Qahwa Resto & Cafe Satu-Satunya Restoran Timur Tengah di Bandung

Jl. Progo no. 1, Bandung

Jalan Progo memiliki banyak restoran dengan desain bangunan yang unik. Namun Qahwa Resto & Café adalah salah satu yang paling menarik perhatian dengan bangunan khas Timur Tengah yang menyerupai masjid. “Kebanyakan orang menganggap Timur Tengah adalah Mesir, padahal sebenarnya luas. Mulai dari Libanon, Turki, termasuk kota Andalusia di Spanyol. Andalusia memiliki bangunan bergaya kastil Eropa namun di dalamnya memiliki ornamen-ornamen Timur Tengah,” jelas Maulana, pemilik usaha Qahwa. Setelah kagum dengan keindahan Andalusia, Maulana memutuskan untuk mengusung tema ornamen ini ke Qahwa.

Interior khas Timur Tengah terlihat dari cat interior yang semuanya dilukis dengan tangan. Salah satu pelukisnya adalah Herru Prayogo, seorang pelukis dari Yogyakarta. “Kesulitan utamanya adalah kurangnya referensi bagi para pelukis. Mereka datang dengan bentuk-bentuk piramid atau Sphinx, oleh sebab itu saya memberikan beberapa referensi yang sesuai,” jelas Maulana. Lukisan di Qahwa pun seolah bercerita. “Rencananya saya akan melengkapi suasana dengan pertunjukkan belly dance dan pertunjukkan musik khas Timur Tengah sehingga pengunjung merasa berada di luar Bandung,” ujarnya.

Qahwa sendiri berasal dari bahasa Arab yang artinya “kuat”. “Kopi awalnya ditemukan di Etiopia. Saat itu ada seorang gembala yang heran karena kambingnya tidak tidur selama 2 hari. Setelah diamati, ternyata setiap sore kambingnya memakan biji kopi,” jelas Maulana. Setelah dibawa ke Turki, istilah “Qahwa” berubah menjad “Qahve”. Ketika dibawa ke Belanda, namanya menjadi “Coffee”. “Qahwa menggunakan biji kopi buatan tangan orang Arab yang tidak bisa ditemui di tempat lain. Metode pembuatannya pun menggunakan cara tradisional, tanpa mesin kopi, dan mengandalkan aroma rempah yang kuat”.

Makanan Khas Timur Tengah
Qahwa menyajikan 75% masakan khas Timur Tengah dan 25% masakan Indonesia dan western. Maulana juga memiliki misi untuk memperkenalkan masakan TImur Tengah yang sebenarnya. “Ketika kita mendengar kata Kebab maka kita akan membayangkan makanan yang digulung roti tipis dengan filling daging. Padahal di Timur Tengah makanan itu disebut Shawarrma,” kata Maulana. Beberapa makanan lain yang menjadi andalan “Shaurbat Adas”, sup khas Libanon dan “Humus Bil Tahini”, pasta kacang Arab. Keduanya disajikan dengan roti hummus, roti khas Timur Tengah berbentuk bulat pipih untuk dicocol ke dalam kedua sup tersebut. Berbeda dengan flat bread yang identik dengan roti kawasan Timur Tengah dan India, roti hummus lebih mengembang dan teksturnya lebih lembut.

Maulana sengaja memilih Bandung karena menurutnya di kota ini belum ada restoran Timur Tengah. “Menurut saya Bandung cukup potensial karena sering dikunjungi oleh wisatawan Timur Tengah, terutama pada saat Arab Season. Komunitas penggemar makanan ini pun tidak sedikit, terutama dari wilayah Jakarta,” jelas Maulana. Optimismenya terjawab ketika banyak orang Timur Tengah dan Malaysia yang berkunjung meskipun Qahwa belum melakukan grand opening. Menurut Maulana, agar restoran ramai dikunjungi maka harus menggandeng komunitas. “Kebetulan saya aktif di berbagai komunitas mulai dari komunitas otomotif, fotografi, wanita muslimah Bandung dan dari institusi pemerintah. Ini menjadi modal utama saya untuk membangun jaringan pelanggan,” katanya.
Written by Edwin Pangestu
Photo by Murenk