Indischetafel: Nostalgia Indonesia-Belanda Tempo Dulu

Budaya Belanda tidak bisa terlepas dari sejarah panjang Indonesia. Selama 3,5 abad kolonialisme Belanda di Indonesia turut pula memengaruhi budaya di Indonesia. Di Era Kolonial Belanda, tidak hanya bangunan yang terbawa pengaruh Belanda, dari segi kuliner, Indonesia saat itu pun banyak dipengaruhi oleh budaya dari Belanda. Setelah melalui periode yang panjang, nuansa tempo dulu pun dibawa kembali ke masa kini oleh Indischetafel. Tidak hanya dari segi arsitektur dan interior bangunan, menu makanan utama hingga penutup pun dibuat dengan citarasa Belanda dengan racikan khas Indonesia.

Restoran di Cagar Budaya
Restoran yang terletak di Jalan Soematra, Bandung ini menempati sebuah bangunan yang juga merupakan cagar budaya kota Bandung. Bangunan yang diperkirakan berusia lebih dari satu abad ini merupakan saksi bisu perkembangan sejarah kota Bandung. Ini dipertegas dengan plat dari pemerintah kota Bandung yang terletak di pintu masuk dan bertuliskan “Bangunan Cagar Budaya Bandung”.
Alhasil, untuk memperkuat konsep tempo dulunya, Indischetafel tinggal melakukan sedikit penambahan ornamen. “Hanya kaca-kaca dan beberapa ornamen yang ditambahkan untuk memperkuat konsep restoran ini,” ujar Ahmad, Supervisor Indischetafel. Ahmad menjelaskan, Indischetafel sendiri menyewa tempat yang sebelumnya dijadikan sebagai stasiun radio ini sejak 4 tahun yang lalu.
Tidak hanya arsitektur bangunan yang berkonsep tempo dulu, interiornya didalamnya pun diisi dengan alat-alat tempo dulu. Ahmad menuturkan, desain interior yang dibuat pemilik Indischetafel ini sebisa mungkin membawa pengunjungnya untuk masuk ke ruang waktu yang berbeda. Ruang waktu yang berbeda itu diterapkan dengan membuat 4 ruang privat dengan tema tempo dulu yang berbeda-beda.

Berbagai Koleksi Sejarah
Seperti yang terlihat di ruang sains, meja makan dan bangku tempo dulu dipadukan dengan teropong dan seismograf yang sangat vintage. Di dinding dilengkapi dengan bingkai yang bergambar perjalanan sejarah Indonesia. Berbeda ketika memasuki ruangan musik, di ruangan ini berbagai macam jenis radio dan juga pemutar piringan hitam tempo dulu menghiasi interior ruangan.
Ruangan musik ini berdampingan dengan ruangan fotografi yang menyimpan berbagai macam kamera zaman dulu. “Dalam koleksi kamera Indischetafel bahkan ada satu kamera sejak zaman Soekarno dan masih bisa digunakan sampai sekarang,” jelas Ahmad sambil menunjukan kamera zaman Soekarno ini
Setelah itu baru ruang terakhir yakni ruang kolektor. Diruangan ini terdapat beberapa benda antik seperti kipas angin dan meja rias zaman dulu. Tidak hanya itu, di dinding ruangan terdapat 3 figura yang berisi koleksi kotak korek api dari zaman ke zaman. Selain keempat ruangan privat tersebut, Indischetafel juga menyediakan ruangan umum untuk walking guest. “Kapasitas seat Indischetafel kurang lebih 150 seat,” ujar Ahmad.

Andalkan Resep Yang Sudah Turun Temurun
Selaras dengan konsep restorannya, Indischetafel memberikan sajian menu Indonesia-Belanda untuk pelanggannya. “Indischetafel menyajikan kuliner Belanda dengan racikan Indonesia. Resepnya dari Oma pemilik, jadi benar-benar resep zaman dulu dan dipertahankan keotentikannya” ujar Ahmad. Seperti dalam menu Boerenkool Stampo. Sosis breatwurst dengan smoked beef bacon dan saos cream asparagus yang dipadukan dengan kentang stampot, yang merupakan warisan budaya Belanda, yakni kentang yang dibuat seperti mashed potato dan kemudian dicampur dengan aneka sayur-sayuran.
Indischetafel sendiri memiliki cookies yang khas sejak zaman belanda dulu seperti Sultana cookies yang berisi kismis dan ditaburi serbuk gula diatasnya. Ada pula cookies Chopin, yakni cookies perpaduan rasa cokelat kacang dan dicampur dengan cornflakes. Selain itu, terdapat pula Kateton atau akrab yang disebut dengan lidah kucing dengan 2 pilihan rasa, Vanilla dan Keju.
Menu penutup khas dari Indonesia pun tidak luput dari daftar menu Indischetafel. Es Serut Kacang Merah, menu penutup dan sudah akrab di masyarakat Indonesia merupakan salah satu menu pilihan di Indischetafel. Cita rasa Es Serut Kacang merah yang manis hanya disesuaikan dengan tampilannya yang lebih dipercantik. “Kalau dulu es serutnya hanya diserut saja, sekarang karena alatnya sudah semakin maju jadi es serutnya dibentuk menjadi kerucut,” ujar Ahmad.

Kacang merahnya yang digunakan pun memang yang khusus untuk dijadikan menu penutup. Menurut Ahmad, untuk es serut kacang merah ini tidak bisa digunakan kacang merah yang biasa untuk dimasak. “Kalau kacang merah buat es serut ini direbus hingga empuk dulu baru digunakan, sedangkan kacang merah untuk masak, sudah empuk jadi bila direbus lagi malah akan hancur,” jelas Ahmad.
Kehadiran Indischetafel dengan konsep restoran dan makanan Indonesia Belanda menjadikan warna tersendiri bagi kuliner di kota Bandung. Indischetafel mengajak pelanggan yang datang untuk mengingatkan kembali sejarah tempo dulu. Menu khas dari Indonesia yang dipengaruhi budaya Belanda pun menyadarkan kembali bahwa budaya kuliner Indonesia sangat kaya dan juga patut untuk dilestarikan sebagai warisan budaya nusantara.

Jln. Soematra No. 19 Bandung, Jawa Barat