadi favorit adalah sushi, sashimi, daging-daging panggang dan kerang-kerang seperti kerang kipas, kerang bambu, kerang hijau, kerang darah, dan kerang kampak yang paling disukai pelanggan.

Daging bulgogi juga merupakan salah satu menu favorit di sini. Bulgogi sendiri adalah kata dari bahasa Korea yang merupakan gabungan dari kata api dan daging. Secara sederhana, bulgogi bisa disebut sebagai versi Korea dari yakiniku, dengan rasa yang lebih manis dan pedas. “Terdapat 3 jenis bulgogi di sini yaitu cumi bulgogi, bulgogi itu sendiri (sapi), dan dark bulgogi (ayam)”, jelas Nana. Piscator juga menyediakan beberapa pilihan saus dari berbagai daerah mulai dari saus teriyaki dari Jepang, sambal mercon dan sambal kecap dari Indonesia, saus barbeque, saus lada hitam dan saus khas Korea bernama den jang.

Beberapa resto prasmanan menyediakan kompor dan tempat penggorengan di meja tamu, beberapa resto lain menyajikan masakan yang sudah matang di meja. Sistem di Piscator berbeda karena beberapa makanan seperti harus dimasak terlebih dahulu oleh para koki sebelum dihidangkan. Untuk beberapa item khusus ini, Piscator menggunakan sistem pemesanan menggunakan nomor yang tersedia di setiap meja. Setelah pelanggan memilih makanan yang diinginkan, nomor tersebut diserahkan agar pesanan tidak tertukar dengan pelanggan lain. “Dengan konsep open kitchen, masakan barbeque bisa ditunggu selama 10 – 15 menit, sementara item teppanyaki hanya sekitar 7 menit. Pesanan kemudian akan diantar ke meja pelanggan,” kata Nana.

Makanan-makanan di Piscator disajikan di counter-counter sepanjang hari, hal ini tentunya merupakan tantangan bagi mereka untuk menjaga kesegaran dan kualitas bahan. “Kami menggunakan es agar bahan tetap fresh. Dalam sehari kami menghabiskan 30 karung es dengan berat masing-masing 7 – 10 kg. Es digunakan mulai dari jam 11.00 dan diisi ulang pada jam 16.00”, tutur Nana.

Mocktail Favorit
Mocktail merupakan item yang tidak termasuk dalam paket menu buffet. Di Piscator, terdapat 6 jenis minuman tidak beralkohol ini, namun ada 2 item yang menjadi andalan Piscator yaitu Jamaican on the Beach dan Pink Lady. Jamaican on the Beach adalah campuran dari melon, jeruk, dan semangka segar. Kombinasi warna hijau, kuning dan merah langsung mengingatkan kita kepada simbol musik reggae yang dipopulerkan Bob Marley, musisi legendaris asal Jamaika. Terjawab sudah mengapa Piscator menamakannya Jamaican on the Beach. “Khusus untuk kaum perempuan biasanya lebih menyukai Pink Lady yang merupakan campuran es krim vanilla, cincau hitam, sirup grenadine (buah delima),” kata Nana.

Jam operasional Piscator mulai dari jam 11.00 – 15.00 untuk lunch dengan harga Rp 150.000 nett, termasuk minuman dan dessert. “Jam 15.00 – 17.30 kami namakan sebagai high tea atau coffee break. Pada jam ini kami menyajikan salad, dessert, kopi, the, dan yogurt dengan harga yang berbeda yaitu Rp 52.000 ++,” kata Nana. Selanjutnya pada jam 17.30 – 22.00 Piscator menyajikan buffet dinner dan menambahkan beberapa variasi menu yang lebih banyak lagi. Tentu saja hal ini dibarengi dengan penambahan harga menjadi Rp 170.000. Semua harga tersebut sudah termasuk minuman dan dessert kecuali wine dan mocktail.

Apabila Anda adalah penggemar seafood yang ingin merasakan makan siang atau makan malam di atas kapal pesiar tanpa perlu pergi ke tengah lautan, rasanya tidak ada tempat yang lebih tepat untuk dikunjungi selain Piscator. Selain menyajikan menu yang sangat luas dari berbagai negara, terutama seafood, Piscator juga menghadirkan suasana kapal pesiar yang didukung dengan berbagai ornamen dan dekorasi khas kapal pesiar.

Written by Edwin
Photo by Andri

Comments { 0 }

Segarra Escape from the Concrete Jungle

Jalan Lodan Timur no. 7

Those who live in Jakarta should be familiar with the capital’s traffic jam, the heat, and pollution. In order to maintain sanity, the people sometimes need to put off the tension abit. If feeling the sea breeze by the beach accompanied by fine cuisine sounds like a good idea to you, Segarra would be the perfect place to escape the concrete jungle of Jakarta. Leonarvin Djohan, Segarra’s Media Relations summed it, “Segarra is a restaurant that offers comfort, romantic ambience without ignoring the customer’s privacy”.

Located in Ancol, one of the biggest amusement park in Southeast Asia, Segarra offers the concept of seaside escape. The name “Segarra” is actually came from the ancient Javanese word that means “sea”. With its spectacular view and ambience, Segarra which was established since August 2007 is undoubtedly one of the restaurant which has the best view in Jakarta. “The best time to enjoy Segarra’s view is at 5.20 pm to 06.00 pm as you can see the sunset by the beach,” said Leon. Aside from dining, the place can also be used for lounge, wedding, gathering, seminar, party, even some of Indonesian’s biggest music events such as Sunday Jazz Festival which featured the jazz band The Brand New Heavies, and Java Rockin’ Land on July 2011, 2010, and 2009

Choose Your Favorite Venues
The restaurant has some cozy outdoor and indoor venues with large capacity of visitors. “For some DJ parties, the visitors may reach 3500 to 4000 people, but in order to maintain the comfort zone for the guests 3000 to 3500 people would do just fine,” Leon said. Here, you can choose your own favorite spot such as the dining room in the main building. The second floor got the outdoor venue which can be set to make romantic dinner for couple, this place also has the best view to the sea. It also has VIP room for those who wants more privacy and meeting room.

Those who prefer to feel the sea breeze should choose the outdoor venue lit by romantic candles. According to Leon, the favorite spot in Segarra is The Orbit, a comfortable sofa with blue tent and small capacity of 2 to 3 people located directly by the seaside with mini tables on the sand. “To provide maximum comfort and privacy, the waiters are not allowed to walk across Orbit, except for any orders”, he stated. In fact, Segarra’s outdoor venue might be one of customers’ main considerations to come. “In weekend, 07.00 pm to 09.00 pm is our busiest hours, however some customers refused to be seated on the indoor venues and prefer waiting for the spot by the beach,” explained Leon.

Segarra had some regular weekly live music and what they called as “Live Performance @Segarra”, however due to the increasing number of gathering held, these regular events are currently postponed. Some events like gathering and wedding required the area to be blocked from regular guests. It is the management’s policy not to block all of the venues in Segarra to avoid complaints from customers, especially those who come from far places. “For example, if the event is held on the outdoor venue, the indoor venue will still be open for regular visitors”, said Leon. Those who are willing to visit Segarra must know the restaurant’s operational hour. From Sunday to Thursday, it opens at 12.00 pm to 12.00 am, on Friday from 01.00 pm to 02.00 am, and on Saturday from 12.00 pm to 02.00 am.

Segarra Specialities
Segarra provided wide range of international menus from western, Asian, Japanese, Italian, German and of course, Indonesian. Some of the favorite menus are Segarra Chilli Crab, Barbeque Ribs, Rib Eye Steak, and Indonesian’s Oxtail Soup. Especially when you order Barbeque Ribs, it is strongly recommended to wait until the menu is served before you order other menu. It is mainly because the Segarra’s Barbeque Ribs portion is huge, it may be overkill if you intend to finish it by yourself. For the cocktail and mocktail, Leon said that the favorite cocktail is Pink Killer while Segarra Sunset is the best seller mocktail.
Maintaining sanity in Jakarta is getting tougher every year with its pollution and trafiic jam. Fortunately, Jakarta citizens with high stress level are also blessed with some nice places such as Segarra to release your tension. Vacation doesn’t mean you have to go far, spending the day in Segarra enjoying sea breeze, sand beach, and the beautiful view of the sunset is more than enough to make you face tomorrow with smile on your face.

Written by Edwin
Photo by Andri and Edwin

Comments { 0 }

Petromak

Siapa yang tidak kenal dengan Baim Wong dan Lukman Sardi. Sebagai artis dan bintang film terkenal tentu saja wajah mereka sering muncul di televisi. Di tengah kesibukannya sebagai artis, ternyata mereka juga memiliki bisnis di bidang kuliner dan memilih La Codefin ini sebagai awal bisnis restoran mereka. Dijelaskan oleh Kristi, Chef Petromak, pemilihan kawasan Kemang oleh Baim Wong dan Lukman Sardi karena mereka ingin membuat tempat untuk berkumpul yang eksklusif di kawasan Kemang dan orang-orang bisa mendapatkan makanan yang berkualitas. Ditambahkan lagi oleh Iyan, Manajer Outlet Petromak La Codefin, tempat ini kadang dijadikan oleh Baim Wong sebagai tempat berkumpul dan menunggu jadwal syuting, sehingga hampir setiap malam pasti dia datang ke Petromak ini.

Petromak sendiri memiliki konsep restoran yang unik dimana bentuk restorannya yang menyerupai lampu tradisional Petromak. Terbagi menjadi 2 bagian, Petromak seakan menjelaskan bahwa menu yang ditawarkan pun banyak menu asli dari Indonesia. “Menu Petromak tetap didominasi oleh menu tradisional Indonesia, tetapi ada juga menu-menu western yakni Steak,” ujar Kristi.

Selain mengedepankan konsep tradisional lewat bentuk restorannya, Petromak pun menyajikan aneka menu makanan tradisional Indonesia di atas gerobak-gerobak. “Gerobak ini untuk memperkuat nuansa tradisional petromak,” ujar Iyan. Lebih lanjut dijelaskan olehnya, Menu yang disajikan di gerobak Petromak seperti siomay dan es podeng, sate dan aneka makanan tradisional Indonesia. Menu tradional yang dijual di gerobak pun tidak selalu sama tiap minggunya karena setiap 2 minggu sekali kadang menu akan diganti dengan makanan tradisional lainnya.

Sedikitnya menu makanan western di Petromak bukan berarti karena terbatasnya kemampuan dalam membuat menu Western, Kristi menjelaskan nantinya Petromak ingin menyajikan makanan tradisional Indonesia secara penuh. Seperti di restoran umumnya, menu tradisional indonesia yang menjadi favorit di Petromak adalah Iga Bakar dan Sop Buntut. Tetapi untuk menu unggulan di Petromak ini adalah Johny Wong Steak With Mushroom Sauce, yang merupakan menu steak dengan resep khas keluarga Johny Wong yang tidak lain adalah ayah dari Baim Wong. “Menu Steak dengan resep mushroom sauce ini tidak akan pernah ditemukan di restoran yang menjual steak manapun,” yakin Kristi.

Menyajikan Steak Dengan Resep Rahasia Keluarga Johny Wong
Kunci rahasia kenikmatan Johny Wong Steak terletak di Mushroom Saucenya yang merupakan penemuan keluarga Johny Wong. Resep sauce mushroom inilah yang membuat daging Sirloin atau tenderloin yang sudah dipanggang tetap enak walaupun dimakan dengan kombinasi kentang goreng ataupun nasi. Kristi menjelaskan untuk daging yang dipilih merupakan daging asal Australia dan dipotong di Indonesia. Setelah itu daging diracik dengan memperhatikan standar kebersihan dan kesehatannya sehingga mampu menghasilkan daging dengan kualitas kualitas yang setara dengan Wagyu tingkat 7.

Selain memberikan menu Steak rahasia keluarga Johny Wong, Petromak kini juga memberikan pilihan steak dengan memperhatikan sisi kesehatannya, “Johny Wong Steak dikombinasikan dengan beras merah dan sayurannya yang sudah diproses,” jelas Kristi. Setiap harinya, segmentasi yang datang ke Petromak beragam, mulai dari kalangan remaja, eksekutif muda hingga artis-artis terkenal Indonesia. Pada bulan September ini, Petromak mengganti jam operasionalnya menjadi 24 jam setiap hari. (Dody)

Comments { 0 }