Aroma Bakery yang Populer di Medan

Siapa yang menyangka, anak seorang Petani dari kota kecil Stabat, Langkat, Sumatera Utara, akhirnya di usia muda menjadi pengusaha bakery yang sukses dengan 54 gerai. Bahkan ke depan Suhardi, pendiri dan Pimpinan Aroma Bakery, masih terus berkiprah untuk membuka puluhan gerai bakery Aroma lagi dan merambah bisnis baru yaitu supermarket dan department store.

“Lulus SMA saya memutuskan untuk bekerja, karena saya tidak berkeinginan kuliah”, demikian Suhardi bercerita kepada Bareca Magazine saat ditemui di pertengahan November 2018 lalu. Dia bekerja di sebuah perusahaan roti kecil di kota Medan dengan gaji hanya Rp 60 ribu dan uang makan Rp 2 ribu sehari. “Saya hanya ingin belajar roti dan memulai pengalaman kerja”, demikian alasan Suhardi.

Setelah bekerja selama 6 bulan, untuk mendapatkan pendapatan yang lebih tinggi lagi, maka pada tahun 1997 Suhardi pindah ke perusahaan bakery lain yang lebih besar dan memberi dia gaji 4 kali lipat. Di sana Suhardi menunjukkan loyalitas dan ketekunan kerjanya sebagai baker yang dipercaya majikannya.

Sekitar 12 tahun dia mengabdi di perusahaan roti tersebut. “Manusia kalau ingin mendapatkan berkah harus setia dan bekerja tekun, ajaran agama saya mengajarkan demikian”, papar Suhardi.

Saat itu Suhardi sudah mulai mencoba usaha sampingan di rumahnya dengan membuat kue dan roti yang dijajakan ke kedai-kedai.”Ada waktu luang yang harus saya manfaatkan dengan baik sepulang kerja, yaitu menambah penghasilan”, jelas Suhardi. Namun keinginan untuk merubah nasib menjadi lebih baik demikian kuat, sehingga Suhardi memutuskan untuk fokus pada usahanya sepenuhnya, dan mengundurkan diri dari tempatnya bekerja.

Dengan memakai tabungannya sebanyak Rp 20 juta dan pinjaman Bank melalui jaminan rumahnya, juga Rp 20 juta, modal Rp 40 juta, dia pakai untuk menyewa kios dan membeli mesin-mesin produksi bekas pakai. Pada tahun 1998 ketika krismon mengguncang Indonesia, justru Suhardi memulai peruntungannya sebagai usahawan bakery. “Hasil keuntungan saya terus ditabung dan saya terus pakai untuk menambah kios baru menjadi 3,” kenang Suhardi.

Tahun 2010, Suhardi sudah mampu memiliki ruko pertama, dari hasil usaha plus pinjaman dari bank, di daerah Karya Jaya kota Medan. Di sana dia berhadapan dengan perusahaan bakery yang sudah terkenal sekali di Medan. Dia sudah sempat khawatir kalau usahanya bakal dilibas pesaingnya yang besar tersebut. “Rupanya Tuhan berkehendak lain, 6 bulan setelah kami buka justru mereka menutup gerainya. Ini menjadi omongan kalau Aroma Bakery mampu melawan saingan besar. Orang semakin penasaran dengan Aroma Bakery,” Suhardi tertawa.

Sejak itu usahanya melesat, dan Suhardi semakin berani untuk membeli property baru didukung pinjaman dari bank. “Itu karena bank melihat saya berkomitmen kuat,” tegas Suhardi. Dia menerapkan bahwa setiap kantong-kantong pemukiman harus ada Aroma Bakery agar masyarakat sekitar dapat dicegat dengan mampir ke gerainya daripada gerai pesaing yang ada di tengah kota.

Tak terasa setelah hampir 12 tahun berusaha, November 2018 lalu Suhardi sudah membuka 54 gerai yang tersebar di 3 Propinsi yaitu Aceh, Sumatera Utara dan Riau. Di bandara terminal Internasional di Kualanamu, Aroma Bakery merupakan gerai produk lokal yang berada di sana.

Kiat Sukses

Suhardi berfokus memilih pasar menengah ke bawah yang merupakan mayoritas pasar. Kelas atas dianggap rumit untuk dilayaninya. Selain itu dia selalu menjadi panutan bagi masyarakat. “Pelanggan melihat profil pemilik perusahaan langganannya. Kalau pengusahanya aktif di kegiatan sosial, maka mereka suka dan lebih setia,”Suhardi menjelaskan.

Tagline Aroma Bakery adalah “Makanan yang Sehat dan Halal Pasti Berkah”, dikomunikasikan ke para pelanggannya. Aroma Bakery aktif dalam kegiatan Corporate Social Responsibility. Keberhasilan Suhadi membuatnya sering diminta menjadi nara sumber seperti misalnya Festival Economic Syariah di Surabaya.

Untuk membagi tugas agar kegiatan perusahaan berjalan lancar, maka Suhardi merekrut orang-orang yang profesional di bidangnya untuk membantu operasional perusahaan agar lancar. “Sebagai pemimpin saya tidak mau terlalu masuk ke operasional, malah salah itu. Saya percayakan kepada bawahan yang lebih ahli. Mereka juga saya beri insentif agar terus semangat dan setia,” Suhardi membuka kiatnya yang lain.

Agar pelanggan setia, maka dia menerapkan sentralisasi produksi agar produk konsisten kualitasnya di semua cabang. Seluruh bahan baku yang dipakai bersertifikat Halal dan berkualitas baik. Penyelia independen penerapan standarisasi Halal memastikan proses produksi sesuai dengan standarisasi Halal dari MUI berjalan di Aroma Bakery. Seluruh produk selalu fresh dan tanpa bahan pengawet.

Selain itu dia mewajibkan karyawan melayani pelanggan sebaik mungkin, mulai dari membukakan pintu masuk gerai, lalu menyapa dengan ramah, sampai pembeli membayar di kasir dan usai berbelanja selalu disapa dengan ramah. “Ini hal yang terasa istimewa bagi masyarakat menengah bawah di Medan dilayani sebaik itu,” Suhardi bangga.

Hubungan dengan Pemasok

Selain itu untuk menjaga daya saing produknya, maka Suhardi meminta agar para pemasok mendukungnya dengan menjual bahan baku dengan harga yang kompetitif namun kualitasnya baik dan konsisten. Salah satu pemasok utama Aroma Bakery adalah PT Gandum Mas Kencana yang memasok berbagai kebutuhan bahan baku bakery, termasuk cokelat Colatta.

“Sejak saya masih jadi baker karyawan di perusahaan lain, sampai saat ini saya menjalankan usaha sendiri, saya tetap setia memakai Colatta, yang kualitasnya menurut saya premium dan dapat dipercaya konsistensinya,” Suhardi menegaskan. Hubungan dengan pemasok yang dianggap memiliki produk dan layanan bagus menjadi kunci penting untuk menjaga konsistensi produk Aroma Bakery.

Pengembangan Bisnis Ke Depan

Menurut Suhardi, bisnis itu seperti berpacu dengan waktu, karena model bisnis cepat menjadi usang. Untuk itu dia selalu berprinsip, segera mulai usaha yang baru, lalu dari sana pelajari bagaimana kunci suksesnya.

Usaha membuka penjualan daring (on-line) akan segera dilakukan dengan memulai di usaha supermarket dan department store konvensional. “Dari sana kami akan pelajari bagaimana mengembangkannya agar sukses. Usaha bakery yang sudah berjalan mungkin suatu saat membutuhkan model bisnis yang berbeda, dan kami harus bersiap dari sekarang,”demikian Suhardi menutup pembicaraan sambal tersenyum bangga.

Penulis            : Petrus Gandamana

Fotografer      : Hendri