Archive | Baking Center RSS feed for this section

Indonesia Patisserie School Memasuki Tahun Kedua

1 Agustus 2011 adalah tepat satu tahun perjalanan IPS di dunia pendidikan patisserie. Telah 250 siswa yang terdaftar dan belajar di IPS. “Beberapa siswa kita telah diterima di sekolah khusus untuk pastry di Amerika, Perancis, Australia dan juga Singapura. Mereka awalnya hanya ingin mengisi waktu tetapi justru semakin mencintai dunia pastry dan justru ingin mendalami ilmunya,”ujar Marcella Adikarta, Marketing Manager IPS. Selain itu siswa lulusan IPS baik di kelas Basic maupun Intermediate telah berani membuka bisnis bakery dalam bentuk home made ataupun modern bakery.

Bukan hanya datang dari Jakarta, Siswa yang datang dari beberapa kota besar di Indonesia seperti Semarang, Jambi, Surabaya dan dari Kalimantan. Dengan materi pembelajaran yang digabungkan antara praktek dan teori, diharapkan para siswa bisa langsung praktek di dunia kerja yang sebenarnya. “Banyak siswa yang berwirausaha di rumah dengan menerima pesanan cake, roti atau kue kering. Hal ini sesuai dengan harapan kami, bahwa siswa semakin berkembang dan siap terjun di dunia industry bakery,”ujar Marcella. Banyaknya siswa yang berasal dari luar kota jakarta juga membuktikan bahwa IPS sangat serius dalam memberikan dedikasinya kepada dunia pendidikan di bidang Bakery dan juga Pastry.

Dan memasuki tahun kedua perjalanannya, IPS semakin yakin dan terus menggandeng berbagai pihak untuk memajukan dunia bakery di Indonesia. “Anak-anak muda saat ini punya semangat yang luar biasa untuk belajar serta dukungan orang tua yang maksimal sehingga lebih cepat untuk maju,”ujar A’ing, Pimpinan IPS. Berbagai rencana besar telah dipersiapkan untuk membuat IPS semakin maju dan dikenal oleh berbagai kalangan khususnya yang bergerak di bidang industry bakery di Indonesia maupun di luar negeri.

Program Kelas Malam

Salah satu kesungguhan dari IPS adalah dengan membuka kelas di malam hari di hari selasa dan kamis. “Kelas dimulai maksimal jam 18.30 dengan durasi jam pertemuannya 4 jam. Program ini kami buat untuk para karyawan atau siswa yang tidak bisa masuk di jam siang. Jadi tidak terbentur masalah waktu, semua bisa belajar,” jelas Marcella. Baik untuk kelas basic maupun intermediate bisa mengikuti kelas di malam hari. “Program ini telah kami jalankan dan sangat efektif. Siswa bisa datang 1 atau 2 minggu sekali, kami sangat fleksibel dan siswa bisa dengan maksimal belajar,”jelas Marcella.

Student World Competition
Setelah sukses menyelanggarakan Student Competition, pada bulan Oktober 2011 mendatang IPS mengadakan perlombaan dengan skala yang lebih besar. “Kami mengundang mahasiswa sekolah tinggi pariwisata dari beberapa kota seperti Bali, Bandung, Surabaya, Makassar, Bogor dan juga Jakarta,” ujar Marcella yang telah mempersiapkan acara ini dengan matang. Perlombaan dilakukan dalam tim yang terdiri dari 2 orang untuk membuat sebuah produk pastry.

“Program ini kami lakukan untuk memperkenalkan IPS lebih luas ke seluruh Indonesia, dan wakil dari tiap sekolah yang berangkat bisa merasakan secara langsung suasana ruang produksi kami yang telah dilengkapi peralatan dan juga bahan-bahan yang lengkap pula,” tambah Marcella. Penjurian juga dilakukan oleh para ekspert untuk hasil penilaian yang obyektif dan berkualitas. “Kami juga mengundang para orang tua siswa IPS untuk datang dan juga kepada pembaca Bakery Magazine untuk ikut memberikan penilaian terhadap hasil para peserta lomba,” jelas Marcella. Selain waktu kompetisi yang dibatasi 4 – 5 jam, setiap peserta juga harus mempresentasikan hasil karyanya di depan para juri dan penonton serta memberikan taste produk. Student World Competition merupakan langkah besar IPS untuk menunjukkan bahwa dibutuhkan kesriusan dan kesungguhan untuk sebuah hasil yang maksimal.

Comments { 0 }

2nd Indonesia Patisserie Student Competition

Sukses dengan pertandingan antar siswa di bulan Juni lalu, Indonesia Patisserie School (IPS) menyelenggarakan pertandingan serupa di bulan Juli 2011. Tepat di hari Sabtu, 16 Juli 2011 bertempat di ruang kelas IPS, tampak kesibukan 10 orang peserta yang terdiri dari 5 siswa kelas basic dan 5 siswa kelas intermediate melakukan persiapan produksi hingga proses dekorasi. “Dalam pertandingan atau kompetisi kedua ini kami banyak melakukan perbaikan dari hasil evaluasi di kompetisi pertama. Salah satunya adalah peserta, kami mempertandingkan berdasarkan kelasnya dan dilakukan secara individual bukan lagi team seperti pertandingan sebelumnya,”ujar A’Ing pimpinan IPS.

Produk yang dibuat juga dibedakan, untuk kelas Basic membuat kreasi Carrot Cake, sedangkan untuk kelas Intermediate membuat kreasi Opera. Dipilihnya dua produk tersebut karena merupakan produk yang pernah diajarkan dan memberi kesempatan bagi siswa untuk berkreasi dalam dekorasi, bahan-bahan tambahan atau pengganti. Siswa diberi kesempatan selama maksimal 4 jam untuk membuat produk yang juga harus dipresentasikan di depan Juri. Peserta dari kelas Basic terdiri dari Grammy, Hans, Sumarno, Lisa dan Lili Ng sedangkan untuk kelas Intermediate diikuti oleh Cynthia, Angeline, Kristy, Max dan Fella. Carrot cake yang dibuat oleh peserta Basic telah dikreasikan dengan berbagai macam tambahan seperi walnut, almond dengan decorasi yang menarik pula. Sedangkan di kelas intermediate, para peserta berlomba membuat kreasi terunik dalam membuat opera. Bahkan ada peserta yang membuat Strawberry Opera Cake yang memadukan warna putih dan pink dalam sajiannya.

Proses Penjurian
Kesungguhan IPS dalam menelurkan siswa yang berkualitas juga dibuktikan dengan diundangnya seorang Chef berkebangsaan Mexico dan Prancis untuk ikut menilai hasil karya para Siswa. “Kami mendatangkan Chef Ignacio Birgen menjadi Juri, agar siswa termotivasi untuk membuat karya-karya terbaik dan mendapat evaluasi yang obyektif dari para ahlinya,”ujar Marchella, Marketing IPS. Chef Ignacio telah bekerja di Indonesia selama 2 tahun yaitu di Bali dan Jakarta dan telah berpengalaman dalam dunia kulinari. Ada satu lagi juri tamu yaitu yang didatangkan dari kalangan selebritis Tiara Renata, tujuannya adalah untuk mendapatkan pendapat dari wakil pecinta bakery untuk menyampaikan penilaiannya secara langsung kepada peserta kompetisi. “Selain kita memberikan pendidikan secara teknikal, Siswa kita persiapkan juga untuk siap terjun di lapangan. Jadi mendengar secara langsung pujian atau juga complain dari pembeli juga harus dihadapi, di sinilah letak pertemuan antara idealisme dan memahami kebutuhan pasar terjadi,”ujar A’Ing.

A’ing berungkali menyampaikan rasa bangga terhadap siswa yang baru saja mempresentasikan hasil karyanya, “Saya sangat terkejut dengan kesungguhan para siswa dalam mempersiapkan diri mengikuti kompetisi ini hingga pada saat penjurian. Sebagian mempersiapkan dengan sungguh-sungguh. Mereka semua melakukannya dengan hati dan semangat,” ujar A’Ing.

Penilaian tidak hanya menggunakan pendapat juri tetapi juga penonton yang datang menyaksikan kompetisi ini, 40% nilai dari Juri, 50% nilai dari penonton dan 10% dari guru. “Jika semua nilai dari guru atau juri akan kurang obyektif, kami ingin siswa siap mendengar apapun pendapat dari siapapun yang mencicipi kue bikinan mereka. Itu salah satu pembentukan mental yang menjadi tugas kami,”jelas A’Ing.

Kompetisi ini akan menjadi agenda rutin di IPS dan akan terus dievaluasi secara kuantitas dan kualitas peserta dan juga penilaiannya. “Jika seorang siswa dalam beberapa periode berturut-turut dapat memenangkan kejuaraan ini, kami tidak segan-segan untuk mengikutkannya dalam kompetisi dalam lingkup yang lebih luas baik di dalam dan luar negeri. Setiap pengalaman yang mereka dapat merupakan pelajaran yang berharga bagi siswa kami,”ujar A”Ing. Orang tua siswa juga dilibatkan dalam kompetisi ini yaitu sebagi penonton dan juga memberi nilai secara obyektif. “Rata-rata siswa kami masih di usia sekolah atau kuliah jadi peranan orang tua masih sangat besar dalam tiap kegiatan yang dilakukan oleh siswa. Kami ingin menunjukkan kepada orang tua bahwa investasi yang diberikan itu sangat berarti untuk putra-putrinya,”jelas Marchella. (wn)

Comments { 0 }

1st IPS Student Competition


Pembuktian kesungguhan Indonesia Patisserie School (IPS) menjadi tempat yang tepat untuk belajar mengenai dunia patisserie dibuktikan dengan diselenggarakan kompetisi yang mempertandingkan siswanya. “Saya ingin memunculkan kepercayaan diri para siswa dan berani menunjukkan kreativitasnya dalam produk yang dibuat. Mereka selama beberapa bulan telah dididik oleh team pengajar kami dan saatnya untuk berkompetisi karena dalam dunia kerja nanti mereka juga akan mengalami hal yang sama bahkan dengan tekanan yang lebih tinggi,” jelas A’Ing, pimpinan IPS.


Dilaksanakan pada tanggal 18 Juni 2011, kompetisi diikuti oleh siswa dari kelas Intermediate dan Basic. Untuk kelas Intermediate merupakan kelas perseorangan, dengan membuat produk Tiramisu sedangkan untuk Basic dilakukan secara berkelompok yaitu terdiri dari 2 orang siswa dengan membuat Black Forrest. Perlombaan dimulai jam 09.15 WIB dan berakhir di jam 12.30. Waktu yang disediakan tersebut merupakan waktu untuk persiapan hingga meja kembali bersih. “Selama ini siswa dibantu oleh guru selama proses produksi dan tidak mencuci peralatannya sendiri. Tetapi khusus untuk perlombaan ini semua harus dilakukan sendiri, agar mereka mendapat pengalaman yang berharga dan juga melatih untuk bertanggungjawab,”jelas A’Ing.
Untuk produk yang dibuat yaitu Tiramisu dan Blackforest merupakan materi yang telah dipelajari oleh siswa sebelumnya. “Dua produk yang diperlombakan merupakan jenis yang populer di Indonesia dan dilihat dari cara pembuatannya juga sudah dipahami oleh siswa. Dalam perlombaan ini juga dinilai kreativitas serta ide-ide yang segar,”jelas A’Ing. Beberapa poin yang dinilai adalah persiapan, proses produksi termasuk cara pengadukan, proses pemanggangan, dekorasi, kebersihan dan hasil akhirnya.

Di kelas Basic diikuti oleh tiga kelompok yaitu Jessica dan Dea, Irene dan Hans serta Kristy dan Nila. Sedangkan di kelas intermediate diikuti oleh Velicia, Sakina dan Fella. Masing-masing peserta tampak serius mengerjakan tiap tahap produksi baik blackforest maupun tiramisu. Para guru termasuk A’Ing berperan sebagai juri yang mengamati proses produksi dan memberikan penilaian dan juga evaluasi bagi para peserta. “Beberapa siswa yang ikut kompetisi ini mulai belajar dari sangat dasar, ada juga yang sudah memiliki pengetahuan sebelumnya. Tapi saya sangat menghargai kesungguhan mereka dalam mengikuti kompetisi ini. Beberapa hari sebelumnya mereka melakukan persiapan dan latihan khusus,”ujar A’Ing.


The Winner of 1st IPS Student Competition
Bukan hanya para guru yang member nilai, teteapi pengunjung yang terdiri dari siswa IPS, para orang tua dan media diberi kesempatan memberikan pendapat dan penilaian mengenai produk yang dibuat. Satu persatu peserta kompetisi menjelaskan produk yang dibuat, memperkenalkan nama produk dan juga keistimewaan dari produk yang dibuat. Di setiap presentasi, mereka membagikan produk yang sudah dibuat dan pengunjung berhak mengatakan pendapatnya mengenai produk yang dicicip. “Sesi presentasi adalah hal penting yang harus dialami siswa. Ini adalah salah satu bukti tanggungjawab yang dilakukan oleh siswa atas apa yang telah dibuatnya. Membuat produk roti atau pastisserie membutuhkan passion, dan hal itulah yang ingin saya tanamkan di hati masing-masing siswa di IPS ini,”ujar A’Ing.

Karena kreativitas dan telah memenuhi criteria yang telah ditetapkan maka diumumkanlah pemenang dari 1st IPS Student Competition yaitu Juara I adalah Fella (Greentea Tiramisu), Juara II Velicia (Tiramisu), Juara III Kristi dan Nela (Marble Blackforest), Juara Harapan I Sakina (Orange Tiramisu), Juara Harapan II Jessica dan Dhea ( Wild Berry Mousse & Custard Blackforest).


Para siswa yang mengikuti kompetisi juga merasa senang dengan diselenggarakannya acara tersebut. Fella mengaku bahwa ini adalah kompetisi pertama untuknya, siswa Sekolah Menangah Atas kelas 3 ini memang sangat senang membuat berbagai macam cake dan dessert. Bahkan orang tuanya juga sangat mendukung dengan memberikan kesempatan pada Fella untuk melanjutkan belajar mengenai pastry di perguruan tinggi nantinya. Begitupula Velicia yang dalam waktu dekat akan melanjutkan sekolah pastry di Perancis, sangat menikmati kompetisi yang juga menjadi pengalaman pertama untuknya. Velicia sangat percaya diri ketika harus mempresentasikan tiramisu buatannya yang sangat kuat aroma dan rasa kopinya. “Kompetisi seperti ini akan diselenggarakan dalam waktu yang berkala, agar siswa merasa terpacu selama belajar di sini,” ujar Marchella, Manager Marketing IPS.


Ruko Galeri Mediterania Blok H-8G Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara
P: (+62 21) 588 2806, 588 2807 F: (+62 21) 5596 5944
E: patisserieschool_indonesia@yahoo.com
FB: www.facebook.com/Indonesia.patisserie.school

Comments { 0 }

Indonesia Patisserie School

Learning From The Master A’ing


Sejak bulan Agustus 2010, IPS telah menerima 250 siswa yang secara aktif belajar mengenai dunia roti dan kue. Sebagai pimpinan dan konseptor kurikulum di IPS, A’ing telah mempersiapkan berbagai hal yang berkaitan dengan sistem belajar mengajar di IPS. Materi yang diajarkan juga disesuaikan dengan background dan kebutuhan dari siswa yang bersangkutan, sangat fleksibel. Misalnya jika seorang siswa ingin belajar mengenai patisserie sebagai persiapan untuk masuk ke sekolah patisserie di luar negeri, maka disiapkan pula materi yang mendukung agar siswa memiliki bekal. Demikian pula untuk siswa yang memang sudah memiliki bisnis bakery, atau cake decorating maka diajarkan pula mengenai trend serta tips melalui para staf pengajar dan A’ing sendiri dalam kelas khusus.

“Semua berawal dari hati. Gunakan hati dalam menjalangkan segala hal,”tutur A’ing yang sedang mempersiapkan IPS sebagai sebuah lembaga pendidikan yang berhak mengeluarkan sertifikat Diploma ini. Di beberapa negara yang telah dikunjunginya, A’ing mengatakan bahwa sekolah patisserie dapat diselesaikan selama 1 – 2 tahun dan sangat diminati oleh generasi muda, misalnya saja di Thailand dan Srilanka. “Sedang dalam persiapan menuju ke step berikutnya. Saya sangat bahagia ketika bisa berbagi ilmu dan pengalaman kepada orang lain,”tambahnya.


Mempunyai sikap yang suka dengan tantangan membuat A’ing tidak cepat menyerah dan selalu mencari hal-hal baru. Hal ini dibuktikan dengan materi yang diberikan di kelas, misalnya saja seperti cake decorating, A’ing harus mengikuti trend yang terjadi di Asia, Amerika atau Australia sehingga bisa mengajarkannya kepada siswanya. “Saya tidak pernah berhenti belajar. Saya masih aktif Belajar untuk menambah ilmu di beberapa Negara , untuk terus menambah wawasan saya yang pada akhirnya juga saya bagikan kepada guru dan sisiwa di IPS,”ujar A’ing.

Kesungguhan A’ing juga dibuktikan dengan kelengkapan mesin dan alat-alat di ruang praktek di Indonesia Patisserie School. “Saya memang ingin menghadirkan suasana di ruang produksi yang sebenarnya. Sehingga ketika siswa sudah terjun ke dunia produksi yang sebenarnya, ada sebuah standard yang telah bisa ditetapkan. Baik mulai dari pemilihan mesin, tata letaknya, cara penyimpanan, sanitasi hingga bagaimana presentasinya,”


Tempat Belajar Selebriti
Untuk mempersiapkan souvenir pernikahannya, Delon, penyanyi Tenor Indonesia, juga mempercayakan IPS sebagai tempat belajarnya. Membuat cookies dengan hiasan fondant yang bertuliskan nama Delon dan Yeslin wang istrinya, dilakukan Delon di sela-sela kesibukannya di dunia selebriti. “Saya ingin membuat sendiri souvenir untuk teman dan undangan yang datang ke pesta pernikahan saya. Karena saya ingin memberikan penghargaan kepada setiap yang datang dengan cookies yang saya dan Yeslin buat,”ujar Delon.


Walaupun harus menghabiskan waktu seharian di IPS, Delon masih saja semangat menghias cookies dengan fondant warna merah muda dan biru. “Bu A’ing sangat membantu saya untuk membuat cookies ini, diajarkan dengan jelas dan sampai saya bisa membuatnya sendiri,” ujar Delon.

Selain itu Delon juga membuat roti yang juga menjadi favoritnya. Tapi bentuknya yang unik sebagai lambang cintanya pada sang calon isteri. “Membuat roti ternyata tidak mudah. Saya akan belajar lagi nanti di sini untuk bisa membuat berbagai macam roti. Saya suka sekali makan roti dan bisa menjadi peluang bisnis yang menjanjikan nantinya,”jelas Delon.

Comments { 0 }

Indonesia Patisserie School

Salah satu bukti kesungguhan Indonesia Patisserie School (IPS) menjadi tempat yang nyaman untuk belajar mengenai dunia Patisserie adalah dengan tidak mengadakan tes kemampuan di awal, “Siapapun yang memiliki minat untuk belajar, kami terima dengan terbuka. Asalkan memenuhi beberapa persyaratan seperti usia minimal yaitu 10 tahun hingga usia lanjutpun bisa,”ujar Marchella, Marketing IPS. Kurikulum telah disiapkan sesuai dengan kemampuan dasar yang harus dimiliki seseorang yang belajar tentang dunia bakery. “Siswa yang telah bergabung dalam beberapa bulan terakhir juga memiliki berbagai dasar pengetahuan yang berbeda, ada yang benar-benar mulai dari nol hingga ada yang sudah ahli sekalipun. Materi yang kami berikan disesuaikan dengan kemampuan dan juga minat dari siswa sesuai dengan kurikulum yang telah disusun,”jelas Marchella.

Jam operasional IPS yang sangat fleksibel menjadi salah satu alasan yang membuat para siswa nyaman, di hari kerja yaitu Senin – Jumat kelas bisa dimulai dari jam 9.00 hingga 18.00 dan berakhir hingga siswa selesai, sedangkan di hari Sabtu, kelas dimulai antara jam 9.30 – 11.30 dan berakhir hingga siswa menyelesaikan kelasnya. “Jam operasional yang kami maksud adalah jam dimana siswa memulai kelasnya, dan kami akan melayani hingga siswa menyelesaikan kelas prakteknya. Misalnya seorang siswa masuk jam 16.00 maka kami akan melayani sampai siswa menyelesaikan resepnya kurang lebih selama 4 jam,” jelas Marchella.

Dalam beberapa bulan resmi beroperasi, IPS telah menjadi destinasi belajar bagi para pecinta dunia pastry dan juga bakery. Uniknya berbagai kultur bangsa membaur menjadi satu di ruang praktek maupun teori dan sibuk dengan berbagai kegiatan seperti menimbang, menimbang, memanggang roti dan lainnya dengan suasana yang akrab.

Ridztonia Rahmayuanisa (Riri)

Lebih banyak menghabiskan waktu di kelas teori, Riri bertugas untuk memberikan penjelasan mengenai produk yang akan dipraktekkan. “Sebelum masuk ke kelas praktek, siswa diwajibkan untuk mengikuti kelas teori. Siswa mendapat penjelasan mengenai ingredients yang akan dipakai agar memahami fungsinya. Kemudian dijelaskan pula mengenai hal-hal yang harus diketahui agar selama proses praktek siswa tidak bingung,” ujar Riri. Materi yang diberikan di kelas teori meliputi Komoditi Patisserie, Hygine & Sanitasi, Cost Control, Metode Pembuatan dan juga materi Dekorasi. Di kelas teori tiap siswa dijelaskan dengan system one on one agar penjelasannya maksimal. Rata-rata membutuhkan waktu maksimal 30 menit untuk memberi penjelasan di kelas teori.

Sakina Mohsinali

Setelah menyelesaikan pendidikan di bidang Perhotelan dan Hospitality di Malaysia, Sakina ingin memperdalam ilmu mengenai dunia patisserie. “Ketika kuliah saya mendapat berbagai macam ilmu mengenai dunia perhotelan dan sempat praktek di beberapa divisi. Saya sangat tertarik di dunia patisserie saat itu, dari 6 bulan masa praktek kerja, 2 bulan saya praktek di divisi pastry,” ujar Sakina yang berwarganegara Srilanka ini.

Memantapkan diri untuk mendaftar di IPS setelah mendapat informasi dari rekanan ayahnya, Sakina merasa sangat nyaman dan menikmati tiap pertemuan yang dilakukan. Dimulai dari kelas Basic di bulan Oktober tahun 2010, saat ini Sakina telah melanutkan di kelas Intermediate. “Saya seperti menemukan dunia yang saya cari selama ini. Membuat cookies dan aneka macam roti adalah favorit saya,”ujarnya. Kesempatan untuk belajar dengan cara praktek langsung juga memberikan pengalaman yang berharga bagi Sakina, yang sedang menyiapkan diri untuk bekerja di sebuah Hotel seperti cita-citanya. “Keberhasilan dan kegagalan dalam mempraktekkan resep yang diberikan menjadi sebuah tantangan yang menyenangkan bagi saya, para pengajar di sini juga sangat baik dan banyak membantu saya,”Sakina menjelaskan.

Dengan jadwal 2 kali pertemuan dalam satu minggu, Sakina memiliki kesempatan untuk mempraktekkan ilmu yang telah diperoleh di rumah, “Saya selalu meminta pendapat dari orang tua atau kerabat yang sedang berkunjung ke rumah, untuk mencicipi cookies atau roti yang saya buat. Dan mereka sangat menyukainya, saya semakin bersemangat untuk terus belajar,”jelas Sakina.

Grammy Arum

“Warm Chocolate Torte” adalah produk yang paling disukai oleh Grammy selama belajar di IPS. Siswa yang baru bergabung di bulan februari 2011 ini tidak memiliki pengetahuan di bidang patisserie sebelumnya, dan mempelajari semua dari awal. “Para pengajar di sini sangat membantu saya untuk mempelajari tiap resep yang diberikan, apalagi saya memulai dari yang paling awal. Hasilnya saya sekarang sudah bisa membuat sendiri beberapa resep produk yang diberikan,”ujar siswa yang telah menyelesaikan pendidikan setara SMA di usia 16 tahun ini.

Di kelas basic ini, Grammy baru menyadari minatnya membuat aneka macam dessert dan juga pastry. “Setelah diperkenalkan beberapa jenis produk, saya ingin lebih mempelajari bagaimana cara membuat pastry dan dessert, lebih menyenangkan mempelajari kedua jenis produk tersebut,” ujarnya. Kelengkapan peralatan juga merupakan salah satu fasilitas yang membuat para siswa nyaman selama kelas berlangsung, begitupula menurut pendapat Grammy yang diharuskan untuk melakukan persiapan hingga finishing secara mandiri dan dipantau oleh pengajar.

Comments { 0 }

Indonesia Patisserie School

Tidak ada kata terlambat untuk memulai belajar, begitupula dengan mempelajari lebih dalam mengenai dunia patisserie. Tidak ada batasan usia ataupun pendidikan yang telah dicapai untuk membuat seseorang mendapatkan ilmu yang ingin diraihnya. Begitupula dengan Indonesia Patiserrie School (IPS) yang memberikan peluang yang luas untuk siapapun mempelajari dunia patisserie.

Saat ini IPS telah menerima siswa dengan usia yang beragam mulai dari usia 7 tahun hingga usia lanjut. “Kurikulum kami sangat fleksibel dan disesuaikan dengan kebutuhan belajar dari siswa. Terutama pertimbangan usia dan juga pengetahuan yang sudah dimiliki sebelum masuk ke sini. Hal ini menentukan materi-materi yang akan didapat selama proses belajar ,” ujar Marchella Adikarta, Marketing IPS. Mulai dari anak-anak, remaja, ibu rumah tangga hingga para professional merupakan target sisiwa yang telah ditetapkan oleh IPS.

Berikut adalah pendapat dari beberapa siswa yang telah mengikuti program pelatihan di IPS, dengan berbagai latar belakang pendidikan dan juga usia :

Pricillia
Pricillia adalah salah satu siswa IPS yang berusia sangat muda yaitu 11 tahun. Berbagai produk seperti muffin, banana bread, cupcakes, sponge cake, dan castangle bisa dibuat Pricillia di rumah sambil mengisi waktu senggangnya. Suasana yang menyenangkan saat belajar di IPS juga dirasakan oleh gadis kecil ini. Karena kecintaannya di dunia patisserie, Pricillia telah merancang keinginannya untuk belajar lebih dalam tentang Patisserie di Perancis jika dia sudah besar nanti.

Cynthia Suwito
Perempuan muda yang telah mengenyam pendidikan selama 5 tahun di Technische Universität München Jerman ini memantapkan diri untuk bergabung dengan IPS. Dengan latar belakang pendidikan di bidang teknologi pangan, Cynthia ingin lebih mendalami dunia patisserie utuk mendukung ilmu yang telah dipelajari sebelumnya. Bergabung dengan IPS pada awal Maret dan memilih kelas Intermediate yang secara intensif dilakukan selama 2 bulan. “Saya mendapat informasi dari Mama mengenai IPS kemudian saya cari tahu melalui websitenya, dan saya sangat tertarik untuk mengikutinya, karena saya yakin saya akan mendapat banya pengetahuan secara praktek dan juga teori mengenai banyak hal yang berhubungan dengan pembuatan produk patisserie,”jelas Cynthia penuh semangat.

Cynthia menghabiskan waktu rata-rata 8 jam untuk mempelajari sebuah produk hampir di setiap harinya. “Waktu berjalan begitu cepat ketika sedang dalam kelas praktek maupun teori. Saya sangat menikmati tiap materi yang diberikan, selalu ada pengalaman baru buat saya,”ujarnya kemudian.

Velicia Wijaya
Hampir sebagian masa remajanya dihabiskan di luar Indonesia, membuat Velicia memiliki ketertarikan yang kuat untuk mempelajari dunia patisserie. Telah menyelesaikan pendidikan ilmu komunikasi di Amerika, tidak membuat Velicia berhenti untuk belajar. “Saya sangat tertarik dengan dunia patisserie. Ini bukan hanya makanan tetapi lebih dalam nilai artistiknya melalui produk yang dibuat,”jelasnya. Diwaktu senggangnya selalu disisihkan waktu untuk mencicipi berbagai dessert ataupun cake yang ada di kota tempatnya tinggal, yaitu San Fransisco dan Los Angles. “Semakin banyak yang saya lihat, semakin kuat keinginan saya untuk bisa membuatnya sendiri,”lanjutnya.

Butuh waktu yang agak panjang untuk Velicia mendapat persetujuan dari orang tuanya untuk belajar lebih dalam mengenai dunia patisserie. Hingga pada saat Velicia pulang ke Indonesia, Mamanya memberikan ijin untuk Meneruskan pendidikan patisserie di Perancis. “Saya seperti mimpi ketika mendapat ijin dari Mama. Mimpi saya jadi nyata,”ujarnya. Dalam masa persiapan keberangkatannya, Velicia bergabung dengan IPS dengan kelas Intermediete sejak desember 2010. “Saya sangat senang dengan materi yang diberikan serta pengajar yang sangat membimbing saya sampai saya bisa,”ujar Velicia. “Setelah saya belajar di IPS dengan refrensi yang diberikan dan teori dan praktek buat cake akhirnya saya diterima di sekolah pastry di Paris,” tambahnya

Max Julizar Indra
Terlahir dari keluarga yang telah menjalankan bisnis bakery khususnya dalam bidang wedding cake, membuat Max tidak canggung ketika bersentuhan dengan berbagai peralatan dan juga bahan pembuat cake di ruang produksi. Walaupun telah menyelesaikan pedidikan di bidang manajemen komunikasi, keinginan Max untuk memperluas pengetahuannya di bidang patisserie sangatlah besar. “Saya ingin memahami pekerjaan yang saya jalani, mulai dari ruang produksi sampai dengan produk tersebut dijual,”ujar Max.

Putra pemilik Libra Cake ini juga giat berlatih di rumah setelah mengikuti kelas di IPS. “Dengan banyak berlatih saya bisa mempelajari penyebab kegagalan produksi yang mungki terjadi dan dibantu oleh pengajar IPS untuk memecahkan masalah tersebut,”jelas Max. Suasana kekeluargaan juga membuat Max nyaman belajar di IPS, bukan hanya antar siswa dan pengajar tetapi juga pimpinan IPS, A’ing, yang selalu menyempatkan waktu untuk berkomunikasi dengan para siswanya. “Di sini tidak ada yang pelit ilmu, semuanya dibagikan dan tugas kita untuk mempraktekan di tempat masing-masing,”ujar Max.

Comments { 0 }

Indonesia Patisserie School, Gain The Taste Be A Master

Ruko Galeri Mediterania Blok H-8G Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara
(021- 588 2806/588 2807)

Semenjak dibukanya Indonesia Patisserie School (IPS) pada 1 Agustus 2010 yang lalu, saat ini telah terdaftar lebih 200 siswa dan sebagian telah menyelesaikan pendidikannya. Menjadi satu-satunya sekolah Pastry di Jakarta yang berkonsep satu siswa satu guru, IPS memberikan banyak kemudahan dan kenyamanan bagi siswanya untuk mendalami ilmu di bidang pastry. “Kami hadir dengan konsep yang berbeda dan sangat fleksibel. Siswa berhak memilih hari dan waktu yang sesuai dengan jadwal kegiatannya. Pendaftaran juga tidak bergantung tahun ajaran atau gelombang, siapapun dan kapanpun boleh mendaftar dan memulai belajar di sini,” ujar Marchella Adikarta, Marketing IPS.

Keinginan belajar secara professional dalam bidang pastry dibuktikan oleh para siswa IPS yang sebenarnya juga memiliki kegiatan di luar dunia pastry. “Kami mengakomodasi para ibu yang memiliki hobby membuat kue atau roti, para mahasiswa ataupun siswa dari SD – SMA yang ingin mendalami dunia pastry bahkan juga untuk para professional,” ujar Marchella. Kelas dibagi dalam beberapa kategori yaitu Coaching Class (8 kali pertemuan), Basic Class (24 kali pertemuan), Intermediate Class (48 kali pertemuan) dan Exclusive Class yang merupakan kelas khusus yang dipimpin oleh Master A’ing, pimpinan IPS.

Kurikulum Yang Komprehensif
Materi yang diberikan meliputi pengetahuan mengenai peralatan produksi, pembuatan aneka jenis produk bakery, sanitasi, dekorasi cake, penentuan anggaran dana produksi, nutrisi, pengolahan cokelat dan berbagai pengetahuan mengenai dunia bakery dalam teori dan praktek.

“Kami memberikan kebebasan sepenuhnya kepada para siswa untuk menentukan jadwal belajarnya, mulai dari hari belajar hingga waktu belajarnya,”jelas Marchella. Waktu yang disediakan adalah dari hari Senin – Sabtu dan dibagi dalam 3 pembagian waktu, yaitu kelas pagi (08.00-12.00), lalu kelas siang (14.00-17.00) dan kelas malam (18.00-21.00). Dengan sistem pengajaran satu guru untuk satu murid, siswa dapat secara maksimal mendapatkan pengajaran dari para ahlinya. “Kami memiliki 6 tenaga pengajar professional dan telah memiliki pengalaman di bidang pastry,” jelas Marchella.

Dan salah satu cara belajar yang unik di IPS adalah, setiap siswa diharuskan untuk masuk ke kelas teori yang menjelaskan secara rinci mengenai resep yang akan dipraktekkan di kelas praktek. “Saya bertugas untuk memberikan penjelasan tentang tiap bahan dan juga peralatan yang dibutuhkan sebelum siswa mempraktekkan resep yang akan dibuat. Sehingga ketika di ruang praktek siswa sudah tahu apa yang harus dilakukan,” jelas Riri, salah satu pengajar di IPS.

Salah satu pelayanan yang diberikan IPS adalah menggaransi siswa hingga berhasil membuat sebuah produk hingga berhasil. “Jika terjadi kegagalan dalam hasil akhir ketika siswa praktek, kami memberikan kesempatan kepada siswa untuk membuatnya kembali dengan gratis tanpa memotong jadwal pertemuan yang sudah ditentukan. Hal ini sudah menjadi komitmen dari IPS untuk memfasilitasi para siswa hingga berhasil membuat sebuah produk dan siap melanjutkan sebagai pebisnis maupun professional di bidang pastry,”jelas Marchella.

IPS juga bekerjasama dengan TAFE Institute Australia dalam menentukan kurikulumnya. “Kerjasama kami dengan TAFE Institute merupakan salah satu bukti bahwa kami ingin memberikan yang terbaik kepada para siswa,”jelas Marchella.

Kenyamanan Saat Belajar
Salah satu siswa yang merasakan kenyamanan belajar di IPS adalah Angeline Wijaya (25 tahun), yang terlihat aktif dalam belajar. “Hari ini saya akan belajar membuat Tiramisu. Saya sangat senang dengan metode pengajaran di IPS ini,” ujar Angel yang telah menyelesaikan pendidikan di Cordon Blue Australia ini. Dan saya di IPS ini mendapat banyak sekali yang belum pernah dapat pada waktu saya kuliah, dan di IPS ini dalam waktu singkat saya bisa membuat cake, roti dan cookies. Walaupun telah menempuh pendidikan sejenis di luar negeri, Angel merasa bahwa dirinya harus terus belajar sambil mempersiapkan diri membuka bisnis pastry yang akan segera diwujudkannya dalam waktu dekat.

Tampak pula Wulan dan Yorin yang serius belajar membuat sponge cake. Kedua siswa ini sebenarnya telah menyelesaikan pendidikannya di sebuah universitas ternama di Jakarta, tetapi masih ingin menambah ilmu di dunia pastry. “Basic pendidikan saya adalah bisnis, saya ingin menggabungkan pengetahuan saya mengenai bisnis dan ketrampilan dalam membuat aneka produk pastry. Jika memungkinkan saya ingin berbisnis di dunia pastry,”ujar Yorin.

Comments { 0 }
x
Selamat Natal 2014 dan Tahun Baru 2014
Team Bakery Magazine Mengucapkan Selamat Hari Natal 2014 dan Tahun Baru 2014.