Indonesia Pastry School (IPS) Master Aing Mengajar di Australia


Setelah menjalin kerjasama dengan TAFE (Technical and Further Education), Australia di awal Februari 2012, kini giliran Indonesia Pastry School (IPS) yang mengirim Master Aing untuk mengajar para murid di Australia pada 9 Agustus 2012. Pada kesempatan ini, Master Aing mengajarkan teori dan prakter resep Baked Cheesecake dan Tiramisu di hadapan 30 orang mahasiswa Australia. “Saya diminta membuat 2 resep tersebut dalam waktu 2 jam. Di sana kemampuan saya diuji mulai dari ketepatan waktu, tekstur cake dan dekorasi. Belum lagi saya hanya diberikan waktu 2 hari untuk uji coba baik bahan maupun peralatan di dapur mereka yang lebih canggih,” tutur Master Aing.

TAFE menjalin kerjasama dengan IPS setelah melihat beberapa liputan IPS di berbagai majalah dan website, mereka bahkan sempat datang untuk survey ke beberapa sekolah pastry di Indonesia. Menurut TAFE, IPS memiliki pola pengajaran yang berbeda. “Kami lebih berfokus untuk melatih murid menjadi master, sementara kurikulum mereka berfokus untuk menjadikan murid sebagai employee,” kata Master Aing. Pada awalnya, pihak TAFE sempat meragukan kualitas IPS, namun setelah mereka melihat kualitas murid-murid IPS yang melanjutkan studi di Australia, mereka menjadi semakin yakin.

Master Aing tidak perlu memusingkan materi pelajaran karena baik materi hingga resep sudah ditentukan oleh pihak TAFE. Salah satu kendala utama bagi Master Aing adalah pengoperasian peralatan baking yang terbilang lebih canggih daripada di Indonesia. “Australia terlihat sangat serius dalam berinvestasi. Untuk membeli perlengkapan 1 dapur pastry saja bisa menghabiskan dana hingga 3 juta AUS $,” jelasnya. Master Aing tidak membutuhkan waktu terlalu lama untuk membiasakan diri mengoperasikan peralatan canggih ini.

Selain peralatan, perbedaan yang paling mencolok adalah pola pikir dan cara pandang murid Australia yang berbeda dengan murid Indonesia. “Murid Australia sangat kritis terutama mengenai teknik pembuatan dan bahan-bahan yang digunakan. Di sisi lain, murid Indonesia lebih berfokus pada hasil, sebagai contoh, jika kita menggunakan suatu teknik tertentu, hasil seperti apa yang bisa mereka harapkan,” ungkap Master Aing. Selain mengajar di hadapan 30 murid, acara ini juga dipancarkan di TV Australia sehingga masyarakat Australia bisa menyaksikan kelas ini secara online.

Para murid dan pihak TAFE tampaknya cukup puas dengan cara mengajar Master Aing. Untuk ke depan, pihak TAFE berencana untuk mengundang Master Aing untuk kembali mengajar, kali ini tidak di hadapan murid, melainkan di hadapan para chef yang menjadi dosen. “Meskipun memiliki industri pastry yang relatif lebih maju, namun ternyata orang Australia masih ingin belajar dari orang Indonesia. Ini menunjukkan bahwa orang Australia memiliki niat untuk terus belajar yang sangat kuat,” tutup Master Aing.

x
Selamat Natal 2014 dan Tahun Baru 2014
Team Bakery Magazine Mengucapkan Selamat Hari Natal 2014 dan Tahun Baru 2014.