Tugu Kunstkring Paleis, Resto Bersejarah Sejak 1914

Tugu Kunstkring Paleis berdiri pada 17 April 2013 dengan menempati sebuah gedung bersejarah di Indonesia, Bataviasche Kunstkring. Didirikan pada 17 April 1914, Bataviasche Kunstkring merupakan tempat bagi Fine Arts Circle of the Dutch East Indies (Nederlandsch-Indische Kunstkring of the Dutch East Indies).

Organisasi ini didirikan pertama kali pada 1 April 1902 di Batavia yang memiliki tujuan untuk mempromosikan kegiatan maupun rasa antuasias terhadap fine & decorative arts of Indies. “Berbagai macam lukisan kelas dunia, seperti maha karya Vincent van Gogh, Pablo Picasso, Paul Gauguin, Marc Chagall, dan sebagainya, pernah dipamerkan di sini sejak awal berdirinya,” Alwin, Floor Manager Tugu Kunstkring Paleis menjelaskan.

Sejarah mencatat, Bataviasche Kunstkring sempat beralih fungsi, seperti menjadi kantor pusat Madjlis Islam Alaa Indonesia (1942-1945) hingga Kantor Imigrasi Jakarta Pusat (1950-1997). Menghidupkan kembali napas kultural, sejarah, dan seni yang tinggi dari gedung Bataviasche Kunstkring menjadi komitmen dari Tugu Hotels & Restaurants Group dengan mendirikan Tugu Kunstkring Paleis.

Kurasi Seni dan Makanan

Tugu Kunstkring Paleis seperti sebuah kurasi seni dan makanan. Dari sisi seni, Tugu Kunstkring Paleis menjadi pusat dari art exhibitionsmaupun event lainnya yang lekat dengan sejarah dan seni bernilai tinggi. Tugu Kunstkring Paleis juga memiliki art gallery & shop di mana para tamu dapat membeli karya seni, perhiasan, produk gaya hidup, dan sebagainya. Sedangkan dari sisi makanan, Tugu Kunstkring Paleis memiliki beberapa dining venues dengan keunikannya masing-masing.

Dining venues yang ada di Tugu Kunstkring Paleis meliputi The Pangeran Diponegoro Room, Suzie Wong Lounge, Balcony Van Menteng, Gallery Dining, dan Bread & Coffee Corner. Terdapat juga Ban Lam Wine Shop & Tasting Room serta private dining room seperti Soekarno Room & Colonial Rijsttafel Room,” Alwin menuturkan.

Grand Rijsttafel Betawi at The Pangeran Diponegoro Room

Pada Pangeran Diponegoro Room, terdapat lukisan “Fall of Java” berukuran 9x4m yang menjadi center of attraction. Ruangan makan berkapasitas 85 orang ini didisain mewah dengan high ceilingdilengkapi chandeliers.

Salah satu konsep sajian yang dihadirkan di Tugu Kunstkring Paleis adalah Grand Rijsttafel Betawi; sebuah cultural dining yang terbentuk di era kolonial. Menurut Alwin, Grand Rijsttafel Betawi of Tugu Kunstkring Paleis biasanya disajikan di Pangeran Diponegoro Room. Para waiters berseragam baju tradisional Betawi era 1910, akan menyajikan beragam sajian dalam ‘pikulanpikulan’ Betawi diiringi musik tradisional ‘Ondel-Ondel Betawi’.

“Sajian Grand Rijsttafel Betawi meliputi beberapa masakan autentik Betawi, seperti Nasi Uduk, Semur Lidah Betawi, Sate Lembut Betawi, Sayur Gambas Udang, Karedok Betawi, dan beberapa pelengkap sajian lainnya. Es Selendang Mayang menjadi pilihan penutup dalam set menu Grand Rijsttafel Betawi ini,” Alwin menuturkan.

Sate Lembut Betawi & Sayur Gambas Udang

Sate Lembut Betawi disajikan seperti sate lilit, menggunakan potongan batang tebu. Cita rasa daging sapi cincang berbumbu pedas semakin khas dan legit dengan penambahan smoked shredded coconut.Sayur Gambas Udang menjadi sajian yang tak kalah istimewanya. Gambas atau oyong dimasak lembut namun masih renyah pada bagian luarnya, tersaji apik dengan udang dan irisan jamur shiitake.

Menutup percakapan, Alwin mengatakan jika Grand Rijsttafel Betawi  juga dapat disajikan untuk grup yang lebih sedikit, namun penyajiannya akan dilakukan di private room Colonial Rijsttafel Room, yang memiliki kapasitas tempat duduk sebanyak 6-8 orang.